Lima Kata Paling Belagu Dalam Bahasa Indonesia Kiwari

September 19, 2014 at 1:36 pm | Posted in katarsis | 16 Comments
Tags: , , ,

lexiphanicism

Sodara setenahair. Kita harus gembira kalo bahasa Indonesia kian kaya. Kita senang, kalo kita punya banyak istilah baru: gawit, senarai, pranala, linimasa, dlsb. Kita juga harus bersyukur kalo bahasa Indonesia juga kian alay. Kita merasa sangat terhibur, kalo kosakata alay kini merajalela di jagad maya: woles, keleus, anjas, dlsb. Tapi kita harus merana sedikit karena bahasa Indonesia kini juga kian congkak. Leksipanikisme juga berkembang! Leksipanikisme? Apa itu? Lexyphanicism, dalam bahasa kolokial bisa diterjemahkan sebagai: ‘Bahasa lo tinggi banget sih! Belagu amat!” Tidak mudah memang untuk mengenali leksipanikisme. Istilah ini pun sebetulnya dimaksudkan sebagai contoh dari lekspanikisme itu sendiri. Kata ‘belagu’ sendiri pun bermasalah. Apa artinya? Apa yang dulu dianggap belagu sekarang boleh jadi biasa saja, atau malah norak dan menggelikan. Saya sendiri bersikap ganda. Di satu sisi, saya hormat betul sama kolokialisme. Tapi saya juga sering bermain-main dengan leksipanikisme. Karena saya juga manusia. Saya juga belagu. Saya juga mau keren!

Nah, di bawah ini adalah dafar kata paling belagu dalam bahasa Indonesia yang saya tahu. Kata ini mungkin tidak bersalah. Kata, seperti pistol air, itu benda mati. Tidak bisa diadili. Tapi penggunanya bisa. Bisa dipenjara, bisa digebuk. Dalam banyak kesempatan, saya merasa kata-kata di bawah ini masih terlalu wagu untuk digunakan, masih terkesan sangat leksipanik (hahahaha, saya senang istilah ini). Kalo Anda bagian dari kelas menengah intelek yang tempo hari ikut meramaikan kampanye Munir di Twitter dan sekarang mungkin lagi giat-giatnya melawan upaya koalisi merah putih mengabolisi pilkada langsung, Anda mungkin pernah menggunakan istilah di bawah ini. Selamat untuk Anda! Anda keren!

Oke, mereka adalah:

Wagu

Kata ‘wagu’ ini sekilas memang sangat tidak berbahaya. Benign. Sama sekali tidak belagu. Bagi penutur aslinya, kata ini mungkin sangat biasa saja. Tapi mengingat penggunaannya yang semakin luas. Ada kesan intelek dari kata ini. Kata ini jauh lebih terasa intelek ketimbang ‘kaku’ atau ‘canggung’. Apakah ketiga kata ini sama? Kata kawan sih enggak sama. ‘Wagu’, katanya kawan saya itu, adalah kata yang paling tepat untuk menerjemahkan kalimat “that awkward moment...” Tapi saya ada beda pendapat. Selama masih ada ‘kaku dan ‘canggung’ yang lebih merakyat, wagu adalah istilah elit. Agak wagu istilah ‘wagu’ itu.

Petahana

Kompas itu emang. Koran para pengkhotbah yang terhormat itu. Kata ini saya dapat kali pertama dari Kompas. Entah kenapa masih dipakai sampai hari ini. Meskipun, saya sama sekali tidak bisa membayangkan dalam percakapan kolokial, kata ini akan pernah bisa digunakan. Bahasa Indonesia memang tidak terlalu kaya. Tidak ada kata khusus untuk incumbent. Dan hanya petahana aja yang kita punya. Petahana. Sama wagunya dengan kata pelaju sebagai padanan commuter. Secara kultural kok kayaknya gak pas.

Semenjana

Kata semenjana ini agak berlapis belagunya. Pertama, secara fonetik kata ini emang elegan. Hampir terdengar seperti saujana. Itu lo, lagunya Katon Bagaskara. Anda ingat Katon? Kalian lahir tahun berapa?  Pokoknya ada lagunya Katon yang judulnya ‘Saujana’. Artinya, sejauh mata memandang. Kali pertama saya dengar ini kata, ‘buset putis dan belagu amat’. Nah, semenjana ini juga sama efeknya buat saya. Semenjana, oh semenjana. Tapi apa artinya? Nah, artinya ini yang bisa membuat kata ini semakin belagu. Menurut kamus, semenjana itu sedang. Dalam penggunaannya saat ini, semenjana adalah juga berarti medioker. Nah, siapa yang suka pake istilah medioker kalo bukan medioker itu sendiri dan mereka yang tidak merasa medioker? Jadi, sebagai semenjana, saya paham kalo kata semenjana ini digunakan oleh para semenjana untuk menutupi kesemenjanaan mereka?

Kiwari

Udah liat kamus? Kata kiwari ini memang paling ajaib. Paling terasa asing. Paling belagu. Paling pretensius. Kata ini saya temui kali pertama di situs kebudayaan lokal kita yang terhormat, Jakbeat. Saya ingat dulu saya marah-marah gak karuan begitu saya membaca kata ini dalam salah satu makalah di laman itu. Apa itu kiwari!? Kiwari, menurut kamus, adalah saat ini. Kata ini adalah kandidat paling mumpuni untuk menamatkan istilah ‘kontemporer’, istilah barat yang dulu mungkin dianggap belagu juga. Kalo wagu itu berasal dari Bahasa Jawa, kiwari ini katanya berasal dari Bahasa Sunda. Entah kenapa itu malah membuatnya menjadi semakin belagu. Ngomong-ngomong soal kekinian, soal kebaruan. Bagi saya tidak ada yang lebih kiwari dari cendekia muda yang suka bilang “eh, si anjing!’.

Senandika

Nah, ini. Kata paling belagu di Internet saat ini. Kata ‘senandika’ adalah kata yang paling banyak memuat kebelaguan dan siapa saja yang menggunakan kata ini? Kalo bukan filsuf dan penyair belagu ya bukan filsuf dan penyair belagu yang sama sekali tidak punya hak untuk belagu dan karena itu belagunya itu kafah, belagu 100 persen. Kata senandika, yang adalah padanan lokal bagi soliluquy, itu berasal dari mana saya tidak tahu persis. Kayaknya Jawa. Mungkin saskrit. Entahlah. Saya bukan pakar bahasa dan sedang males gugel sana sini. Yang jelas, kata ini belagu sekali. Lebih belagu dari soliloquy itu sendiri.

Epilog: Bagaimana dengan Anda? Tidak setuju? Ada kata lain yang lebih belagu? Dugaan saya adalah kalo dalam bahasa Inggris kata pretensius berasal dari kata asing seperti Jerman dan Perancis, kata pretensius kita adalah serapan baru dari bahasa daerah yang dijadikan padanan untuk bahasa Inggris. Ada kepikiran? Bagilah sini.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.