Orang Seperti Saya Ini Mestinya Tidak Mendengarkan The Smiths

May 18, 2010 at 3:12 am | Posted in apresiasi, curhat, katarsis, Uncategorized | 33 Comments
Tags: ,

The Smiths

Orang seperti saya ini baiknya tidak mendengarkan The Smiths. I was happy in the haze of a drunken hour/But heaven knows I’m miserable now/I was looking for a job, and then I found a job/And heaven knows I’m miserable now. Haha. Khusuk sekali saya dengan The Smiths ini. Musiknya yang kerasa di hati, liriknya yang vulgar menyingkap keterasingan dan duka-lara orang kebanyakan yang selama hidupnya dipecundangi nasib. Katanya, Oh, why do I give valuable time/To people who don’t care if I live or die? Atau Why do I smile/At people who I’d much rather kick in the eye? Lagu-lagu the Smiths mengingatkan saya pada tokoh-tokoh dalam cerpen Pamusuk Eneste yang berjudul Orang-orang Terasing. Kita semua terpenjara dalam dunia privat kita. Dan dalam dunia itu kadang kita mengutuk orang lain, kadang mencaci diri sendiri. Atau, pada satu hari yang sial, meratapi nasib sebagai pesakitan — merana menjadi manusia soutterain. Morrisey betul. We Hate It When Our Friends Become Successful. Irihati boleh disebut imoral. Tetapi, apapun itu, ini fakta kehidupan. Kita membenci mereka. Mereka, kawan sekelas yang selalu rengking satu. Mereka, kawan sekelas yang rupawan dan populer. Mereka, kawan sekelas yang sepatu dan tasnya tak bisa kita beli. Mereka, kawan seangkatan yang sudah punya rumah sendiri. Mereka, rekan kerja yang mencintai pekerjaannya. Mereka, orang lain yang tidak kita kenal yang sedang ketawa-ketiwi di Kafe Olala Sarinah. Oh, ingin sekali rasanya saya menghampiri meja makan mereka agar bisa menatap dalam-dalam wajah-wajah yang seperti tidak pernah mengenal sakit itu! Sial. Tremolo dalam lagu Please, Please, Please, Let Me Get What I Want hampir saja membuat saya menangis. Di lagu ini, melodi tremolo  itu memancarkan sekaligus melankoli dan pengharapan. Dan ini membuat hidup semakin melankolik; saya membayangkan seorang abid yang jadi gila karena rindu berat pada dewata dalam sajak-sajaknya Rumi. Tetapi ini lagu bukan tentang Tuhan, meskipun Tuhan disebut di dalamnya. Ini lagu tentang manusia yang diberi hasrat untuk bebas dalam belenggu nasib: Kata Morrisey singkat: Haven’t had a dream in a long time. See, the life I’ve had can make a good man bad.

Orang seperti saya ini mestinya tidak mendengarkan The Smiths. Tapi sudah terlanjur. Orang bisa bilang Morrisey tidak serius. Dan mestinya saya tidak perlu menanggapi lagu yang ditulisnya secara serius juga. Tapi sudah terlanjur. Sudah terlanjur. Ah, maafkan post yang menebar perasaan depresi ini lagi. Mari kita dengarkan lagu cinta dari Queen yang segalanya serba romantik saja, In Only Seven Days. Denger di Youtube saja.

Advertisements

33 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. orang seperti saya mestinya tak hanya mendengarkan jejepangan saya…
    *ngeloyor*

  2. @mizzy: yah mungkin kudu nyoba jejepangan juga.

  3. Benci diri sendiri,yang jelek dan miskin.
    atw,menuntut tuhan yang gak adil..!
    Atau pasrah and ikhlas, cukup ngedumel dalam hati.

  4. Halo Gen, pa kabar?
    .
    Guess who? Wkwkwkwk…

  5. Orang seperti saya mestinya tidak membaca postingan ini. *masih ada kartu anggota aliran Gentoleisme di saku*

  6. […] di masa depan, dan sekeras mungkin berusaha, insya Allah tidak akan sekelam kehidupan senior yang [ ini ] jika saya ditakdirkan masih hidup hingga usia […]

  7. Orang Seperti Saya Ini Mestinya Tidak Mendengarkan The Smiths…
    😆
    Orang seperti apa, Gen?
    .
    Apa yang semestinya kita dengar, dan apa yang tidak? Kau tak bisa menolak kenyataan ketika (kalau aku tak salah) Ustadz Geddoe datang mengenalkan The Smiths, atau seperti salah satu komentator di atas itu, yang nge-ping-floyd dari blognya, tak bisa tidak mengenal sepongbob, meski kalian bisa sama-sama memilih untuk menikmatinya atau pun tidak. Tapi ada intuisi(?) yang tak bisa dilawan, rasa penasaran yang tak bisa dibebaskan untuk mencari tahu, bukan begitu? Dan itu yang menyebalkan sekaligus unik dari hidup: Kita diberi kebebasan untuk menjadi sekaligus tidak sama sekali 😆
    .
    Mengikuti komentar Sora Sembilan di postingan sebelum ini, dan Aris Esensianto di postingan sebelumnya juga + postingan ini: tulislah kesintingan yang memuncak di dalam benak, sebelum usia jadi rayap bikin memori dan kepekaan menjadi lindap.
    .
    Tapi… hehehehe… cerialah sikit. Kita kan sudah sama-sama lewat usia 27 tahun *eh?* 😆
    .
    Lagian siapa bilang jadi (nyaris) sempurna itu enak?

    Kita membenci mereka. Mereka, kawan sekelas yang selalu rengking satu.

    Aku ranking satu dari SD sampai SMA, Gen. Dan posisi yang didewakan oleh guru serta mayoritas orang tua itu tidak enak sama sekali. Sangat tidak enak, apalagi jika kau jadi bandingan seolah tanpa cacat-cela, “Lihat dia… dia blablabla… kau itu tidak… kerjamu blablabla…otakmu itu tralalatrilili…” kata seorang bapak dahulu kala.
    .
    Dia tak sadar, membandingkan begitu rupa bikin si ranking satu nyaris kehilangan kawan, lalu membengal-bengalkan diri agar sama bangsatnya dengan si bangsat ranking 39. Tak ada yg sempurna dalam hidup, tidak Morrisey dan The Smiths sekalipun. Kita hidup dalam masyarakat yg akan selalu memaksa kita berlomba untuk mencapai tahap sempurna umpama para abid bersaing mencapai makrifat dalam keyakinan agama. Yang sempurna cuma mayat, karena prosesnya sudah sempurna kembali ke liang ibu pertiwi 😆
    .
    PS: Kasihani sikitlah bocah-bocah abegeh™ macam yg nge-pingfloyd di atas itu. Ada yang sampe ngadu-ngadu di tembok fesbukku, katanya kembaran se-Aries makin suram, makin kelam, bikin dia punya semangat hidup seperti padam. Kubilang, tidak semua blog mesti jadi seperti Golden Ways-nya Mario Teguh yang superb™ itu 😆
    .
    Tapi… Vitalitas, Gen. Sepertinya emang ada yang makin padam ini. Bolehlah mengutip pidato basi yang mungkin kau tahu:

    “Wahyu dan wahyu ada dua. Tidak tiap yang menggetarkan kalbu, wahyu yang sebenarnya. Kita musti bisa menimbang, memilih, mengupas dan kadang-kadang sama sekali membuangnya.
    Ida! Vitalisme!
    Tenaga hidup! Api hidup!
    ….
    Tiap seniman harus seorang perintis jalan, Adik. Penuh keberanian, penuh tenaga hidup. Jadi perasaan dalam hidup, di kilat surya, dengan ketawa gembira, karena kita penih api kerja…”

    Begitu kata pidato Gedung Penerangan Jepang jaman Kenpetai oleh seorang yg sudah jadi tanah di TPU Karet. Entah berefek padamu atau tidak, manalah kutahu :mrgreen: Tapi, tidak semua yang mengganggu kepala seperti The Smiths dan Morrisey celaka itu, bisa diterima untuk jadi kecoak di dalam benak. Ada kalanya mesti ditendang ke Tempat Pembuangan Sampah. Atau sudah… di blog ini sendiri? :mrgreen:
    Entahlah…
    *lirik Aris Susanti* 🙄

  8. Koreksi: Penih = penuh.
    Typo… 😆

    *magriban*

  9. Jadi bertanya, beruntungkah saya yang gagal save hasil download-an lagu-lagu The Smith di memory external ;D Ah tapi saya kan udah keburu jatuh cinta dengan Morrissey….

  10. @ Alex®

    Aku ranking satu dari SD sampai SMA, Gen.


     
    .
    .
    .
    *orang jelata dan marginal™ seperti saya mustinya tidak baca komentar seperti ini*

  11. @ibeng: kan ada blog, jadi ngedumel rame2. 😀
    .
    @astrald rain:Ary! Nulis yang banyak.
    .
    @esensi:Konon kata orang untuk bisa mersakan terang, kita harus tahu betul apa itu gelap. Dan untuk merasakan cerah, harus mengerti betul apa itu kelam.
    .
    @alex:Haha, wah, ternyata you’re not one of us! :mrgreen: Yah, selama hidup saya ini saya gak pernah rengking 10 besar. Prestasi terbesar saya malah rengking 59 dari 61 siswa. Yeeee! Soal vitalitas hidup. Ini menurutku proses alamiah yang tidak bisa dihindari. Saya kan nggak setiap hari dan setiap bulan kayak begini juga. Kalo suntuk yah saya main atuh; bisa ke perpustakaan, nyari DVD, main biola, atau gitar, atau piano. Atau baca puisi! Hidup itu memang kelam toh? Kenapa harus mengelak dari kenyataan itu?
    .
    @tangerine:Neng, kamu gak cocok dengerin The Smiths.
    .
    @aris lagi:Haha, ternyata Alex bagian dari elit! :mrgreen:

  12. mau numpang nyanyi sebentar… 😎

    Is this the real life?
    Is this just fantasy?
    Caught in a landslide
    No escape from reality
    Open your eyes… See More
    Look up to the skies and see
    I’m just a poor boy (Poor boy)
    I need no sympathy
    Because I’m easy come, easy go
    Little high, little low
    Any way the wind blows
    Doesn’t really matter to me, to me

    –Bohemian Rhapsody, Queen–

  13. @Gentole
    Banyak-banyaklah antum mendengarkan lagu religi, supaya hidup antum tidak berkesusahan 🙂 *ditendang*

    *OOT*

    @Kang Zeph
    Kok blognya dihapus? 😐

  14. @ lambrtz

    Banyak-banyaklah antum mendengarkan lagu religi, supaya hidup antum […]

    “Antum” itu kata ganti kedua jamak, situ kan nunjuknya ke satu orang, mustinya pakai kata “Anta”, atau “Ente”.
    .
    .
    .
    *jadipolisibahasalagi*
    *masihstress*
    😐

  15. @Lambrtz

    ga di hapus, tadi cuma ga log in, tenang saja… 😎

  16. @zeph: ah, thanks.
    @lambrtz: the smiths itu lagu religi.
    @aris: siapa bilang saya ini satu orang?

