Tragedi Generasi Medsos

May 4, 2015 at 10:55 pm | Posted in katarsis, komentar, ngoceh | 2 Comments
Tags: ,
“آه أيها السادة والسيدات، كم هو حزين أن يعيش المرء وهو غير قادر على أن يأخذ أي شيء أو أيّ شخص على محمل الجد !”
ميلان كونديرا
“We’ve known for a long time that it was no longer possible to overturn this world, nor reshape it, nor head off its dangerous headlong rush. There’s been only one possible resistance: to not take it seriously.”
Milan Kundera

Kita sudah kalah, sobat. Pada kala ini, kita adalah korban dari revolusi informasi. Tak cukup sekali dua dalam sehari, kewarasan kita diuji. Kalo hari ini Palestina, besok Suriah, besok Mary Jane, besoknya lagi Orang Utan, dan seterusnya hingga kita harus bertanya: apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus angkat kaki dari rumah, bangun dari tempat tidur, siapin backpack dan minggat ke mana ada derita dan berupaya sekuat tenaga untuk mengubah semuanya, untuk sekedar menemani mereka yang sakit, bahwa kita peduli, bahwa mereka tidak sendirian? Ini terdengar seperti tindakan yang sangat konyol.

3591336-2464099987-TDK__

Pada satu bukunya, Milan Kundera bilang: orang itu hidupnya sedih sekali bila dia tidak bisa menganggap sesuatu atau seseorang secara serius. Di satu sisi, ini benar. Bila tidak ada satu hal pun yang bisa kau seriusi, hidup kehilangan bobotnya. Saya gak bilang Anda harus punya ambisi, harus kuliah di UI atau Harvard, atau menjadi presiden direktur Bank Mandiri. Tidak, yang saya maksud adalah, kadang seseorang harus berjuang untuk sebuah nilai. Kau, misalnya, tak ingin ada orang lain mengatur cara kamu beragama, cara kamu memahami Tuhan. Apabila ada orang datang bilang kau sesat, atau apabila datang aparat negara bilang kau sesat, kau akan meradang. Bajingan. Ini prinsip! Tentu, tak semua orang akan bersikap begini. Tapi kau menganggap kebebasan itu persoalan serius. Ini bukan soal agamamu, atau pemahamanmu tentang Tuhan itu lebih benar atau tidak, kau hanya berpikir kebebasan itu persoalan serius, persoalan penting yang tidak bisa ditawar-tawar.

Kau tak bisa diam. Kau harus bicara. Ini serius!

Tapi di sisi lain, entah ini kutipan Kundera apa bukan, kayaknya akan muncul di bukunya yang baru akan terbit dalam bahasa Inggris bulan Juni ini, Kundera bilang: Kita sudah lama tahu kalo kita tidak akan pernah bisa mengubah dunia, membentuknya kembali, atau lari tunggang langgang menerjang bahaya dunia. Hanya ada satu perlawanan: dunia jangan kau anggap serius! Ini juga masuk akal. Kita tidak bisa mengubah dunia. Kau bahkan tak bisa mengubah istri dan anakmu, orang lain dan juga dirimu sendiri. Apa yang membuatmu berpikir kau bisa mengubah dunia? Iya, betul. Kadang kita hanya perlu bersikap. Dan sikap ini katartik. Ini tak harus berujung pada perubahan. Misalnya kau tinggal di bawah Nazi, dan bilang Hitler bangsat dan harus segara turun. Kau mati, tapi kau mati karena menyatakan sikap. Dan ini mungkin bukan sesuatu yang sepenuhnya jelek, kan?

1000509261001_1630293503001_BIO-Biography-Adolf-Hitler-SF

Tapi kau tetap tak bisa mengubah dunia. Biar pun poster motivasi yang kau lihat di mana-mana bilang sebaliknya. Dan kau tak bisa secara terus menerus menyatakan sikap. Kau akan mengalihkan perhatian mu pada yang lain. Kau akan lupa. Kau akan berurusan dengan hal-hal yang tak begitu serius. Kau ingin tertawa. Kau ingin bercinta. Kau ingin nonton TV seharian, pesan KFC dan menghabiskan waktu di Internet. Selama kau bisa begitu. Kau tak lagi serius menanggapi dunia. Kau tak lagi serius membela apa yang kau yakini. Karena pada akhirnya kau tidak sungguh-sungguh terlibat—kau hanya ingin berada di dalam kamar, tidak peduli apa yang terjadi dengan dunia luar. Semua orang munafik mungkin, ketika mereka sok peduli di medsos. Tapi tak semua orang sadar akan kemunafikannya. Dan bila pun sadar, tak semua orang mau menerima, secara konsisten menyangkalnya.

Tapi ada juga yang sadar, dan kemudian bilang: Ya udahlah. Gue sadar gue munafik, tapi yah mau gimana lagi? Masalahnya mungkin kepraktisan. Serius itu menguras energi. Orang tak bisa terus menerus serius. Apalagi bila semuanya terasa begitu konyol dan sia-sia. Kadang, aku pikir, kenapa kita merasa perlu merasa benar, atau dibenarkan? Atau tidak merasa bersalah, atau disalahkan? Dan yang lebih aneh lagi, kenapa kita merasa perlu untuk menyalahkan atau membetulkan orang lain? Hidup itu luar biasa konyol.

Kenapa kau selalu merasa perlu untuk terus berdebat di Internet?

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Barangkali masbro tertarik baca link ini: compassion fatigue.

  2. ^ Iya ini kayaknya mengalami itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: