Internet, Senjakala Seni dan Jargon Kosong Orijinalitas

February 26, 2009 at 8:44 am | Posted in iseng, kebudayaan | 12 Comments
Tags: , , , , , , , , , ,

Peringatan: Post ini terkait dengan Ahmad Dhani. :mrgreen:

Saya menghabiskan dua film P. Ramlee untuk membunuh rasa bosan dalam perjalanan Singapura-Kuala Lumpur beberapa waktu lalu. Saya kagum sama itu orang. Ada “local flavour” yang benar-benar legit dari gambar yang ia sajikan dan juga musik latar yang betul-betul menghidupkan film yang dia buat. Orang ini jelas berbakat dan layak diberi puji. Tetapi, seperti halnya Chairil Anwar yang diracun estetika dan humanisme Barat, P Ramlee pun tidak kedap pengaruh Hollywood. Dan itu tidak menjadikannya kecil. Sungguh. Apalagi di zaman ini, di zaman digital, di zaman ketika Internet mengakselerasi reproduksi karya seni. Orijinalitas adalah konsep yang absurd! Semuanya adalah mashup! Joe Satriani dan Coldplay, yang ribut-ribut soal tuduhan plagiat, sebenarnya sudah melakukan mashup (campur-campur musik orang) sebelum pelaku Youtube benar-benar melakukan mashup untuk dua lagu mereka. Dan mereka tidak sendiri tentu; Saya kira sudah banyak yang mendengar mashup yang cukup memesonakan di bawah ini: Reproduksi atas reproduksi? Ah, bapak Adorno yang menggilai otentisitas dalam seni, terutama seni musik, pastilah mati berdiri mendengarkan musik lewat Youtube. :mrgreen:

Sadar atau tidak, karya seni di zaman Pasar dan Internet – bahkan gagasan filsafat dan buku bestseller yang berjejer di Kinokuniya dan Gramedia — semuanya mashup! Mereka yang berpikir masih bisa menciptakan sebuah karya seni yang 100 persen asli dan otentik itu pasti terkena wahm! Delusional! Karya seni adalah karya terbuka yang dikerjakan secara kolektif oleh umat manusia; oleh unit budaya, oleh peradaban!

Sudah lama memang seni digugat dan diwartakan wafat oleh mereka yang menganggap modernitas itu pongah dan Eropa-sentris – tidak ada itu mahakarya seni yang bisa dinilai bagus atau “estetik” secara universal! Semuanya adalah produk budaya yang sejatinya “sama tinggi”. Biola atau gamelan, seni mosaik atau batik, sama saja. Tidak ada yang lebih “seni” dari yang lain! Esensialisme itu fasis! Dan, tentu, dengan datangnya mesin reproduksi paling masif, yakni Internet, maka saya berani bilang orijinalitas dalam kesenian itu ilusi, karena semuanya adalah mashup!

Ah, itu sebabnya, saya mengamini Ahmad Dhani yang membuat cover version untuk lagu tema filmnya P Ramlee, “Madu 3”. Lagu ini bikin girang. Liriknya jenaka, melodinya riang, dan Dhani – meskipun trademark suara sengau dan beratnya sedikit membosankan – sukses melucuti anakronisme lagu tersebut. Hadirlah “Madu 3” yang berirama jazz padang pasir. Mantap! Ah, boleh lah awak lihat dan dengar lagu aslinya di video Youtube di bawah ini:

Lagu “Madu 3” versi Dhani sudah bisa didownload di jagad Internet buat perbandingan. Sepertinya untuk promosi. Ada di Youtube juga sih. Tetapi bagi Anda yang terlanjur gedeg sama Dhani dan ogah melihat polah anak ABG yang norak, saya tidak anjurkan untuk melihat versi Youtube. Saya yakin akan sangat meyakitkan bagi Anda untuk melihatnya. Sudah dengar? Bagaimana menurut Anda, mana yang lebih bagus? Atau lebih jelek? 😕

Catatan Untuk Mereka (Terutama Kaum Hawa)
Yang
Gedeg Sama Dhani

Kata Detik.com, Dhani bakal bikin kontroversi bikin lagu yang mengkampanyekan poligami. Lah, bagaimana mungkin? Lirik lagu itukan bernada satir. Karena, kata lagu itu, orang yang mau beristri tiga Mesti pandai pembohong/Mesti pandai temberang/Oh tetapi jangan sampai/Hai pecah tembelang. Liriknya memang norak, dan cocok dengan selera pasar Indonesia saat ini. Saya tidak tahu apakah Dhani akan mendulang rupiah dengan album solo keduanya, tetapi saya menunggu keluarnya album ini: Muhammad Dhani & The Swinger. Aneh, judulnya. But who cares lah. Kapan nih Mas Dhani album barunya dijual di pasar?

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.