  17. ^
    O iyyya, lupa, 😮 Di YM kan Anda dulu pernah bilang, kalau Anda itu…
    .
    .
    .
    *kembali nyari sarapan*

  18. Wah mau banting setir jadi jurnalis di Rolling Stone Indonesia? (Atau Pitchfork Media?) Gayanya kok mirip banget yah. :mrgreen:

  19. Berbahagialah saya, pernah rengking satu sampai 31…

  20. Hmmm… The Hush Sound aja deh. 😆

  21. @ Amd

    Berbahagialah saya, pernah rengking satu sampai 31…

    Kalau saya sih, masa-masa gemilang itu SD dan SMA, nah SMP (semester 3 sampai 6), anjlok semua :mrgreen:

  22. @ Aris

    *orang jelata dan marginal™ seperti saya mustinya tidak baca komentar seperti ini*

    😆

    Kau mengharapkan hidup dalam dunia homogen dimana semua ranking 1 belaka atau 31 belaka? Dunia macam itu seperti dunia 1 warna: membosankan. Dan ranking-rankingan itu cuma seperti stempel cap pos saja sebenarnya: dibentuk oleh sistem, bukan oleh keinginan diri. Meski kemudian menjadi dorongan bawah sadar pada murid dan orang tua + guru-guru 😀
    Kau tahu kau gelap, karena ada orang lain hidup lampu. Kau tahu kau marah, karena ada orang lain bersuka. Manusia adalah cermin bagi manusia lainnya. Sia-sia menutup mata :mrgreen:

    @ Gentole

    Haha, wah, ternyata you’re not one of us! :mrgreen:

    Mungkin saja 😆
    Tapi pada dasarnya kita sama belaka: Yang membuat kita merasa hidup itu suram atau indah, bukanlah fakta hidup saja, tapi juga sebentuk bubur di dalam benak yang diberi nama otak (tambah hati, yang tak pernah ada posisi pasti di dalam raga, apa sebelah jantung ataukah limpa).

    Yah, selama hidup saya ini saya gak pernah rengking 10 besar. Prestasi terbesar saya malah rengking 59 dari 61 siswa. Yeeee!

    😆
    Menjadi ranking 1 itu juga tidak selalu membanggakan bagi yang bersangkutan. Adik kelasku sampai depresi karena mendapat kutukan yang sama: ranking 1 melulu. Ada selalu timbal-balik dari sebuah keberuntungan, misalnya, dengan menjadi ranking 1 akan selalu dituntut mesti rapi lah, baik lah, utusan sekolah lah, mesti memenangkan ini dan itu, dan jadi tolok ukur yang membebani jiwa. Maka bukan hal aneh jika yang gemilang di awal hancur di akhir. Aku drop-out di kampus. Juniorku? Mati muda digulung ombak sebelum cita-cita ibu-bapaknya yang menggadang-gadangkannya jadi ORANG tercapai. Dan kebanyakan orang yang runtuh di awal kini berjaya sampai ke luar negeri. Ada yang langganan dipermalukan di tiang upacara sampai pulang sekolah dengan menghormat bendera, dan kini menjadi satu dari para mantan kunyuk yang sukses tanpa nilai-nilai muluk. Siklus hidup, rotasi keberuntungan dalam perjudian nasib saja 😀

    Soal vitalitas hidup. Ini menurutku proses alamiah yang tidak bisa dihindari.

    Benar 😀

    Saya kan nggak setiap hari dan setiap bulan kayak begini juga. Kalo suntuk yah saya main atuh; bisa ke perpustakaan, nyari DVD, main biola, atau gitar, atau piano. Atau baca puisi!

    Maka itu ku-reply juga keluhan anak muda yang mengaku punya kartu anggota Gentoleisme itu di wall-ku: Biarkan saja! 😆

    Hidup itu memang kelam toh? Kenapa harus mengelak dari kenyataan itu?

