Matinya Nostalgia

June 21, 2015 at 10:17 pm | Posted in katarsis, komentar | 3 Comments
Tags: ,

Satu lagi, apa yang membuat kita manusia terhempas.

Nostalgia saat ini berada dalam keadaan sekarat. Dia tak lagi berarti, habis digerus oleh repetisi, dangkalisasi, infantilisasi media sosial. Ini kali hiperbola, seperti misalnya, orang bilang Seni tak lagi ada kini, dan elitisme budaya hancur berantakan di era medsos. Padahal, Seni tidak betul-betul mati, bahkan ketika setiap orang merasa diri inkarnasi Chairil di Twitter. Pun, media sosial masih punya struktur—meski segregasinya tak sekentara dan sekaku dahulu; elistisme masih menjadi fakta sosial, masih menjadi norma.

Tapi ini nyata. Seperti puisi, efek nostalgia pudar oleh budaya masa Internet.

Saya tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tak penting siapa yang salah. Kita tak bisa melawan mesin. Sejak dulu, manusia sudah di-wired untuk mencintai mesin, karena mesin, teknologi adalah candu! Dan ketika laptop dan ponsel pintar dan laman jejaring sosial seperti Fesbuk, Path, Twitter, Whatsapp, BBM, dlsb. menjadi bagian penting dalam keseharian, maka kita tidak bisa mengelak untuk tidak terekspos meme semacam di bawah ini:

masa-kecil-bahagia-dan-sejahtera

tak tau siapa namanya, tapi dulu semua anak kecil yang suka nungguin serial saint seiya setiap rabu sore pasti kenal mukanya

Sekilas, nostalgia kolektif semacam ini bisa terasa sangat heartwarming. Ah, masa lalu! Dan, ah, aku tak sendirian! Generasi 90-an FTW! Tapi, kalo dipikir-pikir, bukankah gejala ini bermasalah? Menurut saya, ke-dimana-mana-an nostalgia bisa menyebabkan:

Satu, Nostalgia Mengalami Saturasi

Di masa lampau, nostalgia tidak datang setiap hari. Biasanya, nostalgia datang kalo kita pulang kampung. Atau ketika mau pindahan dan kemudian menemukan barang lama, apapun itu, yang sekejap membawa kembali semua kenangan kita bersama itu barang, barang yang dulu kita anggap penting, yang kita pikir sudah lama hilang. Yang kita lupa kita pernah memilikinya. Nostalgia, kalo datangnya dari kondisi eksternal, bukan internal, adalah kemewahan, sebuah pengalaman yang istimewa dan bernilai karena ia tidak sering terjadi, datang sebagai peristiwa yang acak. Itu sebab nostalgia adalah nostalgia. Seperti satu adegan dalam film Amelie, yang menurut saya bagus, lucu sekaligus mengharukan.

Kini lain, medsos tak hanya membuat kita ingin untuk bernostalgia setiap hari bersama Youtube, mendengarkan lagu pembuka drama seri Aku Cinta Indonesia (ACI), atau Si Unyil, Candy Candy, Winspector, Satria Baja Hitam, Sailor Moon, dlsb., tapi kita betul-betul terekspos oleh berbagai imaji nostalgis. Muncul begitu saja di linimasa. Tanpa permisi. LIHAT INI NOSTALGIA, NOSTALGIA KITA SEMUA! Ini tentu tak bisa ditoleransi. Dalam artian, cepat atau lambat, meme nostalgia ini akan menjadi sangat menyebalkan. Dan kemudian, tanpa Anda sadari, Anda akan menjadi kebal terhadap efek romantik, perasaan rindu yang dipicu oleh nostalgia. Pendeknya, saturasi. Resikonya? You’re incapable of nostalgia.

gelembung

Hoaaa

Dua, Orang Jadi Gagal Move On

Seperti dijelaskan Kundera, nostalgia itu berasal dari bahasa Yunani, nostos, yang berarti kembali, dan algos, yang berarti derita. Jadi, secara harfiah, nostalgia adalah derita yang disebabkan oleh keinginan untuk kembali. Itu sebab sebagian kita (saya termasuk) bisa mewek gak jelas kalo denger lagu-lagunya Indra Lesmana seperti Cerita Lalu atau Biarkan Aku Kembali. Indra adalah musisi lokal yang paling brilian dalam mengeksplorasi tema nostalgia. Lagunya sinting, dijamin orang gagal move on. Bahkan, ada satu lagu dia yang berjudul Nostalgia. Tapi gagal move on-nya Indra lain. Lagunya memang bikin orang merasa nostalgis, tapi gak bikin orang ingin  hidup di masa lalu. Ini nostalgia yang sebatas nostalgia—nostalgia orang galau. Yang saya maksud dengan gagal move on di tulisan ini adalah gagal move on dalam arti orang udah umur berapa masih doyan Star Wars, Harry Potter, Naruto, Final Fantasy, dlsb. Jadi, ada gejala kalo aksesibilitas atas segala yang nostaljis di Internet bikin orang gagal move on untuk cepet gede. Ini jadi semacam extended adolescence. Apa kalian gak terlalu tua untuk doyan Iron Man atau Transformer? Ya gak salah juga memang suka film-film superhero yang target audience-nya anak remaja. Tapi kalo Holywood sudah mulai bikin lanjutan Jurassic Park dan Star Wars dan Terminator, ini artinya apa? Yang doyan itu tiga film saya yakin udah kepala tiga semua, dan para pembuat film itu tau bahwa mereka punya pasar, yakni orang-orang yang gagal move on dari dekade 1990-an (orang-orang seperti saya!) Tapi, tapi, apa kita gak terlalu tua? Apa gak bisa nostalgia menjadi nostalgia saja? Apa perlu kemudian kita mengulang kembali yang sudah lewat, secara literal?

star wars

okelah star wars mungkin pengecualian tapi harry potter?

Tiga, Orang Jadi Bangga-Banggain Generasi

Ini efek yang paling saya benci dari nostalgia kolektif di Internet. Masalahnya dengan nostalgia adalah, ia juga bisa diartikan sebagai denial of the painful present. Itu sebab orang pada suka marah-marah di Youtube komplen lagu sekarang jelek semua gak kayak dulu waktu Dewa dan Slank masih jaya, waktu masih ada Guns N Roses dan Nirvana. Ini bikin orang jadi ujub sama generasinya sendiri, seolah tahun 1990-an gak punya Justin Bieber-nya dan One Direction-nya sendiri. Kadang ini bisa sangat konyol. Dulu pernah saya baca postingan tentang kenapa generasi 90an adalah generasi paling beruntung sepanjang masa. It’s stupid and moronic, I know! But it’s true. So true. Coba lihat ini meme yang ini:

generasi

aren’t we the luckiest generation ever!!!??

Ini bukan masalah generasi Internet saja. Dari dulu orang udah bangga-banggain generasinya sendiri. Dan jelek-jelekin generasi sekarang. Mungkin bedanya, kalo dulu itu urusan orang tua dan anak muda. Kalo sekarang? Dua-duanya anak kecil, pecicilan, annoying.

Epilog: Masa Depan Nostalgia di Medsos

Hampir semua waktu luang kita kita habiskan di Internet, di Fesbuk. Dan kini Fesbuk punya fitur yang bisa bikin ente merepost status lama, seolah itu status baru. Di sana, orang tak bisa lagi membedakan apa yang terjadi dulu dan kini. Karena apa? Sering kali, sedikit sekali yang berubah. Pada dasarnya, apa yang kita lakukan di Internet ya gitu-gitu aja. Kalo blog masih mending. Tulisan panjang bisa dianggap sebagai diari. Tapi kalo komentar Fesbuk. Entah gimana they all look the same. Ini seolah apapun yang kita lakukan tak benar-benar pergi, tak benar-benar hilang. Kenangan, berubah menjadi arsip, yang bisa dicari kapan saja, di-retrieve dan kemudian diposting ulang. Selama kita masih ribut-ribut Jokower dan Prabower dan FPI—ya selamat tinggal nostalgia, selamat datang de ja vu.

Advertisements

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. iya, udah dari beberapa bulan lalu eneg sama kata generasi 90-an.
    awalnya waktu itu muncul sih saya juga ikutan “oh ok iya dulu gue pernah itu”
    makin ke sini makin sering hal itu seliweran di net.

    saya rasa masing2 generasi adalah masanya sendiri, kelebihan, kekurangannya.

    Makasih buat tulisannya, mudah2an membuka mata generasi 90-an yang
    masih gagal move on xD

  2. Ya.. segala kemajemukan kepribadian, itu yg bikin hidup berwarna kan. Saya termasuk generasi 90an yg dulu bisa baca komik dragon ball,one peace,kobochan, kariage dll 80 edisi dalam 8jam(jatah tidur yg gk di pake).
    Tapi sekarang saya lihat one piece, saint saiya, robo cop.. gak ada rasa apa apa. Sibuk kerja,urus rumah tangga,friendship..
    Tapi sekali saya pegang buku kobochan dan serial kyoko hikawa.. saya bisa seharian ada di kasur. Di usia segini. Dan.. saya bahagia. Sudah dewasa dan masih memiliki sifat kekanakan. Inget dulu pernah renang ngajak anak kosan yg masih smp. Saya renang siang bolong jam 12,pake ban(gak bisa renang). Anak itu tanya “kakak sekarang umur berapa sih?” Sambil cipuk cipuk, saya bilang “27” lalu dia nyengir “kalau udah gede,aku pingin jadi kayak kakak” katanya. Aww, what a sweet little girl. Dan saya pun berharap, sikap kekanakan saya gak akan hilang, bahwa nanti saya tetap bisa menjadi orang tua yg nggak peduli kulit menghitam _karena makin kesini,makin khawatir sama kondisi kulit :(, _ hiking n traveling dg anak.. semoga sifat dan semangat kekanakan saya yg mulai terkikis ini, tetap ada.

  3. Tapi saya sangat setuju dg tulisan anda, semoga dg banyak nya serangan nostalgia di media, tidak membuat kita kebal dg perasaan nostalgia itu sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: