Oh, Batu, Langit!

January 27, 2012 at 11:09 pm | Posted in katarsis, Uncategorized | 5 Comments
Tags: ,

Allen Ginsberg bertanya begini:

“After All, What Else Is There To Say?” 

Oh, batu, langit — mau bilang apalagi, bung? Perasaan tidak begitu saja meleleh jadi puisi. Kalo Ginsberg yang brilian aja buntu, apalagi saya — ngapdet blog aja kagak becus! Sudah habis kata. Kecuali bahwa kewarasan ini kian membosankan: usia dan ‘keharusan menjadi dewasa’ dan norma alias keharusan sosial dan urbanisasi dan kapitalisme teknologi yang merajalela sudah jadi tabir yang menyisihkan dua mata ini dari segala keajaiban dunia. Oh, batu, langit — apakah gerangan? Perasaan tidak begitu saja meleleh jadi puisi. Pada akhirnya saya pun duduk di depan layar sebuah komputer jinjing; tidak mampu menuliskan pikiran yang begitu cerewet seperti ocehan perempuan jalang di jalan-jalan Jakarta; tidak ada langit yang menampakkan dirinya di dalam rumah ini, tidak ada sajak-sajak yang mewartakan kebenaran — perasaan ini tidak akan pernah meleleh jadi puisi yang tidak akan pernah saya tulis dan tidak akan pernah ada artinya buat orang lain.

When I sit before a paper
___writing my mind turns
in a kind of feminine
_____madness of chatter;
but to think to see, outside,
in a tenement the walls
_____of the universe itself
I wait: wait till the sky
_____appears as it is,
wait for a moment when
_____the poem itself
is my way of speaking out, not
_____declaiming of celebrating, yet,
but telling the truth.

New York, Early 1949

Next Page »

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers