Romantismenya Chairil

March 13, 2009 at 10:07 am | Posted in refleksi | 31 Comments
Tags: , , , ,
454px-chairil_anwar

Ikonik, bukan?

Maklumat: Saya bukan fotografer, dan tidak pernah membaca sejarah fotografi.

Anda pernah bertanya mengapa foto ini bisa sebegitu ikoniknya? Apakah semata-mata karena itu potret Chairil Anwar (Chairil gitu loh!), atau karena komposisinya? Maksud saya, apakah kesan ikoniknya itu karena fotonya berwarna hitam putih, dan terkesan sangat tua karena agak buram sedikit. Sementara pose Chairil terkesan cuek, sama sekali tidak mencoba untuk berusaha sok cool, dan karena itu cool banget! Ataukah karena kita tahu Chairil adalah penggubah sajak yang penuh gairah, yang menyingkap sebuah zaman baru di bumi pertiwi dalam mana otonomi individu diarak setinggi-tingginya? Karena Chairil sudah memproklamirkan “Aku”, subyek otonom yang sudah tidak lagi perduli pada identitas tribal? Karena Chairil tidak lebih kecil dari Tan Malaka dan Soekarno?

Bagaimana bila ternyata foto di atas adalah foto tukang ojek di pinggir jalan, atau bahkan copet! Seandainya tukang soto dipotret dengan pose yang sama dalam komposisi gambar yang sama, apakah efeknya secara perseptual sama? Apakah foto ini ikonik karena sudah terlanjur terkenal; sudah terlalu sering direproduksi, sehingga dibilang “ikonik”, atau foto ini direproduksi terus karena memang gambarnya secara fotografis, atau intrinsik, memang “ikonik”? Saya kira wajah orang macam Chairil, seperti juga saya [hehe], masih membumi. Che dan Benyamin S, misalnya? Dengan pose dan dalam komposisi yang sama, apakah efek foto keduanya sama? Tidak. Entah bagaimana, Bang Ben menjadi parodi. Tetapi, apakah dia tidak lebih ikonik?

Mestinya memang harus tanya sama anak kecil yang tidak pernah tahu Chairil. Tapi, buktinya anak-anak ABG jaman saya dulu jadi pada suka AKU-nya Sjumandjaja gara-gara AADC. Efek Rangga bawa buku bersampul Chairil jelas beda dong dengan efek anak mesjid bawa buku Ayat-ayat Cinta, well, kecuali kalau anak mesjidnya bawa buku Pergolakan Pemikiran Islam-nya Ahmad Wahib. Suara zaman sih bilang variasi efek emosional itu terjadi karena alasan historis, kultural, psikologis. Tapi yah tidak tahu juga apa betul mesti begitu adanya; masalahnya efek Derai-derai cemara dari saya kecil sampai sekarang tidak berubah. Masih terasa romantik. Seperti satu, dua ayat al-Qur’an yang pop up di kepala saya setiap kali saya melihat anak-anak Palestina mengangkat senjata, sajak Chairil selalu datang setiap kali saya menubruk potret perokok berat itu. Hidup hanya menunda kekalahan

Betapa romantiknya ini orang di foto ini. Bikin sakit hati.

*melirik kerjaan yang belum selesai*

*sigh*

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.