    Tidak selamanya. Mungkin ini utopia, mungkin ini juga apologia. Hidup memang tak pasti. Kita bahkan tak tahu seperti apa “hidup kita” sebelum keluar dari liang rahim ibunda. Kita juga tak tahu seperti apa nanti selepas keluar dari liang kuburan kalau memang Hari Kebangkitan Nasional paska kiamat itu ada. Tapi ada atau tidak, hidup tetap saja berlalu dan memberi ruang untuk gelak-gelak. Untuk itu ada musik, ada sastra, ada lukisan, ada hal-hal yang menyenangkan, ada pacar yang tangan bisa digandeng dan bibirnya bisa dicipok. Hidup memang tidak memberi akhir apa-apa secara pasti, minimalnya seperti term of service layanan jasa komunikasi; tapi resiko dari sebuah gelanggang permainan dimana Tuhan konon menonton skenario-Nya, adalah tetap bermain atau keluar/dikeluarkan: tak ada pilihan di bangku cadangan bukan? :mrgreen:
    .
    Ah, aku sendiri melihat ini cuma sebagai kontemplasi yang… hehehe… beberapa komplen “kian suram” saja… Rotasi, roda pedati, kau tiba saat gembira, mungkin aku pula yang kan muram mencaci-maki 😆
    .
    PS: Tapi sebagai orang yang agak-agak seperti Wali, kasihanlah sama murid™ seperti Sunan Esensi itu, Maulana Malik Gentole. Masa dia sampai insap kalau Nickleodeon ada kartun bernama Sepong Bob 😆

    *ngeluyur*

  23. hallo, anak manis, apa kabar?
    .
    Ya, agar u lebih bersemangat untuk hidup dan untuk tidak putus asa, jadi bila mana u berdoa ingatlah diri u seakan-akan mati besok dan bila u bekerja jangan sekali-kali untuk pupus hidup.
    .
    Karena semakin u dewasa semakin berat beban yang akan u terima. Maka dari sekian banyak peristiwa (kata) pelajari dan jabarkanlah akan arti kehidupan karena dari situlah u akan bisa dihargai orang. (…) Dan mungkin juga bahagia.
    .
    Saya telah dewasa,jadi jarang lagi ngedumel (ngeblog), karena lebih bisa menahan, mengantisipasi segala yang menggangu hati dan pokoknya dah dewasa deh…
    .
    Oya, menurut mbah Milan Kundera, ada yang lebih baik dari cinta; kemanusiaan. Dah baca Immorality? (Out of Topic) 🙂
    Atau Metastases of Enjoyment ; on women and causality oleh Slavoz Zizek, buku ini bagus untuk kita belajar mengumpat. Tapi lebih baik kita baca Alquran dan hadis saja
    .
    Salam

  24. @aris: nah, kan?
    .
    @geddoe: haha, sial disamain rolling stones lg.
    .
    @amd: wah. benar? kenapa bisa begitu?
    .
    @asop: belum pernah denger.
    .
    @alex: hahaha i know how you feel. sebenernya saya pernah juga sih jadi orang yang berprestasi. *halah* tapi lebih sering jadi orang marjinal yang memarjinalkan diri sendiri.
    .
    @tris bin sae: iya mbak yang manis. diterima nasehatnya. sebenarnya saya ada rencana ke hong kong. tapi gak jadi.

  25. Tapi lagu please please itu berlebihan banget, gentole.

    “so please, please, please, let me… let me get what I want this time/ lord knows it would be the first time”

    Berlebihan kan?

  26. @anandaayu: namanya didramatisir, non. fine by me lah itu.

  27. hihihi, mungkin mereka sengaja kali yaah si morrisey ini. daripada depresi sendiri, mending depresi massal.. and they got you!

  28. ^ iya betul ka; fanfare for the common man ini. 😛

  29. Hey, actually it takes my (a lot of) interest here, see something what you posted. 🙂
    A Pleasure to know ya.

  30. Orang seperti saya ini mestinya tidak membaca George Orwell… 😦

    Blognya keren, bung!

  31. @nkd: terlambat dua tahun. saya gak yakin dirimu ini spam atau bukan. 😛
    @bonekarusia: kenapa dengan orwell?

  32. …miserable… yet rebellious… heuheu…

  33. SMITH? I Love THE SMITH *amnesia malah jadi SUMMER


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: