Allah SWT dan Sajak

October 4, 2008 at 1:56 pm | Posted in agama, teologi, tuhan | 55 Comments
Tags: , , , , , , ,

Kata pakar semiotika Umberto Eco, hanya para penyair yang bisa bicara soal Allah, dan segala hal yang terkait metafisika; yakni pertanyaan tentang hakikat ‘ada’ (ultimate reality/being). Metafisika itu bukan perkara mudah, dan bukan pula perkara yang ribet. Pertanyaan metafisis adalah pertanyaan yang maha penting, tetapi bisa jadi pertanyaan yang maha sepele. Loh? Ah, seperti kata Eco, hanya penyair yang bisa bicara soal ini. [note: kalo malas membaca, bisa langsung skip ke bagian teologi negatif dan nalar puitis]

Allah Sebagai ‘Ada’ Azali
Anda tahu apa yang dimaksud dengan ‘ada’? Oh, bukan, saya tidak ingin berbicara soal uang kertas di kantong Anda setelah Hari Raya Konsumtifisme kemarin, tetapi hakikat ‘ada’ yang paling azali. Apakah itu? Well, kata filsuf Abad Pertengahan, ‘Ada’ yang paling azali adalah Allah SWT. Para pemikir Islam dulu yakin bahwa ‘Ada’-Nya Allah yang diseru pada malam takbiran itu adalah ‘Ada’ azali yang merupakan syarat utama ‘ada’-nya dunia kehidupan ini. Maksudnya, tanpa Ada-Nya Allah ini, tidak akan ada itu Blitz Megaplex, Barack Obama, Maria Ozawa atau Dian Sastrowardoyo yang cantik dan jago filsafat itu. Adanya kita [maksud saya semua manusia yang pernah ada di bumi ini] dan dunia ini [maksud saya keseluruhan alam semesta yang bisa dipandang dan dipikirkan alam pikiran kita maupun yang tidak] itu kontingen, dalam artian merupakan akibat dari ‘Ada’-nya Allah sebagai Necessary Existent [ada yang harus ada]. Ingat, ini ‘Ada’ yang bukan hanya paling awal, tetapi ‘Ada’ yang juga paling ultim; ‘ada’ yang melingkupi semua, termasuk memori cinta pertama Anda yang kandas di tangan anak ABG urakan yang nekat bermain cinta sebelum mengenal kondom! Ah, hidup ini. Absurd. Absurd.

Ini Ibnu Sina, agak kurus. Saya dengar dia aslinya gemuk dan pemabuk. Beliau salah satu metafisikus Islam.

Tetapi, itu katanya para filsuf yang hidup pada zaman ketika masih banyak orang di dunia yang mungkin masih percaya bahwa bumi ini adalah sebuah hamparan yang melayang di udara dengan air terjun raksasa di ujung dunia, atau matahari adalah hamba sahayanya bumi, yang sudah kadung dinobatkan Kitab Suci sebagai “Pusat Alam Semesta”.

Allah itu ‘Ada’ atau ‘Diada-adakan’ Sih?
Apa yang dipikirkan pemikir Abad Tengah itu hanyalah sebuah abstraksi saja. Tidak ada satupun di antara mereka yang pernah melihat Allah. Gagasan Allah sebagai kenyataan terakhir adalah hasil dari sebuah proses berpikir a priori, atau cara berpikir yang memadukan berbagai gagasan yang diandaikan.  Kita bisa bertanya, misalnya, tahu dari mana mereka bahwa ‘Kenyataan’ atau ‘Ada’ itu hanya satu (monistik)? Bagaimana kalau ‘Ada’ itu ada dua macam (dualistik), atau lebih (seperti diyakini Leibniz)? Kalau dipikir-pikir, batasnya memang tipis sekali antara berpikir secara a priori dengan mengada-ada. Karena itu, wajar saja apabila pandangan metafisika para filsuf mulai dari Plotinus, Alfarabi sampai George Berkeley dan Spinoza itu disebut metafisika spekulatif. Immanuel Kant tidak suka dengan metafisika tebak-tebakan semacam itu; Maklum, Kant hidup pada masa Pencerahan ketika pendulum peradaban mulai beralih ke Eropa dan semua orang di sana begitu bersemangat dengan yang namanya sains, yakni ilmu pengetahuan berbasis exsperimentasi alam. Karena itu ia memformulasikan metafisikanya sendiri. Katanya sih, Kant berupaya untuk mendamaikan rasionalisme dan empirisisme.

Kata Kant, hanya pengetahuan yang berbasis pengalaman indrawi (a posteriori) saja yang bisa diafirmasi sebagai betul/nyata [obyek pengetahuan ini disebut fenomena oleh Kant]. Pengetahuan ini memang bergantung pada gagasan-gagasan a priori yang universal seperti konsep ruang, waktu, kausalitas, substansi dan relasi [semuanya disebut nomena oleh Kant]. Meski begitu, menurut Kant, ‘benda pada dirinya sendiri’ (the thing-in-itself) hadir bukan karena disingkap oleh yang nomena, tetapi ia mengada secara mandiri [CMIIW, anybody]. Dalam pandangan metafisika semacam ini, di mana hanya yang bisa dialami secara empiris yang bisa diketahui, maka Allah tidak bisa dipastikan ‘Ada’, apalagi dinyatakan sebagai ‘Ada yang Ultim’. Kata Kant, Allah termasuk dalam wilayah nomena. Allah dimengerti sebagai syarat moralitas saja; Allah ‘ada’ karena kebaikan universal mewajibkannya ‘ada’. Mbah Kant ini jadinya agnostik, karena ia berpandangan bahwa Allah tidak bisa diketahui oleh akal budi yang pada kenyataannya memiliki batas-batasnya sendiri apabila ditempatkan dalam kerangka epistemologi berbasis ‘pengalaman’.  Tapi ini debatable sih, soal agnostisisme Kant ini.

Duh, bener tidak yah Kant berpikir begitu?  Gak yakin. :mrgreen: Ah, yang jelas, setelah Kant mengemukakan pandangannya, ilmu pengetahuan semakin berkembang pesat di Eropa. Kalih, para ilmuwan Eropa berpikir: ‘Untuk apa memikirkan entitas nomenal yang tidak bisa diketahui betul-betul dan tidak ada kaitannya dengan benda-benda yang bisa dialami dan dipelajari secara demonstratif? Lebih baik kita pelajari fenomena alam dan kita akan memperoleh buah pengetahuan yang pasti dan bermanfaat!’ Sains pun terus berkembang dan semakin arogan, sementara para filsuf tidak puas dengan formulasi kompromis Mbah Kant; tidak lama berselang, berkembanglah berbagai teori metafisika baru, misalnya empirisisme radikal, pragmatisme, instrumentalisme, voluntarisme, fenomenalisme, organisme etc. Para filsuf sepertinya susah bersepakat soal metafisika. Karena itu, filsuf analitik pada abad ke-20 bilang, ‘Sudahlah, tidak usah bicara metafisika lagi, karena omong kosong itu semuanya!’ Kata mereka, sebuah gagasan hanya bisa dianggap bermakna atau berisi alias bukan omong kosong apabila gagasan itu bisa diuji melalui metode observasi dan verikasi. Nah, karena metafisika dilabrak habis sekalian, termasuk semua entitas yang berisfat nomenal, maka gagasan tentang Allah pun kena getahnya. Well, sebenarnya Allah sudah dihapus secara semena-mena dari kosakata peradaban Barat. Tragis.

Allah itu Omong Kosong?
Begini, para filsuf dari kalangan ilmuwan paska-Kant mengatakan bahwa semua ribut-ribut soal metafisika ini sebenarnya hanya perkara bahasa saja. Filsuf dan fisikawan Charles Sanders Peirce, misalnya, berpendapat bahwa kita tidak bisa berpikir tanpa penanda (sign) atau kata. Untuk bisa memikirkan kalimat ‘Di luar hujan deras’, kita harus mempunyai konsep/kata ‘hujan’ dulu, bukan? Untuk menggambarkan ‘hujan’, setidaknya kita harus mempunyai konsep ‘basah’ [bukan kering], ‘air’ [bukan tanah], ‘cairan tembus pandang’ [bukan cairan pekat], ‘jatuh’ [bukan naik], ‘langit’ [bukan bumi] dan ‘awan’ [bukan kilat]. Persepsi Anda tentang ‘Di luar hujan deras’, kata Peirce, pastilah ditentukan oleh berbagai pengalaman serta proses kognisi yang terjadi sebelumnya. Dengan demikian, tidak ada intuisi atau hipotesa tanpa adanya pengalaman mental maupun material yang mendahuluinya.  Semuanya itu empiris! Karena itu, sanggahnya, kita sebenarnya tidak mempunyai konsep mengenai ‘yang tak terpikirkan’ (incognizable/unknowable). Apabila Allah adalah ‘yang tak terpikirkan’, bagaimana bisa kita mengatakan bahwa Allah ‘yang tak terpikirkan’ itu ada?

Teologi Negatif dan Nalar Puitis

Umberto Eco

Umberto Eco

Nah, kata Eco, penyair adalah orang orang yang bisa menerabas logika dalam berbahasa. Memang, apa yang mereka katakan tidak lepas dari pengalaman dan proses kognisi yang sudah diketahui sebelumnya, seperti yang dikatakan Peirce. Namun demikian, mereka tidak terikat oleh kaidah bahasa yang memberi batasan atau resistensi terhadap konstruksi mental kita atas alam [seperti misalnya kita tidak bisa mengatakan sapi itu bisa terbang, bukan hanya karena sapi tidak bisa terbang, tetapi juga karena secara linguistik adalah burung yang bisa terbang, bukan sapi.  Kalau ada sapi bisa terbang, bisa jadi dia disebut burung, bukan sapi! Pikiran kita memang suka maksa, dalam artian kita sering meminta alam untuk menjadi yang-bukan-dirinya.]

Nah, penyair punya senjata rahasia untuk menghadapi batas-batas itu; mereka punya metafora [yang selalu berbicara tentang ‘yang lain’] dan oksimoron [yang selalu bicara dalam paradoks]. Dengan metafora mereka menyediakan untuk kita sebuah ladang penafsiran yang sangat luas [Eco menyebutnya surplus of interpretation]. Ketika para penyair berbicara tentang matahari terbit, mereka mungkin sedang berbicara tentang revolusi atau munculnya seorang pemikir besar, bukan soal rotasi bumi dan sistem tata surya. Ketika mereka berbicara tentang kobaran api yang membekukan pikiran, mereka mungkin tidak sedang berbicara tentang api, tetapi cinta! Bagi Peirce dan para filsuf analitik, sajak-sajak [termasuk sajak dalam Kitab Suci] adalah omong kosong, tetapi bagi mereka yang memiliki nalar puitis, sajak-sajak adalah teks yang membuka sebuah cakrawala penafsiran yang maha luas, jauh melampaui batas-batas fonetik dan semantik sebuah kata. Sajak, dalam pandangan saya, ibarat sebuah gala yang membantu kita menjamah buah pengetahuan dari ‘yang-tak-terpikirkan’ itu. Ketika logika positivisme dan empirisisme meremeh-temehkan semua gagasan metafisis [eksistensi kita dan juga Allah], yang puitis dengan anggunnya mengabaikan logika dan pengalaman empiris.

Karena itu, adalah para penyair yang paling mahir menyingkap Allah dalam teologi negatif; Allah itu bukan seperti yang Anda pikirkan; Allah adalah sesuatu yang lain; bukan waktu, bukan bentuk, bukan bayangan, bukan cahaya, bukan kejahatan, bukan kebenaran, bukan substansi, bukan kekekalan, bukan kefanaan. Setiap definisi membatasi Allah, karena itu Allah hanya bisa dibicarakan dalam bentuk metafora atau oksimoron; Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Cahaya dan Kegelapan, Maha Pengasih dan Maha Murka, dll. Upaya mengenali Allah bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi sekali saja, seperti misalnya ketika Anda bertemu pacar Anda, melainkan sebuah proses pemaknaan yang berlangsung terus menerus pada saat Anda mengalami yang puitis, apakah itu ayat al-Qur’an, puisinya Rumi atau esainya Goenawan Mohamad. Tentu, ini bukan berarti kita sudah menemukan hakikat Allah atau hakikat ‘ada’; hanya saja, para filsuf menurut saya sudah menyerah pada batas nalar dan resistensi bahasa dan empirisisme ketika berbicara tentang Allah; para penyair juga tidak atau belum memenangkan pertandingan, tetapi mereka belum dikalahkan! Kita karenanya harus bisa menangkap penyingkapan makna dalam sajak dengan hati yang penuh semangat. Karena, sisanya, kata Eco, adalah konjektur belaka.

NB: Sepertinya saya tidak tahu betul apa yang sedang saya bicarakan. Tetapi kira-kira itulah yang ada di kepala saya saat ini. Anda pasti melihat adanya inkonsistensi atau pergerseran pemikiran saya bila melihat entri saya sebelumnya. Atau, sebaliknya, Anda mungkin menganggap saya  terus mengatakan hal yang sama dalam bahasa yang berbeda. Entahlah, saya belum mau berhenti berjalan. Perjalanan masih panjang.

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.