Dawkins, Dhani dan Meme Monoteisme

September 20, 2008 at 7:03 am | Posted in agama, refleksi, sekedar, tuhan | 40 Comments
Tags: , , , , , , , , , , , ,

Kyai Haji Richard Dawkins

Apa hubungannya Kyai Haji Richard Dawkins dengan Ahmad Dhani, salah satu tokoh antagonis di bumi blogosfer Indonesia ini? Well, tidak ada. 😀 Sebenarnya saya hanya teringat gagasan Dawkins ketika banyak orang meributkan kebiasaan Dhani –- yang katanya arogan bin norak — menyontek lirik dan lagu orang lain. Melihat post saya soal Dhani yang dikutip di detikforum, dan melihat reaksi para netter di sana, saya mengelus dada, betapa Dhani dipuja dan dibenci, dibela dan dimaki. Apakah mereka sadar kalau Dhani itu, dalam pandangan Dawkinsian, hanyalah sebuah mesin (survival machine) dalam mana gen-egois bereplikasi untuk hidup lebih lama? Kalau dia arogan dan norak, bukankah itu hanya produk dari perpaduan gen yang diwariskan orang tua yang bersangkutan dalam rantai evolusi yang panjang? Dan apakah mereka juga sadar bahwa Dhani hanyalah tempat singgah dari jutaan meme yang tidak mau mati dan terlupakan? Meme? Iya, meme.


Dhani itu “Korban” Meme?

Begini, kalau dalam banyak lagunya Dhani terdapat berbagai potongan nada/lagu yang sudah digunakan sebelumnya oleh seniman lain (karenanya ia sering disebut plagiaris), bukankah itu sebuah peristiwa yang wajar dan tak terelakkan, dalam arti bahwa sebenarnya kita tidak bisa tahu betul siapa menggunakan siapa dalam fenomena itu; apakah Dhani memanfaatkan nada-nada populer itu agar lagu-lagunya bisa laku, ataukah nada-nada populer itu yang memanfaatkan Dhani agar ia tidak dilupakan dan outlive mereka yang memainkannya? Coba pikir, suatu saat Dhani akan wafat, tetapi lagunya belum tentu ikut wafat, bukan? Pada akhirnya, dalam pandangan naturalis, Dhani hanya korban daya tarik dari sebuah nada saja. 😀

Ini Ahmad Dhani, kalau ada yang gak kenal. 😀

Nada-nada lawas yang digunakan Dhani itu, kata Pak Dawkins, adalah meme, seperti juga pisang goreng, fesyen batik, solat tarawih, acara bukber, arsitektur renaisans, demokrasi, teori ekonomi, gaya bercinta dll. Meme adalah gagasan atau perilaku manusia yang berkembang dan bertahan melalui proses meniru; sama seperti gen, meme “bermutasi” dan “berevolusi”. Dan, sama dinginnya dan egoisnya dengan gen juga, meme itu bukan entitas yang sadar-diri. Maksudnya, mereka sih cuek aja dalam menjalankan “takdirnya”; Dalam sebuah proses yang tidak perlu melibatkan kesadaran, berbagai gagasan/perilaku budaya itu hinggap dari satu otak ke otak yang lain. Dan karena mereka mengada secara mekanis, ada proses seleksi alam juga di sini. Kita lihat, misalnya, hanya nada-nada yang disukai publik yang bisa bertahan lama, dan apabila masyarakat berubah karena berbagai deviasi dalam proses imitasi, nada-nada itupun bermutasi. Itu sebabnya, Air on G String-nya Bach bisa menjadi menjadi The Whiter Shades of Pale-nya Procol Harum, Save Me-nya Queen dan, tentu saja, Pupus-nya Ahmad Dhani. Paradigma evolusinya Mbah Darwin itu memang luar biasa! Jadi tidak perlu kaget kalau intro lagu Ratu Jangan Bilang Siapa Siapa itu mirip intro lagunya Kayak, Chance for a Life Time; dan jangan kaget kalau lagu klasik seperti Fur Elise itu masih diperdengarkan hingga saat ini. Lagu manis dalam A Minor itu sedang mengendarai kepala kita!

Monoteisme sebagai Meme

Iya, kata Pak Dawkins, Allah SWT adalah meme juga, berikut dengan Hukum Taurat dan Syari’at Islam yang konon katanya telah diturunkan secara ajaib dari langit. Ah, perlu saya tambahkan di sini kalau Pak Dawkins bilang meme itu parasit. Itu sebabnya, Pak Dawkins dan juga Richard Brodie, senang luar biasa ketika mereka bisa mengatakan bahwa Allah dan agama adalah virus akal budi.  😀 Dulu, kata Karl Marx, agama adalah candu. Sekarang, agama adalah virus! Kasar memang, tetapi tidak dapat dipungkiri, pendekatan memetik terhadap evolusi agama memang cukup menarik. Dan ada baiknya bagi mereka yang masih beragama untuk mencari tahu asal-usul agama secara historis; jangan-jangan, seperti Dhani, kita juga korban meme? :mrgreen:

Well, kata Ibu Karen Armstrong, mengutip Romo Wilhelm Schmidt, suatu hari di zaman yang sangat primordial manusia menemukan gagasan tentang Satu Tuhan, yakni Sang Pencipta dan Penguasa Langit. Tuhan ini dikenal dengan nama Tuhan  Langit/Sky God. Konon, beberapa masyarakat primitif di Afrika masih mempercayai Tuhan semacam ini. Mereka percaya Tuhan ini tidak bisa diungkapkan dengan kata. Dan karena ia terlalu agung untuk dikultuskan dalam lembaga tradisional apapun, akhirnya manusia pun lupa kepadanya. Ada yang bilang, kata Ibu Karen, Tuhan ini “menghilang begitu saja.” Tidak lama kemudian berhala mulai bermunculan; Tuhan baru dihadirkan dalam bentuk patung; dan setiap gejala alam yang luar biasa dikaitkan dengan tuhan yang dianggap berbeda pula; monoteisme purba itu pun digantikan oleh politeisme.

Tentu sulit untuk membuktikan ceritanya si Romo Schmidt itu, tetapi yang jelas sekitar beberapa milenia sebelum lahirnya Kristus, gagasan monoteisme kembali muncul, tetapi kali ini lebih canggih lengkap dengan beberapa gagasan pendukung, seperti kebaikan dan kejahatan, yang bisa membuatnya lebih kompetitif ketimbang paganisme yang biasanya lebih berbasis pada pengorbanan belaka dan kurang portabel (patung berat, Mas!). Ilmu Tauhid dalam Islam itu bukan barang baru di dunia ini. Jauh sebelum Musa berkenalan dengan Yahweh di gunung Sinai, Tuhan tribal bangsa Israel yang menjadi cikal bakal Tuhan modern, seorang Parsi bernama Zoroaster sudah menyebarkan ajaran tentang Tuhan Esa yang bernama Ahura Mazda. Bukan itu saja, Zoroaster juga mengungkapkan konsep baik dan buruk, neraka dan surga, malaikat dan iblis etc, dan besar kemungkinan — karena adanya kemiripan dan kontak antara bangsa Persia dan Yahudi — konsep-konsep ini, sebagai meme, mereplikasi diri mereka ke dalam kebudayaan bangsa Yahudi, dan kemudian diwariskan kepada umat Kristen dan Islam, Ingat, meme itu melampaui usia masyarakat. Bangsa Yunani bisa hancur, tetapi peradabannya bertahan terus melalui pemimpin politik Roma, kepala penerjemah Arab dan para pemikir Pencerahan. Dengan demikian, bisa jadi, agama-agama besar seperti Yahudi, Islam, Kristen dan juga Hinduisme beserta Buddhisme, karena keduanya terkait secara historis dengan Zoroastrianisme, adalah hasil “mutasi” dari meme yang pernah hinggap di kepala Zoroaster, atau manusia purba yang pertama kali menemukan monoteisme itu.

Kata Dawkins, monoteisme itu “unggul” karena ia memiliki daya tarik psikologis; dalam “kolam meme”, melalui suatu proses seleksi alamiah, monoteisme muncul sebagai gagasan yang paling cocok bagi kita. Mengapa? Kata Dawkins, itu karena monoteisme sepertinya bisa menjawab berbagai problematika eksistensi.  “Mengapa kita berada di dunia ini!?” Secara psikologis, bertuhan itu memberi ketentraman yang luar biasa. Wajar apabila gagasan monoteisme kemudian di-copy-paste secara turun temurun selama berabad-abad. Meski begitu, Dawkins mengingatkan, itu bukan berarti monoteisme dipertahankan untuk kepentingan biologis atau keberlangsungan (survival) organisme. Dalam pandangan Darwinian-Dawkinsian, moneteisme itu sendiri sebagai meme yang menggandakan dirinya secara mekanis untuk “bertahan hidup”.


Sebuah Komentar Pribadi

Saya membaca The Selfish Gene, bukunya Pak Dawkins di mana ia mengusulkan kata meme, bukan tanpa perasaan hampa dan putus asa, meskipun bapak itu menulisnya dengan gaya populer, santai dan penuh humor. Sensasi yang sama saya rasakan ketika membaca novelnya Albert Camus yang berjudul Sampar atau esainya Schopenhauer yang berjudul On the Vanity of Existence. Hampa. Kering. Buku-buku semacam itu tidak baik dibaca oleh orang yang mudah depresi seperti saya ini.  😕 Tadinya saya, dengan segala kerendahan hati, mau mengkritik Dawkins soal ini, tetapi dia mengakhiri buku gila itu dengan kalimat ini: “We are built as gene machines and cultured as meme machines, but we have the power to turn against our creators [genes and memes, dari saya]. We, alone on earth, can rebel against the tyranny of the selfish replicators.”

“We” itu siapa yah Pak Dawkins? Well, Pak Dawkins sepertinya terlalu bersemangat untuk mengatakan kita harus melawan tirani gagasan Tuhan! Masalahnya, “kita” itu siapa? Subyek yang bebas absolut? Oh, capek…

*Berharap punya waktu luang untuk belajar soal kesadaran/kognisi*

*Terpikir proyeknya Sora tentang QM*

*Berusaha membaca bukunya Umberto Eco lagi*

*Masih menduga bahwa Allah adalah Kesadaran Tunggal*

*Masih menduga Hegel dan Plotinus benar*

*Akal Budi itu emanasi Allah yang Merealisasikan Dirinya dalam Sejarah*

NB: Seperti biasa, saya tidak tahu apakah saya tidak menyalahpahami Dawkins, karena saya hanya seorang pekerja saja. Saya belum baca buku-buku tentang meme selain The Selfish Gene. Kalo ada yang bisa mengoreksi, seperti Mas Geddoe, misalnya, atau siapa saja, minta repotnya dong. 😀

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.