Tentang Khotbah Basi Intelektual Lucah Medsos

July 25, 2015 at 4:48 pm | Posted in katarsis, komentar | 4 Comments
Tags: ,
tea

‘Ini apa-apaan nih nge-share tulisan beginian!!?’ — Saya setiap kali buka Fesbuk.

OH, LIHAT, LIHAT, LIHAT! Lihat betapa benarnya status ini, notes ini, artikel cerdik ini! Lihat, lihat, lihat betapa kita semua merasa ditampar!! Ah, Internet itu sudahlah bawaan orok untuk senantiasa bikin bosan, karena dia biangnya repetisi, biangnya klise, biangnya ‘ah, gila, apa iya jaman gini kita masih ngurusin ayak beginian, yang konspirasi lah, yang berita hoax lah.’ Dan ini mana yang benar, mana yang lebih bikin kepala pening, mulut berbusa dan harapan hidup hancur lebur: kebodohan khalayak atau kebijaksanaan khalayak—status ‘oh ini bener banget’ dari seleb twit yang paling banter dapet ponten enam? Karena itu bacritan sama sekali tidak orijinal, tidak menggugah orang untuk berpikir—disukai banyak orang justru karena memang isinya, bentuknya, sudah didisain untuk nyenengin orang banyak, nyenengin akal sehat khalayak, yang sering kali tak lebih dari ketololan berbulu hikmat.

Saya gak bisa tahan liat orang ceramah agama—apalagi di Internet, dengan segala tetek bengek satir murahan, pseudo-intelektualisme dan obskurantisme yang dikemas sebagai ‘pemikiran yang jernih, pemikiran yang progresif’. Ah ya itu. Ngegoblogin orang sebagai tidak paham agama, sambil kutip hadis ini dan itu (yang entah konteksnya apa, yang entah faktual entah karangan siapa), seolah apa yang dikatakannya itu rasional, sama sekali tidak ngawur, sama sekali tidak dibangun oleh sebuah asumsi yang sama sekali tidak bisa dibela secara ilmiah, secara logis. Gak, lah, bung dan nona, ini saya bukan lagi ngomong falasi-falasian. Tapi basis dasar agama itu iman. Dan iman gak bisa disebut logis. Dan hampir semua agama besar dibangun oleh cerita yang terlalu fantastis untuk bisa dianggap faktual: transubstansiasi, bangkit pada hari ketiga, isra dan mi’raj. Saya benar tak bisa membedakan Rizieq dan Gus Mus. Sejauh saya tahu: keduanya punya hak untuk mengkonstruksi pikiran mereka sendiri, keduanya punya hak untuk mengambil keputusan mereka sendiri, apapun itu hasilnya. Pada akhirnya, keberagamaan mereka sama validnya, sama ngawurnya.

LifeofBrianSermon

the good old days

Lalu untuk apa nyatirin agama orang—kalo ente bukan ateis garis keras?

Saya tidak akan pernah bisa memahami gejala ini: kenapa nyatirin orang yang gak paham satir? Berkali-kali pula. Ini apa? Cara yang elegan dan intelektual untuk bersikap tolol? Atau cara yang tolol untuk bersikap elegan dan intelektual? Ah, apa bedanya? You can’t please everybody. That’s true. But you can always please the majority, telling them what they want to hear—oh, aren’t we all prostitutes? Apalagi kalo udah terkenal. Mudah sekali jadi intellectual whore. Demi like dan share. Menulis yang tidak perlu ditulis! Bah!

Seperti biasa, saya bukan pengecualian.

Anda kali saja benar, ini adalah gejala elitisme atau bahkan dengki. Tapi persetan lah. Menulis itu katarsis, bagian dari proses menjadi manusia, tak semestinya dibatasi oleh berbagai persoalan-persoalan moral dan keinginan irasional untuk menjadi Biksu Tong Sam Cong. Saya hanya betulan kian malas dan kian tak bisa sabar melihat tabiat begawan karbitan Internet lokal, aliran pemikirannya, sikap politiknya. Entah kenapa opini di Internet itu mengganggu sekali, bahkan yang benar sekalipun, atau terutama yang benar-benar benar, atau benar secara umum, yang berarti bukan tanpa cela juga, seperti ocehan-ocehan Ridwan Kamil tentang disiplin, tata kota yang baik, apalah, atau tulisan-tulisan ceramah dari para farisi dan cendekia media sosial lokal, seperti seleb di Fesbuk dan mojok.co.

B5pI7ZgCMAAtHir.jpg_medium

BIksu Tong!

Tidak bisa dipungkiri  bahwa mojok.co membawa tradisi baru dalam kebudayaan Internet lokal, mengemas persoalan serius dalam bahasa guyon, melalui medium satir.  Tapi bau ceramahnya terlalu kereng—yang bikin satir-satir mereka terasa ironis. Mereka lupa, sejauh yang bisa kita lakukan dalam berdebat soal agama secara kritis, apalagi melalui medium satir, adalah mengekspos kerancuan berpikir lawan debat. Kita tidak diberi izin untuk melakukan lebih dari itu, kita tidak diberi izin untuk menggunakan satir untuk berdakwah. Ini lo Islam yang benar, agama yang benar, manhaj berpikir yang benar – ini gak bisa disampaikan lewat satir. Apalagi kalo target satirnya gak paham satir—dan apalagi kalo mereka yang paham satir berpikir: ah, bujang, apa lo gak sama ngawurnya? Dan soal moral? Hanya benar kalo pijakannya adalah premis bahwa kita semua brengsek. Tapi kalo pondasinya adalah grandstanding—apa bedanya dengan khotbah lima menit profesor UIN di Fesbuk? Dan lagian—ngeledekin orang yang jelas-jelas goblok itu terlalu mudah. Dan, karena itu, tidak menarik, kalo bukan memuakkan.

OH, lelucon murahan, satir setengah matang, kebijaksanaan khalayak, kebodohan khalayak. Kita tidak akan pernah kehabisan stok moralis, filsuf kelas terong, dari level paling norak sampe level paling dewa, karena di Internet benar atau salah itu urusan ujian nasional, bukan kolom komentar. Kita akan selalu berhadapan dengan mereka yang gagal melihat ironi dari setiap postingan medsos mereka, mereka yang berpikir bahwa mereka adalah kewarasan, mereka yang beraninya ngeledekin Hafidz Ary dan Fahira Idris sambil menghela nafas, bersyukur bahwa mereka bukan orang bodoh, bahwa mereka itu waras. Mereka gak selalu salah, memang. Dan saya, sekali lagi, bukan pengecualian dalam hal ini.

Oh, internet. Oh, medsos. What have you done!?

Advertisements

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Baca tulisan di mojok, beberapa tulisannya terlihat yg ‘dipaksakan’ satir

  2. Memang susah kalo harus kejar tayang. Beberapa tulisan lumayan bagus sih menurutku.

  3. Ini jg lagi aku rasain di LINE, timeline penuh sm share-an akun akun gajelas 😦

  4. The joke is on you mojok.co… Hafidz Ary mah invincible…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: