Wejangan Heidegger Sebelum Memilih KPR

September 26, 2009 at 3:13 am | Posted in filsafat, ngoceh, refleksi | 12 Comments
Tags: , , ,

…residential buildings do indeed provide shelter; today’s houses may even be well planned, easy to keep, attractively cheap, open to air, light, and sun, but-do the houses in themselves hold any guarantee that dwelling occurs in them?

Pertanyaan di atas dilontarkan Bapak Martin Heidegger dalam artikel beliau yang berjudul Building Dwelling Thinking. Dia bertanya; apa bedanya bangunan dengan tempat tinggal? Mengapa rumah disebut rumah, bukan mall atau terminal atau kantor? Mana yang datang duluan, bangunan atau tempat tinggal? Apakah bangunan? Apakah tempat tinggal? Bagi yang merasa pertanyaan-pertanyaan ini konyol, silahkan klik situs lain. Saya tidak akan meringkas jawaban yang diberikan Heidegger, karena saya ora mudeng dan pastinya postingan ini bakal sangat membosankan, kecuali bila Anda doyan bahasa Jerman dan Yunani. Meski begitu, pertanyaan Heidegger penting; rumah itu bangunan atau tempat tinggal?

Apakah Gelandangan Benar-benar ‘Homeless’?

Dua komentator pertama di post saya sebelumnya mengungkit gagasan tentang squatting dan tinggal di kantor. Mereka bergurau tentunya. Tapi kedua gagasan itu, meski tidak berperasaan, sebenarnya layak direnungkan. Kata pepatah klasik, rumahku istanaku; atau dalam tradisi Amerika, home is where your heart is. Maksudnya, rumah Anda, meskipun tidak layak huni bagi orang lain, adalah istana Anda, sebuah tempat di mana hati Anda berada. Pepatah ini sepertinya agak naif dan menyesatkan! Karena bila demikian adanya, kenapa para gelandangan yang squatting (mendiami secara ilegal) kolong jembatan seperti kecoa itu disebut homeless? Padahal, boleh jadi dalam persepsi mereka, kolong jembatan itu ‘istana’ mereka yang paling berharga, sebuah tempat di mana ‘hati mereka berada’. Bagaimana tidak? Setiap kali pasukan Densus Pemda beraksi, mereka rela berdarah-darah mempertahankan ‘hak’ mereka atas ‘istana’ itu. Miris. Absurd. Tidak masuk akal. Tetapi, demikian hidup. Entah kitanya yang bertindak diskriminatif terhadap para gelandangan itu dengan memaksakan gagasan tentang “tempat tinggal” yang kita — yang kebetulan bukan gelandangan — sepakati, atau merekanya saja ini yang keblinger sedeng – kolong jembatan yang bau kok dijadikan rumah!!!? Katakanlah Anda percaya pepatah home is where your heart is itu menyesatkan. Alasannya apa?

house

Bangunan versus tempat tinggal

Akal sehat menetapkan bahwa kantor bukan rumah, apalagi jembatan. Anda tentunya berfikir tidak semua bangunan bisa disebut rumah. Sekalipun benar di kolong jembatan dan kantor orang bisa mandi-cuci-kakus, beristirahat, bercinta, dan terlindung dari hujan dan panas, keduanya tidak bisa disebut rumah. Karena rumah itu ruang privat yang dihuni secara legal. Jembatan dan kantor itu ruang publik, bukan ruang privat. Tinggal di jembatan itu ilegal dan rumah atau pemukiman yang dijadikan tempat usaha, kecuali ruko, itu juga ilegal. Karena itu keduanya tidak bisa disebut rumah. Tetapi siapa yang bisa jamin, ruang privat yang kita huni secara legal itu bisa kita sebut rumah atau tempat tinggal? Di sini pertanyaan Heidegger menjadi penting untuk dijawab.

Ali Topan bukan gelandangan tetapi dia ‘tinggal’ di jalanan. Tokoh fiktif yang selalu merasa kesepian dalam keramaian ini berfikir rumah di mana ayah dan ibunya berada adalah neraka! Keluarganya disfungsional dihantam gaya hidup urban. Istilah bekennya broken home pada 1980an. Ilustrasi ini tentunya bukan untuk membela pepatah klasik yang terlalu nrimo dan komplasen di atas, tetapi untuk menunjukkan bahwa dwelling atau tempat tinggal tidak bisa direduksi menjadi sebuah bangunan yang dibeli secara legal, dengan KPR atau bayar lunas. Menurut Heidegger, tempat tinggal itu sudah ada sebelum bangunan itu ada. Alam semesta, kata beliau, adalah tempat tinggal yang dimaksud. Alam semesta yang mana? Yang dimaksud para ilmuwan? Bukan. Menurut Heidegger, manusia primitif hidup beratapkan langit, beralaskan tanah merah, bersama para dewa! Katanya beliau sih, langit, bumi, manusia dan para dewa adalah empat elemen esensial untuk dwelling, untuk menghuni. Ketika mereka tinggal di bumi, mereka sudah taken for granted dalam kesadaran mereka bahwa mereka berada di kolong langit, dan ketika mereka menyadari mortalitas/kefanaan yang merupakan hakikat mereka, dewa-dewa  mereka puja dalam ketiadaan dan kemunculan mereka yang tiba-tiba. Dwelling atau pemukiman itu menjadi realitas yang diungkapkan; bangunan kemudian dibangun, bukan untuk menjadi tempat tinggal yang eksklusif, tetapi merupakan bagian dari realitas dwelling yang lebih luas, yakni alam semesta.

Apa salahnya pemukiman modern?

Tempat tinggal adalah persepsi atas ruang, bukan hanya dalam ‘rumah’ Anda, tetapi kesuluruhan realitas dalam mana Anda berada, seperti yang dipikirkan masyarakat primitif yang beratapkan langit itu. Konsep rumah atau pemukiman modern menurut saya adalah sebuah disrupsi dari gagasan tentang tempat tinggal yang purba. Karena, pada masa ini, bangunan mendahului tempat tinggal. Pemukiman menjadi artifsial; engineered in such a way. Pemukiman pun dibuat seolah berjarak; di sini tempat kerja, di sana tempat tinggal. Kantor dan jembatan adalah tempat tinggal juga dalam pengertian Heideggerian, meski Anda tidak mandi-cuci-kakus di sana. Karena tempat tinggal itu lebih dari sekedar tempat tidur dan nonton TV. Itu sebabnya, banyak perumahan modern yang gagal menjadi dwelling atau hunian, bukan semata-mata karena infrastrukturnya jelek (gak ada angkot lah, jauh dari pasar, rumah sakit,  tol atau stasiun kereta lah, rawan banjir dan kejahatan lah), tetapi karena kagak nyambung dengan persepsi si penghuni tentang ruang/realitas di luar tembok, jendela dan atap rumahnya. Ibaratnya, mencari rumah itu harus holistik, atau bahasa marketingnya komprehensif. Infrastruktur itu elemen esensial yang menjadikan pemukiman itu pemukiman; Tetapi, tentu saja, infrastruktur ini mesti selaras dengan kimia dan pandangan dunia si penghuni, infrastruktur yang tidak membuatnya merasa terasing, yang membuatnya merasa nyaman. Iya sih, emang ujung-ujungnya yang penting nyaman. LAH ini kok saya muter-muter ngomong sampai Heidegger cuma buat bilang nyari rumah itu kudu yang nyaman? Dasar orang filsafat!!! 😕

Masak sih cuma mau bilang itu saja?

Well sebenarnya enggak juga sih. Bukan itu wejangan Heidegger yang hendak disampaikan. Itu sih wejangan saya. 😀 Pada bagian akhir artikelnya, Heidegger bilang begini:

On all sides we hear talk about the housing shortage, and with good reason. Nor is there just talk; there is action too. We try to fill the need by providing houses, by promoting the building of houses, planning the whole architectural enterprise. However hard and bitter, however hampering and threatening the lack of houses remains, the real plight of dwelling does not lie merely in a lack of houses. The real plight of dwelling is indeed older than the world wars with their destruction, older also than the increase of the earth’s population and the condition of the industrial workers. The real dwelling plight lies in this, that mortals ever search anew for the nature of dwelling, that they must ever learn to dwell. What if man’s homelessness consisted in this, that man still does not even think of the real plight of dwelling as the plight? Yet as soon as man gives thought to his homelessness, it is a misery no longer.

Kata Heidegger, persoalan kurangnya pemukiman itu bukan yang paling penting, tetapi bagaimana manusia terus berupaya untuk mencari pengalaman dan hakikat dwelling, karena dalam sejarah, manusia terus-menerus dipaksa untuk menemukan pengalaman ‘menghuni’ yang baru. Bandingkan, misalnya, kehidupan apartemen pada masyarakat urban dengan kehidupan para komuter dan petani di desa-desa. Tidak sama, bukan? Menghuni itu sebuah proses mengada — yang sejatinya unik pada setiap orang. Jadi yah begitu. I dwell therefore I am! Anda tak usah muluk-muluk berandai-andai tinggal di kolong jembatan sebagai squatters, menjadi Ali Topan atau manusia kantoran untuk mendapatkan pengalaman dwelling yang baru. Kita hanya mesti berupaya menemukan sebuah pengalaman dwelling yang istimewa dengan memilih KPR dan pemukiman yang tepat!! Yang ternyata susah!!!

*updated*

Advertisements

12 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya sih maunya punya apartemen tipe loft di pusat Jakarta
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    ..
    ….
    …..
    …….
    Tapi harganya 1,2 M Rupiah :((

  2. Lah, sampeyan pikir saya ga serius? Saya serius lho. Dengan asumsi ada fasilitas MCK, alasan apa sih yang menghalangi sampeyan untuk tinggal di kantor? Akal sehat? Akal sehatnya siapa? Jangan klaim sepihak dong ah. 😀 😆
     
    *trolling lageee*

  3. Ck…ck…ck…!
    muter…muter…muter…!
    cari hunian yang nyaman.
    akhirnya…?

    .
    .
    .
    *tergantung keuangan*
    Hunian hayalan;
    jln: metropolis, blok 9.
    *belakang tukang sate*

  4. @nenda
    .
    Sekalipun saya punya uangnya; saya ndak bakalan beli. Kehidupan kota tidak menyenangkan. Saya pernah tinggal di apartmen di Singapura; dan rasanya aneh. Di ketinggian. Tanpa tetangga.
    .
    @lambrtz
    .
    Kan sudah saya tulis di atas:

    Karena rumah itu ruang privat yang dihuni secara legal. Jembatan dan kantor itu ruang publik, bukan ruang privat.

    I believe this is a very common sense.
    .
    @wan
    .
    Imajinasi yang luar biasa!

  5. HUNIAN NYAMAN..!
    Berbagai pasilìtas telah di tawarkan.Dari tife gotic hingga tradisional.
    akhirnya…..?
    Ente memang benar…benar…benar…!
    Dari pemikiran hingga tempat hunian.
    pola pikìr bebas..bas..bas..!
    Cukup manusiawi,bisa juga dikatakan idiologis..gis..gis..!
    kadang memang sulit dibedakan,idiologis..gis..gis dengan egoistis…tis…tis…tis patriotis..tis..tis..!
    tis…tis..tis..tis..tis.!
    *maklum kepedesan, metis mangga muda*

  6. Hehehe, saya masalahnya benci komuter. Saya gak suka menghabiskan waktu saya di jalan, apalagi Jakarta macetnya gak ketulungan.

  7. Btw, kalau punya duit yang lebih banyak sih mendingan beli rumah di Menteng atau Kebayoran Baru/Lama *ditabok*

  8. buruan lah cari “Home”, sebelum kronis kena penyakit manusia yang paling mengerikan, “kesepian.”

  9. @ibeng
    .
    Saya jadi pengen ngerujak, mas.:?
    .
    @nenda
    .
    Commuting is fun!!
    .

    Btw, kalau punya duit yang lebih banyak sih mendingan beli rumah di Menteng atau Kebayoran Baru/Lama *ditabok*

    .
    Eh daerah Menteng Dalam (rumahnya Obama dulu) dan Kebayoran baru juga ada rumah2 yang masih jelek2an? Tapi ya ndak worth it lah. Padet. Kalo yang mahal-mahal itu mah; kayaknya kudu jadi mafia narkoba dulu atau koruptor baru bisa beli.
    .
    @illuminationis
    .
    Iya ini lagi buru2. Susah masalahnya.

  10. Fun dimananya? *membingung*

    Atau gak sih nyari mertua konglomerat *plakk*

  11. ^
    .
    Kudu mampir ke blognya Frea tuk tau jawabannya. :mrgreen:
    .
    Hehe..gak sih; saya suka sensasi pulang kerja soalnya. Gak enak kalo terlalu dekat; rasanya berasa pulang. Aneh sih ini. Oh, well…

  12. Karena rumah itu ruang privat yang dihuni secara legal. Jembatan dan kantor itu ruang publik, bukan ruang privat.

    Mestinya sih bukan cuma legal, tapi juga gak ada yang terganggu. Maksudnya, kalo emang gak ada yang protes (terkatakan ataupun tidak) Lambrtz tinggal di kantor, ya hom swit hom. Tapi pernah saya tinggal di rumah tante, lama2 dia komplen kalo saya merusak keteraturan disitu. Gak nyaman laa, walopun rumah legal~ 😆
     
    Etapi saya juga kepengen punya apartemen kalo di Jakarta. Sepertinya lebih aman. Apa tetangga itu faktor penting?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: