Misteri Allahumma dan Pluralitas Nama Tuhan

January 23, 2008 at 5:32 am | Posted in agama, tuhan | 13 Comments

Sejak kecil saya selalu senang menyebut kata Allahumma karena kata itu hampir selalu ada dalam setiap doa. Tak perduli apa kata Dawkins tentang masa kanak-kanak orang-orang beragama, doa menurut saya mulia. Dan betapa indahnya kata Allahumma. Karena saat kita menyebut Allahumma, kita menyeru Tuhan; dalam penghambaan, begitu dekat. “Ya Allah, ampuni diriku dan kedua orangtuaku…”

Setelah dewasa, saya kebetulan mempelajari bahasa Arab. Saya mulai sadar struktur bahasa al-Qur’an dan mencoba untuk memecah setiap kalimat dalam bahasa Arab menjadi mubtada-khobaar, ism, fi’il, dan harfun. Saya memahami bahwa Ya Rabbi artinya “Wahai Tuhanku”. “Ya” adalah seruan, “Rabb” artinya Tuan/Pemilik/Lord dan akhiran “I” adalah kata ganti kepunyaan seperti “my” dalam Bahasa Inggris. Coba kata rabb kita ganti dengan kata habibun, kita akan mendengar kata ya habibi yang artinya, “Wahai Kekasihku.” Kalo diganti dengan kata Allah, mestinya Ya Allah, bukan? [kayaknya tidak ada kata Ya Allahi (Ya Allahku) dalam bahasa Arab…ini harus dicari tau lagi] Lalu mengapa Nabi dan al-Qur’an juga menggunakan kata Allahumma? Mana kata seruan “Ya” dalam kata Allahumma? Mengapa bukan Ya Allah saja?

Saya tidak sempat bertanya sama guru ngaji saya tentang istilah tersebut, meski sangat penasaran. Saat awal main-main ke wordpress, saya sempat berdiskusi dengan seorang Kristen tentang Trinitas dan sebelumnya sempat mengikuti diskusi tentang nama Allah juga [Untung saya dibesarkan secara Islam, yang lebih mementingkan makna uluhiyah dan rububiyah Allah ketimbang akar kata Allah itu sendiri. Pemahaman lebih penting dari simbolnya!]. Nah, dalam diskusi tentang Tuhan dengan penganut agama lain itulah, saya mulai memberi perhatian pada akar kata Allah dan mengenal istilah Elohim, sebutan Tuhan bagi bangsa Yahudi.

Kata Elohim adalah bentuk jamak dari kata eloah, yang artinya “tuhan.” Kata Elohim muncul setelah kata Yahweh dalam Tanakh Ibrani. Seorang Kristen, dalam penjelasannya yang membingungkan tentang kompleksitas Trinitas, mengatakan bahwa hakikat ketunggalan Tuhan tidak bisa diartikan sebagai satu dalam bilangan. Buktinya kata Elohim itu bersifat plural, meskipun kita memahaminya dalam konteks monoteisme. Ia tampaknya ingin mengaitkan sifat plural Elohim dengan pluralitas pribadi Tuhan yang Satu (Bapak, Firman dan Roh Kudus). Tetapi bangsa Yahudi tidak memahaminya seperti itu, mereka menyeru Tuhan dengan sebutan Elohim untuk menyeru Tuhan dalam berbagai atributnya.

Mengutip penjelasan yang dikutip situs Saksi Yehova:

“That the language of the O[ld] T[estament] has entirely given up the idea of plurality in . . . [´Elo·him‘] (as applied to the God of Israel) is especially shown by the fact that it is almost invariably construed with a singular verbal predicate, and takes a singular adjectival attribute. . . . [´Elo·him‘] must rather be explained as an intensive plural, denoting greatness and majesty, being equal to The Great God.”-The American Journal of Semitic Languages and Literatures, Vol. XXI, 1905, p. 208.

http://www.jehovah.to/exe/hebrew/Elohim.htm

Pluralitas Elohim digunakan untuk merujuk pada berbagai sifat Tuhan. Nah, dalam Islam kita mengenal 99 nama Tuhan yang mulia. Apakah kita perlu menyebut Allah Elohim juga untuk berdoa kepada Tuhan dalam berbagai sifatnya? Tidak perlu, bangsa Arab dan bahasa al-Qur’an sudah mengenal istilah Allahumma yang penggunaannya sama dengan Elohim dalam bahasa Ibrani. Kata tersebut memang di luar struktur bahasa Arab dan sepertinya merupakan cognate dari kata Elohim. Kata Allahumma bukan sekedar seruan “Ya Allah” tetapi lebih dari itu. Kata itu memungkinkan kita untuk mengesakan Tuhan dalam pluralitas sifat dan namanya: ar-Rahman, ar-Rahim, al-Malik, Yang Maha Mendengar, The All-Knowing, God, Theos, dan seterusnya. Memang lebih enak menyebut allahumagfirli ketimbang robbigfirli, bukan?

Yesus dalam doanya juga menggunakan kata Elohim atau Allahumma:

Said Jesus the son of Mary: “O Allah Our Lord (Alllahumma robbana)! send us from heaven a table set (with viands), that there may be for us – for the first and the Last of us – a solemn festival and a Sign from thee; and provide for Our sustenance, for Thou art the best Sustainer (of Our needs).” (QS: 5:114)

Wallahu a’lam bi ash-Shawwaab

13 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hm..tulisan yang menarik. Saya sendiri jarang berpikir tentang makna Allahumma

  2. ~~Gentole ~~

    Apa kabar my bro …. ?

    Iya…artikel yang bagus. Gue belum sampe kesitu mikir tentang Allah. Orang2 tertentu emang diberi ‘kelebihan’ Allah untuk memahami ilmu NYA lebih dari manusia lain.

    Gue komunikasi dg writer sebuah blog, ternyata dia mantan agama kristen. Engga tau gimana pembicaraan jadi nyambung ke islam. Elo baca deh komentar2nya…terakhir gue baca recent postnya dia bilang Jesus=he. Entahlah, gue juga males kalo berdebat masalah begini…iya kan? cape’ deh… tapi orang itu yg mau tau. Tapi satu lagi, gue ketemu lewat blog, orang kristen yg selalu nge link post gue…aduh…elo liat sendiri deh di recent comment…foto seorang wanita cantik…klik aja…liat deh apa katanya…..gue tuh inggrisnya parah…disini bahasa Perancis…jadi campur baur…kacau😀

    Elo pelajarin agama hindu juga ? Terus apa lagi ? Bagus lah. Kakak gue saking hobby belajar dan baca tentang agama2…tadinya berjilbab…eh sekarang malah jadi keluar dari islam. Awalnya dia sering beli’in gue buku2 untuk dibaca…sejenis agama modern age gitu…wah..gue sih baca pernah baca…seperti “monk yg menjual ferari”…apa lah gue lupa…tapi makin baca itu makin gue engga tertarik…banyak kejanggalan…aneh dan terlalu dibuat2. Tapi buku yg gue agak suka, “manuskrip celestine 1 dan 2”. Menarik aja tuh buku…sepertinya gue pernah mengalami fenomena2 yg ditulis di buku itu. (Gara2 itu kakak gue awalnya meninggalkan islam. Tapi tetep aja, kalo hari raya kurban dia potong kambing, bayar zakat…hehe…cuma dia engga shalat dan puasa. )Pernah baca buku itu ?

    See ya …

  3. @aku bahagia
    Ih ini orang jarang mampir. Gimana diskusi dengan asepmahmud?

    iyah…memang kita itu ignorant. kata Allah itu memang agak ribet. ada Muslim yang berpandangan bahwa Allah itu bukan kata untuk Tuhan, tetapi nama Tuhan. jadi, gak bisa diterjemahin. apalagi Allahumma, jadi tambah ribet.😀

    eh ada situs kenarik tentang kata Allahumma dan huruf “mim.” nanti aku coba rewrite dalam bahasa Indonesia deh. lihat aja: http://www.meem.freeuk.com/index.html

    @rayon
    Kabar baik. Kalo kakaklo buka jilbab secara bertanggungjawab, yah enggak apa2 lah. Celestine prohecy? cuma sambil lalu aja bacanya. eh gue rekomendasi lo beli buku The Qur’an: A Biography karangan Bruce Lawrence. Ringan dan bagus.

  4. @ gentole

    Gw udah engga suka buang2 waktu baca buku karangan orang2 yang tidak jelas.

  5. @gentole

    Posting di atas pake blackberry dan aku baru tau kalo ternyata bisa. Perasaan kemaren2X nggak pernah bisa….

    Aku sudah baca tanggapan asepmahmud, hanya belum sempat ngebales. Mudah2x malam ini ada waktu.

    Terkadang yang ribet itu mengasyikkan bagi yang mau berpikir…..seperti anda. Hehehe….

  6. @rayon
    Maksudnya apa tidak jelas? You’re being proud of yourself and that tarnishes the spiritual beauty I see in you and, worse, I fear that it may hinder you from knowing more about the Truth. I don’t mean to preach on you but I know the people whose books I read. Anyway, “unzur ila ma qoola wa la tanzur ila man qoola.”

    @aku_bahagia
    kadang2 nyebelin sih, apalagi ama sejuki. btw, enryo bikin perumpamaan tuh buat kita2. lucu deh. hahahaha…

  7. @ Gentole,

    gw emang engga mau asal baca buku, apalagi buku2 tentang islam yg dikarang bukan oleh orang islam, gw engga tau buku yg elo maksud tuh karangan siapa. karena gw banyak liat orang2 sekarang asal baca buku yg akhirnya malah kehilangan kepercayaan pada islam. jadi mencari ilmu yg menjadi mudarat buat diri sendiri, ngapain? muslim punya cara belajar yg baik. kalaupun baca buku, gue akan milih buku2 karangan tokoh2 islam/imam2 yg sudah teruji berakhlak baik dan setia pada islam. dan sorry, gw engga peduli elo bilang tarnishes the spritual beauty or whatever, gw pun tidak pernah merasa gue sdh bersih spiritual gue. Dan gue engga berharap dinilai baik pula oleh manusia, engga ada gunanya.

    “worse, I fear that it may hinder you from knowing more about the Truth.”

    the truth apa lagi yg elo harapkan? mencari kebenaran atau mencari2 kesalahan nih ? gue tdk seperti elo yg mencari kebenaran. gue udah tekad bahwa islam agama yg diridhoi Allah SWT dan nabi Muhammad utusan NYA. gue mau tetap teguh distu dan harus berbaik sangka terhadap semua ttg islam.islam itu yang paling benar buat gue, dan keyakinan seperti ini yg harus gw pelihara ketika gue mengaku muslim, selain logika, ruh gue pun berperan dalam keyakinan ini. jgn jadi abu2…harusnya elo mengakui seperti halnya Karen Armstrong…belum tau mana yg cocok karena keragu2an ttg masing2 agama. gue lebih respek dg orang yg jelas identitasnya.

  8. @rayon
    gue emang gak perduli apa kata orang mengenai identitas gue. itu sebabnya, gue mengungkapkan pikiran gue tentang Islam yang gue dapet dari al-Qur’an dan berbagai sumber lainnya secara jujur. Islam kan bukan monopoli kelompok mayoritas. hak gue untuk mengaku Muslim meski lo menganggap gue kurang Islam. bener kata lo, yang penting apa pendapat Tuhan tentang “identitas” kita. gue mencoba untuk memahami islam secara rasional sembari bertahan pada prinsip dasar Tauhid. that’s all…

  9. @rayon

    Saya salut sama anda, tinggal di negri yang mayoritas kurang mau mikir agama, tapi keteguhan anda dalam berislam begitu berprinsip, ini sungguh luar biasa. Orang Islam Indonesia yang tinggal di Indonesia seharusnya amal solehnya lebih baik dari anda, karena begitu banyak kemudahan yang mereka dapat dalam menjalankan agamanya dari pada anda. Ini pelajaran yang berharga.

    @gentole

    Anda harus bisa menjadi tuan rumah yang baik kepada siapapun. Baik yang sepaham maupun yang tidak sepaham dengan anda.

  10. @rayon

    Tulisan yang ditutup dengan “Wallahu a’lam bi ash-Shawwaab” dapat dijadikan petunjuk bahwa Pak Gentole ini sudah menemukan keyakinan sejatinya…..

    @aku_bahagia says

    Saya sependapat dengan Anda. Bawa Mbak Rayon memang teguh dalam menjalankan keyakinannya meskipun kendala yang dihadapi begitu besarnya. Saya sendiri mungkin belum tentu bisa…..

    @gentole

    Menarik sekali tulisan Anda. Perjalanan spiritual dan intelektual yang ternyata bisa selaras dan harmonis ya. Pluralitas nama Tuhan menunjukkan hegemoni Dia atas makhluknya….(mohon maaf kalo keliru)

  11. @hilda
    seharusnya intelektualitas dan spiritualitas selaras. sekalipun tidak, maka iman yang bicara, tapi dengan cara yang sopan dan manis tentunya.

  12. “kayaknya tidak ada kata Ya Allahi”

    kalau kata ya Illahi kan ada mas😀

  13. menurut guru gue, kata ya + Allah itu sama kita memanggil Allah dengan setara yang berarti tidak ada pengagungan sama sekali dan bahkan pelecehan kepada Allah, makanya tidak ada kata tersebut di Alquran maupun di Hadis… Ulama terdahulu yang tidak memahami benar bahasa Arab akhirnya menerjemahkan ke dalam b. Indo Ya + Allah… akhirnya digunakan pada setiap doa… kesimpulannya kalau berdoa tidak bakal dikabulkan menggunakan kata ya + Allah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: