Musisi Indie Lokal Kurang Bajingan. Ini Alasan Ahmad Dhani Itu Lebih Otentik dari Kebanyakan Musisi Indie Yang Lo Banggain

May 17, 2015 at 3:07 pm | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , , , , ,

Kalo lo tanya kenapa gue benci Homicide (dan musik mereka yang dianggap intelek, asli, radikal, serius, pilosopis, subversip, dan seterusnya, dan seterusnya), bahkan sebelum gue denger musik mereka, gue akan bilang jawabannya sama kalo lo tanya kenapa gue lebih punya rispek buat Ahmad Dhani ketimbang Ridwan Kamil. No, seriously, lo gak salah denger, Ahmad Dhani itu jauh lebih tidak menyebalkan dari Ridwan Kamil. Bukan, ini bukan karena Dhani itu gila perempuan dan Kang Emil hidup bahagia dengan foto-foto instragam kehidupan pernikahannya yang udah jadi bahan inspirasi dan khayalan mereka yang kepingin hidup sukses dan bahagia. Tapi karena Dhani itu salah satu musisi yang gue anggep paling asli, bahkan lebih asli dari hampir semua musisi indie yang lo bangga-banggain.

dhani

Musuh bersama.

Bisa jadi ini karena gue norak dan selera musik gue katrok. Tapi sebetulnya masalahnya bukan musik. Masalahnya adalah humblebrag. Dan ini, perlu gue tegasin, masalah persepsi aja. Lah, gue mau bilang apa? Gue sama sekali gak kenal secara personal sama Dhani dan Kang Emil. Cuma tau di Internet, dan apa yang orang tulis tentang mereka. Kalo Emil abang gue, atau temen gue dari jaman SD, tentu aja kesannya bakal lain. Judul ini tulisan bisa berbalik 180 derajat. Pasti dia gue belain mati-matian. Tapi, gue jelasin dulu konsep humblebrag yang ada di kepala gue. Ini konsep yang agak kabur dan lumayan bermasalah emang, tapi lumayan membantu untuk bikin jelas argumen gue kenapa Dhani itu bisa dibilang anti-tesisnya orang-orang semacam Ridwan Kamil, Piyu Padi, Ucok Homicide dan Cholil ERK (Ridwan Kamil itu walikota, bukan musisi, I know, tapi, udah ikutin ajalah).

Humblebrag itu pada dasarnya adalah fake humility—sebuah frase yang sebetulnya adalah oksimoron. Lo gak bisa being humble dan bragging pada saat yang bersamaan. Secara bahasa, ini kayaknya gak mungkin. Tapi buat persepsi manusia yang sejatinya plastik, apa sih yang gak mungkin? ISIS aja pendukungnya banyak di mari. Dalam penggunaan kolokial, label humblebrag itu biasanya dituduhkan buat mereka yang jelas-jelas sukses tapi mengeluh tentang betapa tidak atau kurang suksesnya mereka—keluhan sebagai samaran buat pamer. Misalnya, “bajingan, nilai UAN fisika gua cuma 90, padahal gue udah mati-matian belajar!!” Bisa jadi keluhan kampret kayak gini ini tulus adanya. Bisa jadi ini orang 100 persen kesel cuma dapet 90 dan yakin bisa dapet nilai 100, tapi 99 persen pembaca orang Indonesia yang kalo ulangan fisika cuma bisa garuk kepala bakal menganggap keluhan itu sebagai humblebrag.  Tapi ya ini persepsi publik. Dan gue gak punya masalah dengan humblebrag semacam ini. Karena, ini humblrebrag-nya terlalu eksplisit, begitu eksplisit gue pikir ini gak termasuk humblebrag. Ini orang emang mau pamer aja. Mungkin kepengen ironis aja. Atau kepengen sarkas dengan cara yang aneh atau apa. Atau, emang dia betul-betul tulus mengeluh, karena bukan salah dia juga lo pade goblog dalam pelajaran fisika.

uan

Ujian Nasional = Pembunuhan Munir, Tragedi 1965

Yang gue maksud dengan humblebrag itu sikap sok merendah yang terlalu kentara, kentara dalam artian, si pelaku bahkan tidak mencoba untuk merendahkan diri secara eksplisit, dia cuma bersikap seolah orang tau bahwa dia ini layak diberi puji karena segala pencapaian dia. Seolah, dalam hati dia berteriak, “gila lu, gua gak perlu menyombongkan diri, gue cukup atau terlalu hebat untuk lo kagumi tanpa perlu gue minta! You have to admire me!” Jadi ini lebih halus dari sekedar humbragging di Twitter. Ini sikap yang hanya bisa dideteksi oleh fakultas manusia yang oleh masyarakat sering disamarkan dengan iri, sirik atau dengki.

Contoh gampang dalam dunia politik adalah Ridwan Kamil. Gak ada yang bilang RK ini gak sukses. Udah berkali-kali profilnya ditulis media besar seperti Financial Times. Tahun 2009, dia jadi Architect of the Year oleh majalah Ell Decor. Lalu, apa dia berhak bragging? Ya iya berhak. Tapi masalahnya adalah dia ini dengan segala antics-nya di media massa, dari ngantor naik sepeda sampe sampe buka baju bersama bobotoh, malah mencoba untuk bersikap sebaliknya, tapi dengan cara yang entah gimana terasa ada yang salah. Seolah, ‘lihat semua pencapaian gue, I don’t have to brag about this.’ BUT YOU DID, ALL THE TIME! Seperti saya bilang ini persepsi aja—bisa jadi dia tulus, tapi yang kentara adalah pengelakan bahwasanya dia ini arogan dan suka bragging, padahal kenyataannya enggak begitu. Dan dia gak sendirian. Dahlan Iskan itu juga salah satu politisi yang humbrag-nya kebangetan. Orang bilang itu pencitraan. Kalo gue bilang sih bukan. Master pencitraan itu Jokowi. Dan Sukarno. Bedanya Jokowi low profile demi politik, Sukarno itu secara terbuka belagu, narsis, besar kepala, overconfident, dlsb, demi politik. Sukarno kurang apa srategi pencitraannya dengan skill pidato dan baju safarinya. Dan kurang arogan gimana lagi dengan berbagai retorika eksplosif anti-nekolimnya, yang sering kali dia gunakan untuk menjegal lawan politiknya. Itu sebab orang gak benci Sukarno—no one expects him to be a humble politician.

937373-billy-corgan

Wah ini orang keliatannya brengsek banget.

Dalam dunia musik, yang gue inget itu Piyu Padi, yang sikap low-profile-nya terasa begitu menyedihkan karena dianggap sebagai reaksi dari kenyataan menyedihkan bahwasanya dia ini dan band-nya Padi hidup di bawah ketek Dewa 19 dan dominasi Ahmad Dhani. Oalah. Kita semua tahu cerita bahwa dia harus ngutang sama Andra untuk beli gitar sebagai kru Dewa 19! Tapi ini dulu sih. Pada suatu masa ketika Padi masih populer, bahkan lebih populer dari Dewa 19. Sekarang entah gimana nasibnya Piyu. Di skena musik mainstream, musik sebagai industri, Piyu ini musisi kelas dua, di bawah level Baby dan Dhani. Itu mungkin alasan kenapa gue gak sebegitunya sama Piyu. Maksudnya, this guy is okay. Yang jadi masalah adalah band-band indie. Entah gimana ada kesan bahwa mereka (tidak semua tentu saja. Otong Koil, misalnya, atau semua anggota Sore—di sini gue kepikiran Cholil dan Ucok) merasa bahwasanya fakta bahwa orang banyak gak perduli musik mereka itu membuat mereka menjadi lebih besar, ada semacam ambiguitas: mereka ini menista DAN mendamba pengakuan publik.

Gak penting musik mereka ini keren apa enggak. Well, sangat mungkin keren malah, karena mungkin lebih otentik, karena tidak ditekan oleh pasar. Dan ini yang jadi masalah. Setiap kali gue baca artikel musik tentang band indie selalu ada kesan bahwa mereka ini underdog, bahwa mereka ini terlupakan, bahwa mereka tidak mendapat pengakuan masyarakat yang selera buruknya malah kasih angin buat musisi medioker plagiator womanizer menyebalkan seperti Dhani dan Rhoma Irama! Singkat kata, they are trying to brag, but they don’t brag! Dus: HUMBRAG. Mungkin karena gue belum pernah liat musisi indie yang betul-betul arogan. Kayak Morrisey. Atau Thom Yorke dan Billy Corgan. Ya, gak mesti arogan sih. Tapi level confidence yang menyemburkan aura: I don’t give a shit what you think.

Is it just me? Atau musisi indie lokal kurang bajingan. Cholil itu kurang alim gimana lagi. Dan glorifikasi Ucok Homicide sebagai musisi aktifis itu udah…gimana ya.

maxresdefault

He does seem like a nice guy. Am I going to hell for writing this?

Nah, beda sama Dhani. Gue tau sejak awal kalo Dhani itu arogan—dan dia udah tegas-tegas bilang kalo dia seneng ngebanggain diri. Terlepas apakah dia punya dan tidak punya pencapaian yang bisa dibanggain sebagai musisi, produser musik, atau yang lainnya, kita udah gak bertanya lagi kalo Dhani ini arogan. Dia sengaja dan penuh kesadaran kalo dia ini belagak songong—ibarat kata, dia udah kasih heads up, udah kasih full disclosure bahwa dia ini belagu, condenscending dan narsis to the point of noraknya minta ampun, and you all have to fucking deal with it. Itu alasan kenapa gue pikir Dhani itu asli. Dia itu arogan, dia itu norak, dia itu bisa sangat-sangat norak, tapi setidaknya gue tau itu asli.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: