Antara Iman dan Sikap Kritis

December 17, 2008 at 2:13 pm | Posted in katarsis | 43 Comments
Tags: , , , , ,
religionsymbolabr

Tiga Bersaudara

Disclaimer: Tidak bermaksud ceramah, apalagi menghina.

Ada satu kelebihan agama Islam; ia datang paling belakangan, dan karenanya bisa belajar dari kesalahan pengalaman dua agama sebelumnya, yakni Yahudi dan Kristen. Saya tidak akan pernah lupa penjelasan Ibnu Katsir tentang ayat ketujuh surat Alfatihah; “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang Engkau [Allah] beri nikmat, bukan [jalan] orang-orang yang Engkau murkai dan [bukan pula jalan] orang-orang yang sesat.” Menurut Ibnu Katsir, mereka yang mendapatkan murka Allah adalah bangsa Yahudi Laknatullah. Mengapa? Karena mereka secara sadar menolak Kebenaran [baca: Kristus dan Muhammad]. Sedangkan “orang-orang yang sesat” adalah, well, umat Kristen. Mengapa? Karena mereka, out of ignorance, terlanjur mengimani secara buta Kebenaran yang dlolalah [maksudnya deifikasi Kristus dan Trinitas]. Dengan kata lain, orang Yahudi adalah pengendara motor ugal-ugalan yang sengaja menerobos lampu merah, sementara orang Kristen adalah pengendara motor yang terlalu khidmat berkendara sehingga lalai menerobos lampu merah. Ini kata Ibnu Katsir ya, bukan kata saya. Pemahaman ini sudah mendaging dalam benak Muslim yang setiap hari setidaknya 17 kali membaca surat Alfatihah. Sayang, pemahaman ayat ini sudah terlanjur disederhanakan menjadi doa asal-tidak-menjadi-Yahudi-atau-Kristen saja.

Buat saya, persoalan “menolak kebenaran” dan “menjadi sesat” ini perkara yang luar biasa pelik, lebih dari sekedar persoalan menolak kenabian Muhammad bin Abdullah atau mendewakan Yesus dari Nazareth saja. Ini bahkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan menjadi Kristen atau Yahudi! Seperti yang diisyaratkan Alfatihah, siapapun — tidak perduli agamanya Islam, Kristen atau Yahudi — bisa terjerembab pada kesalahan yang sama. Mengapa? Hehe…inilah hebatnya agama Ibrahimiah, Allah mereka itu Maha Njlimet. Begini, dalam pandangan saya, tindakan “menolak kebenaran” itu sebenarnya merupakan konsekuensi dari upaya tidak “menjadi sesat”. Dan begitu juga sebaliknya, seorang “menjadi sesat” karena ia tidak mau menjadi orang yang “menolak kebenaran”. Sebenarnya kasusnya dari zaman baheula yah begitu-begitu saja; Bangsa Yahudi tidak mau mengakui Yesus sebagai Kristus karena mereka haqul yakin Kristus tidak akan mati bersama para bajingan di kayu salib. Mereka takut sesat, maka ditolaklah Yesus. Nah, umat Kristen tidak mau mengikuti jejak bangsa Yahudi yang keras kepala itu. Itu sebabnya, meskipun diisyaratkan dalam berbagai metafora yang sangat elusif dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, mereka haqul yakin Kristus adalah Putra Allah, Firman yang Mendaging dan 100 persen ilahi. Menolak keilahian Kristus adalah “menolak kebenaran” – dan layak kena laknat Allah seperti bangsa Yahudi! Dus, as the saying goes, maju kena, mundur kena. Kritis salah, tidak kritis juga salah.  Adakah solusinya?

Jalan Tengah?

Ulama “salaf yang lurus” berpikir jalan tengah bisa menyelesaikan persoalan pelik ini, tetapi masalahnya jalan tengah itu sebuah konsep yang kabur. Apa yang merupakan tengah buat Anda, bisa jadi ekstrim kiri buat saya. Apa yang merupakan ekstrim kanan buat Anda, bisa jadi tengah buat saya. Apakah jalan tengah itu artinya kita sebaiknya jangan “terlalu banyak bertanya” atau ngeyel seperti bangsa Yahudi dan tidak beriman secara buta seperti umat Kristen – sebagaimana disterotipkan al-Qur’an? Pada akhirnya kita dihadapkan pada nasehat paradoksal yang sangat menyebalkan: Anda boleh kritis tetapi jangan terlalu kritis, dan Anda mesti beriman tanpa ragu sedikitpun tetapi jangan sampai taqlid buta. Ini tidak memuaskan, dan tidak menyeselesaikan masalah. Jadi, gimana nih?

Entahlah. Sebenarnya saya sudah bosan sekali membahas masalah ini, tetapi yah sudahlah; dihabiskan saja semua persoalan yang mengganjal. Btw, ada yang tertarik untuk mengikuti jejak bapak ini mungkin? :mrgreen:


Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.