Menyoal Tafsir dalam Seni dan Agama atau Mengapa Anda Perlu Memperlakukan Tuhan dan Seniman Seperti Pacar Anda

November 24, 2009 at 1:20 am | In Catatan, agama, katarsis | Leave a Comment
Tags: , , , ,

Oleh Ali Sastro a.k.a Gentole

Kalau Anda, para lelaki, tidak fasih ilmu tafsir dan semiotika, saya sarankan Anda jangan berpacaran dulu, apalagi menikah. Perempuan, dengan segala hormat kepada pembaca budiman yang hari ini kebetulan lagi PMS, adalah makhluk aneh yang diciptakan Tuhan Yang Maha Bias Jender untuk membuat kita, para lelaki, menderita. Saya tidak tahu apakah Hillary Clinton, Angela Merkel dan Megawati berada dalam kategori ini juga, tetapi konon perempuan dalam hal percintaan tidak bisa bicara dalam terang bahasa verbal yang logis dan formal. Mereka lebih memilih bahasa isyarat – sering kali non-verbal — yang memeras otak. Mereka, misalnya, sering kali mengatakan A untuk bilang B atau melakukan 4a dikali 2b untuk bilang X. Sialnya, setiap kali Anda salah tafsir, Anda bakal divonis ‘tidak pengertian’. Tuduhan ini bukan soal sepele, bung. Mereka yang sudah pernah didiemin tahu betul betapa kejamnya emotional blackmail yang dilakukan makhluk tak berjakun itu! Dan kita, para lelaki, hanya bisa pasrah; aslama, yuslimu, islamun.

Tunggu dulu. Sebelum Anda, para wanita, menggelar pledoi dan melakukan serangan balik, ketahuilah bahwa saya sebenarnya mafhum peradaban yang kita punya adalah sebuah peradaban tafsir. Manusia, tidak hanya perempuan, memang sudah terbiasa memahami A bukan sebagai A, tetapi metafora dari M, simbol dari C atau alusi dari Z. Ya, begitu. Manusia sudah kadung percaya bahwa apa yang tampak itu dangkal, dan malah artifisial, dan berfikir bahwa ‘isi’, ‘makna’ dan ‘maksud’ itu tidak pernah tampak, selamanya berada di balik yang terlihat. Kalau begitu, masalahnya di mana?

Sesekali pasang karakter anime lah

Masalahnya adalah Tuhan. Ternyata Tuhan itu seperti perempuan: tidak bicara dalam terang bahasa formal. Coba pikir. Hampir semua kitab suci agama besar – al-Qur’an, Taurat, Injil, Baghavad Gita, dst. — tidak ada yang berdiri sendiri; selalu ada kitab lain atau buku tafsir yang menjelaskan apa yang hendak mereka katakan, seolah kitab suci itu retarded dan tidak bisa bicara sendiri. Orang Yahudi membaca Mishnah untuk memahami Taurat. Orang Kristen membaca korespondensi bapak-bapak Gereja untuk memahami Injil dan kitab-kitab Perjanjian Lama. Orang Islam membaca ribuan hadist dan juga kitab tafsir untuk memahami al-Qur’an, yang sebenarnya sudah memproklamirkan dirinya sebagai ‘terang-benderang’. Entah sudah berapa buku ditulis untuk ‘menggantikan’ kitab-kitab langit itu. Menurut saya ini problematik. Di satu sisi saya berfikir Tuhan mestinya bicara lurus; tidak ambigus maknanya; tidak mengandung ketaksaan yang melelahkan. Tetapi, di sisi lain, manusia memang tidak pernah puas dengan teks sebagaimana adanya ia. Mengapa bangsa Israel melakukan eksodus dan luntang-lantung sampai akhirnya sampai ke tanah yang dijanjikan? Mengapa Nabi Yesus Kristus disalib? Mengapa Nabi Ibrahim dipaksa untuk menyembelih Ismail/Ishaq? Mengapa umat Islam melaksanakan ibadah haji? Mengapa dalam tradisi Islam Tuhan memilih 99 nama? Kenapa tidak 37 atau 76 saja? Apa maksud 99?

Pada tahun 1960-an di Amerika sana, kritikus seni Susan Sontag – seorang perempuan muda yang bening – menulis sebuah esai berjudul: Against Interpretation. Menurut Ibu Susan, seni mesti dibebaskan dari tafsir, karena tafsir ini seringkali seperti melecehkan seni itu sendiri, seolah seni yang tampak di mata itu hanya topeng saja, atau tidak penting, sehingga perlu digantikan dengan apa yang bukan dirinya, yang disebut sebagai penafsiran atasnya. Mengapa kita tidak menerima seni sebagaimana adanya saja? Atau dalam bahasa Ibu Susan:…to show how it is what it is, even that it is what it is, rather than to show what it means. Dalam berkesenian, saya setuju 100 persen sama Ibu Susan, manusia mesti melihat sebuah karya sebagaimana adanya dan tidak perlu berupaya untuk mencari-cari artinya. Karena melakukan itu melelahkan. Dan belum pasti pas juga. Dan lagian, bagi sebuah karya seni — apakah itu novel, lukisan, lagu, puisi –, tafsir adalah tiran. Nah, pertanyaannya adalah, apakah kita perlu memperlakukan kitab suci sebagai karya seni atau karya sastra juga?

Tidak ada kitab suci yang tidak sastrawi. Kitab suci semuanya doyan metafora, doyan alusi, doyan alegori. Dan tidak ada kitab suci yang tidak kontroversial. Keindahan sastrawi dari berbagai dongeng dan juga syair-syair apokaliptik yang ada dalam kitab suci hadir di tengah berbagai gagasan yang tidak selaras dengan akal sehat dan jiwa zaman. Dalam kondisi seperti itu, wajar bila manusia menginginkan ‘penafsiran’ yang sesuai. Atau lebih buruk lagi, penafsiran dan sistematisasi – biar mudah dipahami. Dus, ribuan buku ditulis untuk menafsirkan kitab suci yang sukar itu. Dan yang terjadi adalah? Orang semakin tidak mengerti; semakin bingung. Saat ini kitab suci ibarat pembicara yang tidak didengarkan dalam sebuah seminar yang berisik, yang dihadiri oleh orang besar kepala yang merasa lebih tau dari sang pembicara yang malang itu. Mengapa tidak kita biarkan kitab suci sebagaimana adanya saja tanpa penafsiran? Mengapa harus ada tafsir?

Pada abad ke-7 di jazirah Arab, Nabi Muhammad dilaporkan pernah berkata: “Sesungguhnya di antara kamu ada seorang yang berperang atas penafsiran al-Qur’an sebagaimana aku berperang atas penurunan al-Qur’an”. Para sahabat pun mengangkat pandangan untuk melihat siapa orang yang dimaksud. Dan di antara mereka ada Abu Bakar dan ‘Umar. Kemudian beliau berkata  “Bukan, akan tetapi dia adalah pengesol sandal, ‘Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu”. (Yang berminat untuk lebih lanjut mengetahui status hadist ini dan berbagai kontroversinya silahkan berkunjung ke sini dan sini.)

Mahakarya sastra itu disebut al-Qur’an. Ditulis pada abad ke-7 setelah Yesus Putra Maryam dilahirkan Betlehem. Tidak seperti al-Kitab bangsa Yahudi yang ditulis selama ratusan tahun, al-Qur’an ditulis kurang dari 23 tahun dan dikodifikasikan kurang dari  seabad kemudian. Juga tidak seperti kitab-kitab lainnya, al-Qur’an ‘sadar’ bahwa kitab-kitab terdahulu sudah dibajak oleh para penafsir. Karena itu, apabila hadist yang saya kutip itu valid, Nabi Muhammad merasa perlu mengumumkan kewenangan Ali Bin Abi Thalib dalam menafsirkan al-Qur’an. Seperti Susan Sontag yang berperang lewat esainya untuk melawan segala penafsiran atas karya seni, Ali berperang lewat pena dan pedangnya untuk melawan penafsiran yang salah atas al-Qur’an. Kisah Ali menurut saya menggarisbawahi persoalan pelik yang dihadapi oleh semua agama, tidak cuma Islam. Kita ditanya. Siapa yang berhak menafsir? Mengapa tafsir A valid dan B tidak? Dalam tradisi Katolik, Paus dipercaya sebagai penafsir al-Kitab yang sah. Karena itu, dalam pandangan ulama Katolik, renungan teolog Protestan tidak dijamin keabsahannya, apalagi yang rada liberal seperti Bapak Karl Barth dan N.T. Wright. Dalam pandangan Syi’ah, Allah menjaga tafsir al-Qur’an melalui para imam dalam garis ahlul-bait, sementara dalam tradisi Katolik, Allah/Roh Kudus menjaga tafsir al-Kitab melalui bapak-bapak gereja dalam rantai kepausan. Apakah ini menyeselaikan persoalan? Tidak. Menurut saya tidak. Seperti halnya dalam Sunni dan Protestan, dalam Gereja Katolik dan Syiah pun ada sub-sub tafsir yang tidak seragam kalau bukan subversif. Jadinya?

Hayo ini bacaanya apa?

Ya tidak ada penyelesaian yang komprehensif. Bagaimana pun tafsir itu ibarat labirin; selalu ada penafsiran atas penafsiran. Apabila Anda tidak punya cukup waktu untuk mendedikasikan seluruh hidup Anda untuk mempelajari kitab suci – kecuali liqo sepekan sekali atau menyaksikan 30 menit kuliah subuh di televisi – jangan harap Anda bisa mendapatkan tafsir yang dijamin benar. Karena itu, mungkin Anda perlu memikirkan apa kata Ibu Susan Sontag; tafsir itu bisa jadi tiran dan melecehkan teks. Dan apabila teks itu kitab suci, penafsiran bisa melecehkan kitab suci. Kenapa tidak kita biarkan saja kitab suci itu berbicara. Tidak usah ditafsir jauh-jauh. Kalau tidak mengerti ya sudah. Itu rahasia Tuhan. Saya bukannya menyarankan agar Anda membaca kitab suci secara harfiah; memaknai sebuah kata berdasarkan fakta bahasa yang beredar pada masa Anda hidup. Yang saya maksud adalah membiarkan kitab suci itu pada wujud lahiriahnya; pada bunyinya, pada gaya tulisannya, pada diksinya. Soalnya begini. Di samping kosan saya ada musola yang selalu nyetel murottal. Indah sekali. Apalagi surat-surat dari juz 29 dan 30. Saya tidak berusaha untuk memahaminya. Saya hanya merasakannya saja. Dan ternyata bunyi al-Qur’an mengingatkan saya kepada Tuhan; membuat saya merasa dekat dalam keabstrakanNya. Tuhan memang tidak harus dipaksa untuk berbicara dalam terang bahasa formal, seperti pacar saya yang manja itu, yang sering kali bicara lewat gestur yang prone to misinterpretation. Kalau dipikir-pikir, saya memang tidak selalu mengerti apa yang dikatakan Tuhan dan pacar saya, tetapi toh saya masih senang mendengarkan mereka berbicara. Seperti melihat lukisan atau membaca puisi yang indah. Dinikmati saja. Keindahan adalah keindahan. Tidak perlu ditafsir. Tidak perlu bertanya pada si pelukis: ‘ini maksudnya apa ya mas?’ Hey, jangan remehkan keindahan. Kata Imam Tertinggi Gereja Roma: beauty leads to God.

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.