Are You There JIL? It’s Me, Islam KTP

July 8, 2015 at 10:53 pm | Posted in katarsis | 1 Comment
Tags: , , , ,

Salam-Ramadhan-728x532

ASSALAMUALAIKUM WR WB

WOI, PAISANO, kalian aktifis JIL dan pemikir muda NU yang jago Bahasa Arab dan calon PHD luar negeri, maunya apa toh? Kalian pengen meredam arus Arabisasi, Wahabisasi, Hanbalisasi, Ibnu Taymiyahisasi, Hasan Al-Banaisasi, Taqiyudin An-Nabhanisasi di Indonesia? Nih. Ane kasih tau ente: YOU’RE DOING IT WROOOOOOOONG! Kalo perang wacana ini pada dasarnya jadi ajang siapa yang paling pinter di Internet, you win, lah, you win. Tapi ini bukan. Ini tentang bagaimana kita hidup bersama. Ada stake yang lebih besar di sini. Yakni mereka yang disebut Islam KTP, mereka yang gak peduli siapa itu Sayid Qutb, apalagi Abid Al-Jabiri atau Fazlur Rahman; mereka yang cuma pengen bukber di Solaria sama temen kuliah yang tidak lebih sukses dan lebaran makan rendang sama om tante yang suka nanya kapan kawin. Mereka mayoritas! Ya jelas lah mereka anti-Taliban. Dan senang kalo ada yang mau melawan kecenderungan beragama yang talibanistik. Tapi yang bener dong. Jangan malah bikin persoalan tambah runyam. Ini beberapa alasan kenapa hanya Allah yang bisa bikin Hafidz Ary jadi penbois JIL. Ini beberapa hal yang kalian mungkin lalai, padahal penting, hanya karena kalian terlalu girang ngegodain para revivalis itu—just because you can.

monas3

You’re giving them a reason to fight.

Ini penting. If you want to win the hearts of the people. Stop being such an ass! Lo gak bisa tiba-tiba, out of the blue, bilang al-Qur’an tidak melarang LGBT. Ini pernyataan moronik. Ini namanya akrobat intelektual. Maaf Bung Ade Armando, katakanlan Mas benar, it doesn’t make it right to say it out loud. Karena dibutuhkan lompatan intelektual yang luar biasa untuk bisa mencernanya. Itu pun kalo Mas benar. Pada kenyataannya, Islam, yang sangat terpengaruh tradisi Yudeo Kristian, mana bisa lepas dari paranoia dan pemikiran yang dominan bahwa LGBT itu tidak dibenarkan atau diperbolehkan agama. Sorry to say, studi Bu Musdah pun tak meyakinkan. Orang cukup baca surat al-Mukminun, misalnya, untuk paham kalo ada batas dalam perilaku seksual, siapa aja yang bisa disetubuhi secara halal. Pun, juga pada surat lain tentang pernikahan laki-laki beriman dan perempuan beriman. Oke. Katakanlah, argumen ente, yang dilarang sodominya, bukan hubungan kasihnya. That’s just stupid. Karena, come on, ini kita semua udah gede. Ini soal seks, bukan sekedar cinta-cintaan Cinderella. Jadi kalo ada dua lelaki jatuh cinta, mereka akan melakukan hubungan seksual. Apa iya bisa hubungannya platonik aja? Kalo bisa? Buat apa menikah? Kalo bisa dan sudah menikah, apa bisa mereka tidak melakukan hubungan seksual? Dan, lagian, kalo bukan sodomi, untuk pasangan gay, terus !@#&&? Ente bukannya mencerahkan umat, ente malah bikin orang jengkel, terutama mereka yang beragama secara nominal, dan terus jadi tambah radikal! Look, sebelumnya mungkin orang gak perduli soal LGBT itu—tapi dengan tulisan ente, ditambah pula dengan hype keputusan MA Amerika soal hak-hak LGBT, maka jadi terkesan ada konspirasi besar untuk, well, melegalkan pernikahan homoseksual. Tapi ini gak bener. Ini ente aja yang gegabah. Masalah LGBT itu banyak. Masalah AIDS misalnya. Atau stigma atas mereka yang berujung pada diskriminasi di sekolah atau di tempat kerja.

Mengislamkan LGBT wont do any good. Liat prioritas lah. Satu-satu, Mas.

Jil-Sander-Parfums

You will approve this. But they won’t.

Itu juga mas-mas Mojok.co doyan bener ngegodain para revivalis yang seringkali bertingkah seperti anak SMP yang baru balegh. Itu tempo hari Mas Anick menulis: “Kalo saya menyembah pohon, Anda mau apa?” Ini pertanyaan retoris yang sama moroniknya dengan pernyataan Ade Armando. Karena, apa bedanya dengan pernyataan: “Kalo agama ane bilang ane harus siram ente pake air comberan karena ente menyembah pohon, ANDA MAU APA?” Tapi kadang masalahnya bukan di subtansinya. Maksudnya, it’s just the way you write, the way you say things, that is infinitely nauseating. Gue aja yang bukan Islamis aja gondok. Jadi misah-misuh kagak jelas. Setiap kali gue baca kritik aktifis JIL atau tulisan NU ‘progresif’ atas Islamisme kesan yang gue dapet ya itu: norak, songong, provokatif, moronik. Come on.

Ini sama kayak waktu pemerintahan Obama menggunakan sarkasme/satire untuk melawan propaganda ISIS di media sosial. WTF ARE YOU THINKING? You do satire and sarcasm to mock the elites, the intellectuals, bukan penbois ITJ/Hizbut Tahrir!

Itu namanya ironic propaganda. It isn’t smart. It’s asinine.

Dan, plis, gak usah pamer bahasa Arab, atau berpikir orang kalo bisa bahasa Arab pasti jadi lebih tidak radikal, atau orang yang radikal gak ada yang bisa bahasa Arab. Habib Rizieq bisa Bahasa Arab. Babon radikalisme, Sayid Qutb, itu menulis dalam bahasa Arab. Dan kitab kontemporer yang menjadi basis ideologi Daesh, Management of Savagery: The Most Critical Stage Through Which the Islamic Nation Will Pass, itu ditulis dalam Bahasa Arab. Jadi, Hafidz Ary bener, bahasa Arab itu cuma ilmu alat. Bahkan, hermeneutika-nya Gadamer, semiotika-nya Roland Barthes, itu juga ilmu alat. Masalahnya adalah, bahasa itu emang lentur. Hanya karena orang jago sastra dan jago linguistik gak menjadikan tafsiran dia atas kitab suci menjadi benar secara absolut. Ada alasan kenapa Al-Ghozali dan Ibn Rusyd sampai pada kesimpulan yang berbeda setelah membaca kitab suci yang sama. Fakta: kemampuan bahasa Arab mereka tidak menjadikan mereka sampai pada kesimpulan yang sama. Osama Bin Laden gak akan pernah mau baca tulisannya Mohamed Arkoun, apalagi Adonis (kuis: apakah ane tau siapa Adonis?). Jadi ente ribut-ribut soal orang mesti bisa bahasa Arab untuk melakukan penafsiran al-Qur’an itu tidak lebih benar dari mengatakan orang harus bisa bahasa Indonesia untuk bisa menulis novel berbahasa Indonesia. It’s so obvious. You don’t need to say it. Masalahnya adalah satu: bisa bahasa Arab gak mencegah ribuan pemuda Tunisia, Mesir dan negara berbahasa Arab lainnya gabung Daesh. Kalo udah gini kan yang tersisa cuma ente yang sok belagu bisa bahasa Arab. And people hate that.

Juga. Kalian gak akan pernah tahu betapa songongnya kalian ketika kalian kutip-kutip orang dan kemudian bilang “kalian kenal John Hicks gak?” Dude, you’re talking to Islamists. They don’t fucking care. Stop dropping names. They don’t give a fuck. Biarpun ente sebut semua nama pemikir agama Barat yang sudah mati maupun yang masih hidup, gak bakal ada bedanya. Hafidz Ary mana ada waktu baca Mircea Eliade, Syed Husein Nasr, Ziaudin Sardar, Hassan Hanafi, atau John Wansbrough (see, I can easily namedrop everyone here, and you know I’m talking nonsense). Kalian bukan lagi menulis paper buat jurnal internasional, yang hanya dibaca kalangan akademik. Tone it down a little bit, can we? Ya tentu gak masalah kalo ente diskusi sama temen-temen ente yang pinter-pinter dan banyak baca itu.

Kalian itu gak bakalan bisa bikin kaum radikal jadi liberal. Tapi setidaknya bisa lah kalian gak bikin marah orang Islam kebanyakan dan malah jadi mendukung para Islamis. Kalian pasti banyak fans-nya di kalangan kelas menengah liberal yang anti-FPI dan pengen norak-norakan di Path. Dan itu ndak apalah kita gak masalah. Meskipun, ya kasih tau merekalah biar gak segitunya anti-Arabnya. Salafi pun ada yang pasif dan non-violent. Dan komunitas Arab juga sudah lama ada di Jakarta, jauh sebelum ada FPI. Anyway, intinya adalah, kita akan senang kalo ente gak memperbanyak jumlah Hafidz Ary di Indonesia. Dan kami akan lebih senang lagi kalo ente pade gak kemudian merasa pahlawan for doing just that. Oke, sudah.

TL;DR: Be more sympathetic. I’m not, but you should be.

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Reblogged this on LADYKITARI.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: