Kundera, ‘the Apologizers’ dan Tragedi Bajuri

July 26, 2015 at 7:30 am | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , , ,
‘Feeling guilty or not feeling guilty—I think that’s the whole issue. Life is a struggle of all against all. It’s a known fact. But how does that struggle work in a society that’s more or less civilized? People can’t just attack each other on sight. So instead they try to cast the shame of culpability on each other. The person who manages to make the other one guilty will win. The one who confesses his crime will lose.You’re walking along the street, lost in thought. Along comes a girl, walking straight ahead, as if she were the only person in the world, looking neither left nor right. You jostle each other. And there it is, the moment of truth: Who’s going to bawl out the other person, and who’s going to apologize? It’s a classic situation: actually, each of them is both the jostled and the jostler. And yet some people always—immediately, spontaneously—consider themselves the jostlers, and thus in the wrong. And others always—immediately, spontaneously—consider themselves the jostled, and therefore in the right, quick to accuse the other and get him punished. What about you—in that situation, would you apologize or accuse?’ 
Milan Kundera dalam ‘The Apologizer’/The Festival of Insignificance

Saya, Alain dan Mpok Minah berada di kubu yang sama. Kami—kami adalah The Apologizers. Kami terlalu malas untuk ribut-ribut. Kami tidak punya waktu untuk konfrontasi. Dalam situasi yang diandaikan Kundera, kami akan meminta maaf. Kami tidak akan menggugat. Dan ini sangatlah menyebalkan—kenapa kami harus meminta maaf, bahkan ketika kami tahu, kami yakin bahwa kami tidak bersalah? Orang bisa bilang: Lo aja yang pengecut. Atau lo aja yang aneh. Dan psikolog bisa banyak ngemeng apa saja untuk menjelaskan ini. Tapi, bagi saya, ini adalah tragedi, ini adalah konsekuensi logis dari menjadi makhluk sosial, dari kenyataan bahwa kita tak hidup sendiri, bahwa kita hidup bersama orang lain, dan orang lain itu menyebalkan. Karena sebagian besar mereka adalah Emak, The Accusers.

index

harusnya film seri ini menjadi klasik

Bajaj Bajuri itu bukan cuma film seri komedi paling lucu dalam sejarah televisi Indonesia. Lebih jauh, Bajaj Bajuri adalah karya seni lokal paling Kunderanian yang saya tahu, yang biarpun ditulis untuk khalayak umum, bukan ‘pecinta sastra’, bentuknya, isinya, jauh lebih nyastra, jauh lebih bisa berbicara tentang apa artinya, apa rasanya menjadi manusia ketimbang semua novel-novel hebat dan berat buah tangan sastrawan Utan Kayu/Salihara, DKJ atau ‘pusat-pusat’ kebudayaan lainnya itu. Melalui Bajuri, kita belajar banyak bukan tentang betapa susahnya jadi supir bajaj, bukan tentang betapa susahnya jadi kelas pekerja atau hoi polloi di ibukota, tapi belajar tentang betapa susahnya menjadi manusia dalam situasi-situasi sosial yang seringkali dikontrol oleh orang seperti Emak, seorang tiran yang bukan cuma manipulatif, tapi lebih dari itu, tidak pernah sekalipun merasa bersalah dan senantiasa bisa memposisikan diri sebagai orang tertindas, sebagai orang yang dizalimi. Bukankah di mata Emak, Bajuri selalu bersalah, menantu yang tidak tau diri?

Masalahnya adalah, kita tidak tahu persis kenapa kita cenderung merasa bersalah atas orang lain, sekali lagi, bahkan ketika kita tahu kita tidak bersalah. Dalam kasus Mpok Minah, dia emang seperti udah dari sananya begitu. Pendek kata, orangnya, karakternya emang begitu, dia memang suka minta maaf, atau memulai kalimatnya dengan kata maaf agar terdengar sopan atau apa. Mungkin, boleh jadi itu masalah kultural, seperti stereotip orang Kanada di Internet. Tapi representasi the Apologizer dalam khasanah fiksi dan budaya pop Indonesia bukan cuma Mpok Minah. Tapi Bajuri juga, terutama dia! Bajuri, dalam banyak hal, bisa lebih mewakili kita dalam hal minta maaf untuk kesalahan orang lain. Itu karena, tidak seperti Mpok Minah, Bajuri paham betul bahwa dia gak salah, dan seringkali dia merasa gondok setengah mati karena ulah si emak yang bikin dia tampak seperti menantu yang tidak tahu diri ketika jelas-jelas sang tiran yang culas itu adalah Emak sendiri. Tapi gak bisa. Karena posisi Emak sebagai mertua, Bajuri sebagai menantu tidak bisa berbuat banyak. Kita bisa lihat, misalnya, pada episode puasa ketika Bajuri bangun sahur dan emak makan ayam yang udah disiapin Oneng buat dia. Dan emak dengan enaknya makan tanpa perasaan bersalah. Dan kemudian ketika Oneng sakit perut karena haid, dan Bajuri berupaya untuk membuatnya nyaman, Emak malah bilang: ‘Lu apain anak gue!?’ Jelas Emak salah. Tapi Bajuri bisa apa? Itu sudah nasib Bajuri. Itu tragedinya Bajuri. Apapun situasinya, Bajuri harus meminta maaf kepada Emak bahkan ketika dia tidak bersalah, dan malah pihak yang dizalimi.

Ini kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.

Kehidupan sosial adalah pertarungan kuasa, power struggle—sebuah pertarungan untuk pertama-pertama menentukan siapa di antara kita dan mereka yang zalim, siapa yang dizalimi, siapa yang berhak menggugat, siapa yang harus minta maaf. Salah dan benar itu urusan belakangan, urusan penulis sejarah, urusan para revisionis.

Dalam kasus Alain dalam novel Kundera, the Apologizer menjadi seperti itu karena dia merasa bersalah atas penderitaan ibunya, bahwa dia tidak minta dilahirkan, bahwa kelahiran dia yang tidak diinginkan sudah bikin ibunuya menderita, bahwa bahkan ketika dia dibuang dan ditelantarkan ibunya, dia masih saja berasa bersalah padanya.

150504_r26463-885

ini entah siapa yang buat

Kasusnya berbeda dengan Bajuri. Bajuri lebih mewakili orang kebanyakan.

Bajuri bukan orang bodoh, pun bukan seorang penakut. Dia juga tidak lemah. Dia cuma korban dari situasi sosial dalam mana ongkos berurusan sama Emak dan memperjuangkan haknya sebagai orang yang berhak dimintakan maafnya itu jauh lebih mahal dari makan hati sendiri.  Dan bukankah, dalam hal ini, Bajuri tidak sendirian? Tentu, ini bukan cuma soal mertua. Dalam banyak situasi sosial, selalu ada situasi ketika the Apologizers harus mengalah dan misuh-misuh sendiri, ngomel-ngomel sendirian, seperti orang pesakitan, mengalami tragedi eksistensi dari kehidupan yang bersifat sosial. Apapun profesi Anda, supir bajaj atau bukan, Anda akan dibuat tidak berdaya untuk melawan tirani Emak-Emak dalam wujudnya yang berlainan, di kantor, di sekolah, di masjid, di lingkungan rumah, di jalanan, di media sosial, di mana saja. Tentu saja, sodara, semua ini tergantung dari jawaban Anda atas pertanyaan Kundera di atas dulu: Anda ini the apologizer atau the accuser?

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: