Lanjutan Parabel ‘Kisah Nyata Marbot Masjid’

May 24, 2015 at 1:33 pm | Posted in hikmah, iseng, katarsis | 2 Comments
Tags: , ,

mesjid

Yang ada dalam pikiran Zaenal adalah gundah.

Katanya dalam hati: “Anjrit! Malu banget gua! Maluuu. Malu banget, anjrit!”

Zaenal pun bergegas keluar masjid, ke tempat wudhu, mencari Ahmad. Mungkin, dia pikir, Ahmad masih ngepel lantai di sana, dengan celana ngatungnya, dengan kerendahhatiannya yang luar biasa. Dan dia akan berlutut padanya, “Maafkan saya, Ahmad. Saya sudah begitu sombong! Maafkan saya! Saya malu sekali! Kenan kau memaklumiku, Ahmad!?”

Tapi yang ditemui Zaenal cuma lantai basah yang sedikit licin abis dipel. Kawan lamanya yang pintar dan kini sukses tapi hidup sederhana sebagai marbot masjid itu sudah tidak lagi tampak batang hidungnya. Zaenal tak pelak disergap perasaan sesal yang dalam. Berlari lagi dia ke dalam masjid, bertanya pada marbot pegawai Ahmad:

“Mas, di mana rumah Ahmad? Saya bisa minta alamatnya?”

“Oh, Mas, maaf, saya tidak bisa kasih alamat beliau. Saya tidak berani.”

“Loh, kenapa? Saya butuh, Mas. Ini penting sekali buat saya.”

“Maaf, Mas. Kalo mau, Mas besok datang lagi ke sini, di masjid ini, pada jam yang sama.”

“Ahmad besok ke sini lagi? Ada di sini lagi, dia?”

“Setiap hari, Mas. Datang saja.”

Di perjalanan Zaenal tidak bisa berhenti memikirkan pertemuannya yang teramat ganjil dengan kawan lamanya itu. Bukan karena Ahmad sudah jadi kaya raya dan masih hidup sederhana, zuhud malah. Tapi karena dia merasa dia sudah berlaku pongah tanpa dia sadari, dan Ahmad diam saja! “Goblog, mana gua tawarin pekerjaan segala. Tolol! Tolol!” Dia merasa malu sekali—seolah semua pencapaiannya tak lagi berarti baginya.

Pada malam harinya Zaenal menceritakan semuanya kepada istrinya. Istrinya yang setengah tidur hanya mengiyakan. Lalu tidur lagi. Ada rasa kecewa sedikit dalam hati Zaenal. Tapi dia pikir istrinya capek. Dia memutuskan untuk solat tahajud saja, mencoba menenangkan diri, mengenang kebodohannya hari itu. Dan juga Ahmad. Kawan lamanya yang dia kenal cerdas itu. Yang sudah membuatnya malu tujuh turunan. “Ya, Allah…” serunya, lirih.

Besoknya Zaenal kembali ke masjid di puncak pas itu. Dicarinya Ahmad. Disasarnya setiap penjuru masjid. Dan dia lihat kawan lamanya sedang duduk di teras belakang.

“Ahmad! Ahmad!”

Sang kawan, yang sedang khusuk melamun, terperanjat.

“Ahmad, aku sudah tahu semuanya. Maafkan aku, Ahmad! Maafkan aku sudah menganggap rendah kau. Bagaimana kau bisa melakukan semua ini?

Mengapa kau tidak menghentikan kepongahanku?”

Ahmad bingung: “Lah, bilang apaan? Mabok ente?”

“Tidak, Ahmad. Aku tahu kau yang buat masjid ini. Kau pun yang mengelola hotel dan mall yang megah di bawah sana. Pegawaimu yang menjelaskan semuanya padaku.”

“Eh, pegawai yang mana?” Tanya Ahmad bingung.

“Yang kemarin solat di belakangku. Aku tidak tahu namanya.”

“Oh si Ujang. Alah, ente mau aja dikibulin si Ujang. Dia itu kawan ane. Dia dagang es kelapa. Dia emang usil, doyan ngerjain ane. Boro-boro ane punya hotel, nginep di hotel aje gak pernah. Duit dari mana? Dikira merbot gajinya gede apa.”

Zaenal keder. “Oh, jadi ente bukan yang bikin ini masjid?”

“Kagaklah. Ngaco ente.”

Wuah, entahlah apa yg ada di hati dan di pikiran Zaenal…

***

Bagaimana menurut kita? Ya salah si Zaenal lah. Kalo menerima kabar dari orang ya mestinya dicek dulu. Benar atau tidak. Jangan keburu pusing dan mengambil sikap yang berlebihan. Apalagi ini cuma cerita dari Internet yang kagak jelas asal-usulnya. Sayang subahnallah-nya. Sebagai sebuah parabel ini tentu saja sangat menarik dan bisa sangat bermanfaat. Dalam tradisi agama Ibrahimiah, parabel itu manhaj pembelajaran yang sangat efektif. Tapi, ya, kisah ini harus disikapi sebagaimana adanya, sebagai cerita saja, tidak usah diklaim sebagai “kisah nyata.” Meskipun, gila keren banget kalo ini beneran!

Kalian pasti sudah bosan lah mendengar ayat ini. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat: 6)

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mak Jleb… !!

  2. Harusnya yg di share itu yg ini, gimana sih orang2 itu. Kenyataan mungkin pahit, tp itulah yg nyata, yg punya andil langsung dlm hidup kita. Indon senengnya dicekokin mimpi indah mulu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: