Indomie, Keratahan Modernitas dan Transgresi Para Pelaku Bidah: Refleksi Filosofis Atas Berbagai Manhaj Masak Indomie Rebus

May 2, 2015 at 12:17 pm | Posted in iseng, katarsis | 6 Comments
Tags: ,

Prolog: Mie Instan Yang Superior

Dan ketika gema khilafah berkumandang di negeri Syam—para muwahid yang berjuang melawan taghut melewati harinya dengan makanan kesukaan kita semua: Indomie rebus. Seolah-olah, dalam hidup kita yang singkat ini, hanya ada dua kepastian: yang pertama kematian, yang kedua kelezatan mie rebus. No, I’m not kidding! Ini bukti!

indomie suriah

kepastian mati, kepastian rasa

Postingan ini tidak ada hubungannya dengan jihad di negeri Syam. Iya, lah! Kita adalah manusia paska-politik. Paska-agama, malah. Jelas Anda bukan mujahid—Anda hanya orang biasa yang ingin menghabiskan masa hidup Anda di dunia seenak-enaknya, senyaman-nyamannya, senikmat-nikmatnya. Seperti Indomie rebus yang kita santap pada malam sepi yang keroncongan, begitu sunyi Anda bisa dengar perut Anda bernyanyi. Oh, laparnya! Oh, laparnya! Kenapa tidak kau rebus Indomie saja, bujang? Sudah larut memang, tapi itu tidak menghalangi Anda untuk klontang konteng di dapur—merebus air, meredam mimpi, merelakan hasrat tidur, demi untuk semangkuk Indomie. Saya pun tak beda dengan Anda sekalian. Saya penyantap Indomie. Tidak terhitung berapa kali saya merebus air dan buka plastik Indomie. Begitu banyak saya akhirnya mendapatkan banyak pelajaran hidup yang berharga dari bagaimana saya melihat cara saya memasak Indomie. Begini:

Keratahan Yang Jelita: Indomie dan Modernitas

Falsafah dasar Indomie adalah keratahan yang jelita; keratahan yang sempurna. Dalam bahasa iklan, disebut juga sebagai kepraktisan. Satu hal yang tidak bisa kita pungkiri; bahwa pesan yang ingin disampaikan oleh Indomie adalah pesan universal yang kita semua bisa terima, bahwa makan enak tidak harus mahal, bahwa makan enak tidak harus susah, bahwa makan enak tidak mengenal kelas sosial. Bohong kalo orang kaya gak suka Indomie, atau gak pernah makan Indomie. Indomie adalah makanan kita semua; makanan korban banjir, makanan mahasiswa kere, makanan anak manja yang kalo laper suka teriak: ‘Mbaaaaaak!’ Itu karena Indomie sangat mudah, dan enak. Di pengungsian atau di dapur keren dengan disain interior khas orang kaya, prinsip masak Indomie itu sama: simplicity.

indomie1

Oleh sebabnya itu, saya tidak pernah masak Indomie dengan cara yang sulit dan njlimet—misalnya direbus dulu, lau digoreng dengan telor, atau diapainlah. Karena saya gak bisa tahan sama ironi. Kalo memang dasarnya untuk membuat mudah, semudah berhitung satu, dua dan tiga, kenapa harus dibuat menjadi njlimet? Itu sebab, dalam hidup, saya selalu mencari dan sangat menghargai simplicity. Bukan, ini bukan sekadar nyari gampangnya aja. Ini tentang menghargai kesederhanaan. Tentang hidup yang gak muluk-muluk. Menemukan makna hidup, keberartian pada yang remeh, pada semangkuk indomie, kriting dan panas berasap, pada suatu malam jeda, setelah kemarin usai, dan esok menjelang.

Distraksi Sayur Mayur: Ornamen Sebagai Bidah 

Screen Shot 2015-05-02 at 4.30.50 AM

Ini semua bidah! Bidah!

Kita harus paham alasan kenapa Nabi bilang bidah itu salah dan tempatnya di neraka. Karena bidah-bidah itu bukan hanya menegasikan kemurnian agama, tapi merupakan simbol dari kecongkakan anak manusia, seolah apa yang sudah diberikan Allah tak lagi sempurna. Sama halnya dengan Indomie. Sayur mayur yang sejatinya berfungsi sebagai ornamen, sering kali berubah menjadi printilan-printilan tak berguna yang menodai sakralitas konsep Indomie sebagai makanan murah. Indomie itu tidak punya pretensi menjadi makanan sehat. Sejak awal, Indomie itu menahbiskan diri sebagai makanan enak. Sayur mayur yang kau taburi itu cuma jadi distraksi saja. Tidak membuat Indomie menjadi sehat. Itu sebab, dalam hidup saya selalu sadar akan kemurnian hal-hal yang saya anggap penting dan nyaman. Itu sebab, dalam banyak hal, saya ini sebetulnya konservatif. Saya selalu curiga pada inovasi—pada bidah yang tak perlu dan merusak. Kalo sudah enak, kalo sudah bener dari sananya, jangan diutak-atik lagi! Jangan melawan tradisi, apalagi yang sudah mengkristal dalam sejarah!

Manhaj masak Indomie saya adalah manhaj salafi: bersih dari bidah.

Ayam Goreng Yang Subversif Pada Bungkus Indomie

ayam goreng

Ayam goreng itu subversif. Karena sering kali, bahkan dalam iklan indomie, ayam goreng selalu diposisikan lebih utama, seolah dia lebih enak lebih penting dari Indomienya. Ini salah. Ini subversif. Karena ayam goreng itu harusnya ornamen atau pelengkap saja. Ayam goreng itu figuran, bukan peran utama. Jangan sampai makan Indomie dan kemudian berpikir kalo ayam gorengnya itu adalah menu utamanya, lebih penting dari Indomie-nya. Ini salah. Salah besar. Semestinya bungkus Indomie itu gambar mie-nya saja. Itu sudah lebih dari cukup. Tanpa gambar pun, Indomie pasti laku. Saya percaya ini. Karena ini cara saya melihat dunia. Kita harus fokus pada apa yang kita kejar, bukan pada printilan yang sebetulnya cuma gimmick, bukan yang utama dari apa yang kita kejar. Misalnya, kalo ente mau jadi penulis, maka menulislah untuk bisa menulis, bukan untuk jadi terkenal sebagai penulis!

Keju dan Kornet Sebagai Toping—Sacrilege!

A0379

Na’uzubillah min dzalik, Kufur ini! Kufur!

Ini sebuah penistaan. Tak semestinya Indomie diperlakukan seperti itu.  Masya Allah. Istighfaaar. Bagaimana bisa itu Indomienya ketutupan keju! Tak sadarkan mereka akan transgresi yang mereka lakukan. Dalam hidup, orang harus bisa menghormati apa yang dia suka. Ini sama saja dengan ngebedakin istri pake keju dan kornet—sungguh ini sebuah transgresi, ekstrim, ghuluw! Tak perlu filsafat untuk mengutuk kebiadaban ini.

Indomie, Krisis Identitas dan Kejemuan Eksistensi 

Indomie adalah simbol dari ketercerabutan generasi orang Indonesia paska-perang, paska pembantaian PKI 1965 dan matinya ideologi, apakah itu Islam atau sosialisme. Lebih dari itu, Indomie adalah lambang dari keterputusan manusia dari orang tuanya, menjadi individu yang bebas dan mandiri, gak ada yang masakin, udah malem laper—masak sendiri. Indomie adalah simbol dari kejemuan eksistensi, ketika steak Holycow dan rebusan Hanamasa terasa membosankan dan mahal dan males jalan parkir di mall dan melihat orang-orang setengah kaya pada mejeng. Indomie adalah perlambang dari duka nestapa dan salvasi manusia modern yang tak lagi bisa menemukan makna pada bukan hanya kapitalisme (Indofood, produsen Indomie, itu bukan korporasi yang saleh juga), tapi gerakan anti-kapitalisme itu sendiri. Indomie adalah nihilisme konsumsi—sehat gak sehat, kapitalis gak kapitalis, mahal atau murah, enaknya, keratahan Indomie adalah simbol resistensi.

Demikian

Advertisements

6 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Lucu nggak sih tulisan ini ?

  2. Gak jelas, Mas. Asal nulis aja. Lupa mau serius apa ngelucu. Kalo lucu ya sudah, kalo gak lucu ya sudah.

  3. Dan sebenarnya Indomie telah menjadi agama, karena telah membawa kemaslahatan beta, ente, dan mungkin saja kaum mustadaafin. He..he.

  4. Sejatinya sayur mayur pada Indomie itu adalah bentuk kesetengah-setengahan dalam menjalankan ritual suci makan Indomie.

    Ibarat anak kecil baru belajar puasa, sewaktu Dhuhur bolehlah dia berbuka. Sah-sah saja, selama tidak keberatan disebut belum akil balig.

  5. Gak ngerti gimana caranya nyampe ke post ini, but seriously you made my day, eh night, eh day, itulah pokoknya. Makasih yak. 😀

    Indomie yang dikasih sayur itu memang bentuk denial kok, supaya seolah olah ngasi pembenaran kalo indomie bisa jadi sedikit lebih sehat.

  6. @Rami: Kaum mustadaifin betul.
    @Nazieb: Hahaha.
    @Rizma: Tapi masih enak-enak juga sih pake sayur hahaha


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: