Selamat Tinggal, Kundera!

June 25, 2015 at 6:37 pm | Posted in katarsis, komentar, sastra | Leave a comment
Tags: , ,

KALIAN PASTI LUAR BIASA BOSAN MEMBACA BLOG INI! Demikian halnya, mungkin, setiap pembaca Milan Kundera di muka bumi ini. Orang semakin tua, tidak kemudian menjadi lebih brilian. Kau lihat Woody Allen dan karyanya, konsisten dengan plot intelektual, seniman, aktor kebosanan, tak ada yang benar-benar baru. Tapi apa Woody harus disalahkan? Bahkan, si Mbah gak bisa move on dari typeface Windsor, seolah tidak ada font lain di dunia ini. Dan Kundera, Kundera oh Kundera, novelis paling brilian yang masih hidup saat ini, pun tak luput dari repetisi, dari kebuntuan seni, kebuntuan filsafat, kebuntuan eksistensi.

festival-copy

sampul bukunya kundera; lukisannya kundera

Kalo ada milestones dalam hidup saya, yang pertama adalah beli buku di QB dengan uang sendiri, dan tidak merasa bersalah setelah itu. Itu dulu sekali, sebelum QB bangkrut. Ini tahapan penting dalam hidup saya karena ada suatu masa ketika saya pikir uang saya lebih baik buat dibelikan makan atau bayar ongkos. Dan yang kedua adalah membeli bukunya Kundera pada hari buku itu dirilis. Ini tahapan penting, karena dulu saya mati-matian ingin membeli bukunya kundera yang berjudul The Curtain. Kalo gak salah dulu ada tugas ke Singapura, dan saya beli buku itu di sana—beberapa tahun setelah diterbitkan. Jadi kemarin, saya dapatkan bukunya Kundera yang terakhir, The Festival of Insignificance. Buku ini sudah lama diterbitkan di Perancis, tapi baru ada edisi Inggrisnya. Diterjemahkan oleh Mbak Linda Asher. Ini Kundera, yang nulis The Book of Laughter and Forgetting dan The Unbearable Lightness of Being, dua buku yang sudah menjadi klasik. Harapan tentu saja tinggi. Apalagi review sebelum terbit lumayan berkilauan, meskipun orang sadar: apa bisa, di usia senja begitu? Aku yakin, melihat semua hype ini, Kundera pasti tertawa keras sekali.

kundera

sudah sangat tua

Judulnya jelas: Merayakan Ketidakberartian. Jadi, tidak heran bila kemudian saya mendapati bukunya Kundera terasa begitu ringan, terlalu ringan, dangkal malah. Kalo buku ini ingin bercerita tentang banalitas, kenapa ia harus dituliskan dalam bahasa sastra dan filosofis yang njlimet? Sudah barang tentu, novel Kundera bukan novel sembarangan, tidak ditulis secara sembarang, dan bukan berarti tidak enak dibaca. Hanya saja, dibanding dengan karyanya yang dulu, di sini Kundera seperti sengaja menuliskan banalitas dengan cara yang sama banalnya. Ini bukan Tereza yang cinta mati pada Thomas, atau Sabina yang mendapati makna hidup pada kebebasan absolut, secara seksual terutama. Setiap karakter dalam novel ini adalah mereka yang tak lagi bisa menganggap serius kehidupan. Karena itu, mereka begitu terpaku pada hal-hal yang tidak penting, seperti pusar perempuan, keinginan yang irasional untuk menjadi seorang expat yang hanya bisa bahasa Pakistan di Perancis, atau berbohong kalo dirinya kena penyakit kanker dan mengadakan pesta perpisahan, hanya karena ia ingin melakukan itu. Ketika segalanya terasa begitu remeh, yang remeh pun bisa menjadi persoalan serius. Ah, bukankah ini yang kita yang lihat medsos setiap hari?

Kundera tak lagi peduli dengan gagasan hidup yang berat atau ringan, cepat atau lambat. Memori, lupa, identitas, hidup yang senantiasa berlari. Karena seperti yang dikatakan oleh Ramon, setelah tua, Kundera seperti melihat hidup dengan cara lain:

At this point, though, insignificance looks entirely different to me than it did back then; I see it in a whole other way—in a stronger, more revealing light. Insignifance, my friend, is the essence of existence. It is all around us, and everywhere and always. It is present even when no one wants to see it: in horror, in bloody battles, in the worst disasters.

Novel ini mengingatkan saya pada film-nya Allen yang berjudul To Rome With Love di mana dia berkeluh kesah tentang bagaimana rasanya menjadi tua dan dilupakan, ketika apapun yang dia lakukan di masa lalu, seberapapun jayanya dia, suatu saat dia akan menjadi puing dan dilupakan, menjadi tidak berarti. Ini tak sama dengan meratapi ketidakbermaknaan hidup dalam perspektif Camus. Camus masih muda ketika ia menuliskan Mite Sisifus dan novel-novel eksistensialis macam The Stranger atau The Plague.

seduction-lightness

sabina oh sabina

Bagi Camus, ketidakbermaknaan hidup harus dilawan. Kita harus memberontak. Ada kesan, Camus adalah anak muda yang marah-marah, yang sangat emosional ketika dihadapkan oleh kebuntuan hidup. Tak sama dengan Woody dan Kundera, keduanya sudah terlalu tua untuk meratapi hidup. Bagi mereka, segalanya terasa begitu insignifikan, dan tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali dengan tidak menganggapnya terlalu serius. Seperti Joker dalam film The Dark Knight—kalo hidup tidak punya makna apapun, kenapa harus dianggap serius? Masalahnya adalah, kata Kundera, peradaban kontemporer masih teralu serius dalam menghadapi hidup. Dalam artian, kita tak lagi mampu menganggap enteng kehidupan dengan lelucon yang kuat. Lelucon kita terlalu lemah untuk menjadikan hidup yang penuh dengan kegilaan ini tertahankan; hidup yang penuh darah, pembunuhan, horor, kemunafikan, kekejian, persis seperti yang dilaporkan oleh berita-berita di media masa dan Twitter. Pelawak modern masih bisa dibilang lucu, masih bisa bikin orang tertawa. Tapi mereka masih menganggap serius apa yang mereka jadikan bahan lelucon. Dan memang terasa. Di mana kelucuan? Di mana penulis-penulis baru yang bisa menawarkan lelucon segar?

Pada akhirnya kita akan dihadapkan pada pertanyaan itu lagi. Apakah status yang kita tulis, berita yang kita bagi, betul-betul akan punya pengaruh atas apa yang terjadi di dunia? Logikanya ada, secara agregat, propaganda para ekstrimis berbuah manis di medsos, tapi kalo kita melihat diri sendiri, secara mikro, apakah kemarahan yang kita tumpahkan di medsos akan punya efek? Apakah semua itu worth it, apakah semua yang kita lakukan di medsos itu layak dianggap serius? Mungkin kalo kita sudah gaek kayak Kundera, dan melihat betapa sedikit yang kita capai, dan betapa semua itu kini insignifikan ketika detik-detik kematian semakin dekat, segalanya menjadi tidak begitu berarti. Tidak lagi penting siapa benar atau salah—seratus tahun lagi, semua ini tak lagi berarti bagi kita. Insignifikan!

Ini novel terakhir Kundera. Tak ada alasan baginya untuk menulis lagi.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: