Betaria Sonata, Daesh dan PKI

May 19, 2015 at 10:13 pm | Posted in katarsis | 3 Comments
Tags: , , , , ,

Disklemer: Blog ini tidak mempromosikan ideologi apapun.

ADA INTIMASI DARI LAGU IDEOLOGI YANG TAK SELAYAKNYA KITA DENGAR ITU. Rasanya seperti menikmati lagu menye Betaria Sonata dan sadar: I’m not supposed to like this. Bedanya, ini bukan lagu patah hati. Ini lagu perang, lagu perjuangan. Yang entah bagaimana ditulis dengan sebegitu emosionalnya, dengan irama, melodi dan lirik yang terasa begitu intim. Saya bukan fanboys PKI, apalagi Daesh. Saya terlalu pemalas, terlalu pengecut, terlalu skeptik untuk memberikan semuanya pada ideologi apapun. Tapi ada yang menggoda dari kesungguhan mereka, delusional atau tidak, untuk menjadikan nyata apa yang selama ini mereka percayai, mereka impikan. Saya pikir lagu-lagu di bawah ini sangat lah epik, terlepas dari setuju atau tidak setujunya Anda pada narasi yang mereka yakini.

Berikut ini empat lagu ideologis yang saya maksud:

رددوا الله أكبر أنه النصر المبين

Kalian tak mesti paham lirik dari nasyid ini. Lagu ini catchy banget sebagai sebuah anthem. Gimana mereka gak semangat berperang dengan lagu tema semacam ini. Dan ini hanya satu dari beberapa lagu yang mereka buat. Daesh sering kali disebut sebagai anti-peradaban, anti-kebudayaan. Padahal, propaganda mereka itu setara dengan propaganda komunisme. Dan lagu perang mereka tidak kalah epik. Kayak lagu ini. Epik, dan ini sungguhan, ditulis oleh mereka yang percaya perang, pada kekerasan atas nama keyakinan, bukan anak SMA yang pengen disebut jagoan dan bangga disebut sebagai penggemar hip hop.

Dengerin suara latarnya! This is for real. Jenius.

Pujaan Kepada Partai

Sejarah PKI itu sejarah gelap. Dan lebih dari itu, kalian yang lahir setelah 1965 sampe 1990, sudah habis didoktrin Orba untuk mengibliskan semua yang terkait PKI. Ini partai, partai setan. Kalo kalian senang baca buku sejarah, dan tidak membatasi diri pada buku sejarah di sekolahan, tapi juga karya ilmiah yang ditulis oleh akademisi, lokal atau luar, kalian mungkin akan bersimpati pada mereka, pentolan PKI yang bagaimana pun bukan lawan sepadan kekuatan militer di bawah Nasution dan Pak Harto waktu itu. Nah, ini saya baru dengar lagu hymne PKI. Dan saya pikir lagu sangat relijius, meskipun ya dalam pandangan dunia komunis, Tuhan itu tidak perlu, dan agama itu candu. Sekular, ateistik, tapi relijius.

امتي قد لاح فجر

Konon ini lagu kebangsaannya Daesh. Ini lagu yang sering digunakan dalam setiap video pawai mereka, dengan mobil Toyota pick up beserta bendera tauhid atau ar-royah mereka yang terkenal itu. Fajar khilafah telah datang, mereka bilang. Ini adalah video propaganda yang luar biasa. Kalopun memang kalian sadar segala cacat dalam logika pejuang Daesh—yang sebetulnya lumayan sulit untuk ditemukan di tengah sistem global yang timpang, dengan segala kemunafikan Barat dan kekuatan politik di Timur Tengah—kalian akan tetap mendapati lagu nasyid ini sebagai sebuah lagu march perjuangan yang gila. Badass.

Soviet March

Ini sebetulnya lagu game, bukan lagu komunis. Tapi semangatnya semangat lagu Soviet, semangat tentara marah. Toh judulnya ada Soviet March. DAN LAGU INI EPIK! Rasanya kalo denger lagu ini udah pasti menang perang. Rasanya kalo pun kalah, kalahnya dengan sangat terhormat, dengan sangat berani. Komposer Rusia emang gila. Secara teknis, komposisi ini jauh lebih superior dari lagu nasyid-nya Daesh. Dan kalo emang Putin siap perang lagi—gila aja kalo ini lagu perang jadi sontrek. Ini lagu orang siap menang. Hoaaah!

Kalo mau denger lagu kiri ya ini: the Internationale.

***

Kebebasan memang bukan syarat mutlak kesenian. Yang penting dari kesenian adalah inspirasi, dan ideologi adalah mesin inspirasi yang sangat ampuh. Tidak heran bila seniman-seniman komunis atau sosialis bisa bikin karya yang sangat bagus. Lihat saja Lekra di Indonesia. Ada yang menandingi tetralogi Buru? Agama pun sama. Lihat Rumi, sebagai penyair, dan coba dengar lagu-lagu gereja buah karya Bach. Atau, coba dengar lagunya Semakbelukar. Kesungguhan ini yang bikin sebuah karya seni itu berisi. Hanya lagu-lagu yang lahir dari ekstrimitas yang bisa menggerakan orang. Lagu epik yang lahir dari kevakuman ideologis biasanya berakhir konyol, seperti lagunya Europe: Final Countdown.

Oh, kecuali Die Walkure-nya Wagner. Tapi ini juga lagu Nazi itungannya.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Sori gua agak OOT, Gen. Tapi tolong dengerin kalo lo berkenan. http://www.reverbnation.com/senartogok/song/19205836-om-namah-shivaya

  2. Hi, thanks for sharing. Tapi kayaknya ini bukan musik yang biasa gue dengerin. Sounds good, though. Kayaknya susah musiknya.

  3. […] the boys of Abu Bakr al-Baghdadi do, but the latter are definitely better at nasyid songwriting. Daesh nasyids are superb. They astound you, they move you. They do not sound like a […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: