lagu jingga yang lain

April 19, 2015 at 9:10 am | Posted in apresiasi, iseng | Leave a comment
Tags: ,

itu band lama, duo jingga.

dari segi lirik, agak murahan, kayak lagu-lagunya katon bagaskara, atau dewa 19 album ‘format masa depan.’ istilah baratnya: sopomorik. maksudnya, liriknya puitis, tapi puitis anak kelas dua SMA; atau anak kuliahan semester tiga. kata yang jadi langganan biasanya ‘jiwa’ atau ‘asa.’ gak jelek-jelek banget sih. tapi gak berada di level yang sama dengan lirik lagunya the upstairs yang judulnya ‘matraman,’ misalnya. tapi ya zamannya beda. dan lirik lagu emang bukan sajak juga. toh mereka bukan rendra. jadi, ya, masih enak didengar juga. apalagi musiknya lumayan. jadi menyesal, tak pernah dengar lagu mereka yang lain. dan ini ada kebetulan youtube unggah beberapa lagu mereka. mereka ini lain.

ini dua trek kesukaan saya:

dalam doa

tidak ada keraguan: ini lagu anak kandung generasi 90an. musiknya, efek vokalnya—liriknya apalagi. semuanya quintessentially 90an. tapi ini lagu punya sihirnya sendiri. mungkin karena warna vokalnya mbak ve yang sama sekali tidak mengingatkan saya pada krisdayanti atau uthe. oh, denger ini lagu seeprti dininabobokan, sambil memohon-mohon pada yang ilahi. manja, malas, tapi manis bukan kepalang. rasanya pengen jadi abege lagi; bulan puasa lagi, dengerin ini lagu di radio, sepulang solat subuh di masjid, menikmati pagi, memanjatkan doa, sembari memejamkan mata, dengerin lagu religi a la generasi di masa itu.

puisi malam

waktu mbak ve bilang ‘engkau’, seraknya rada gimana gitu, serak yang bikin malu sendiri. ini lagu nadanya sangat manja sekali; melodinya, iramanya, manja; manja gadis kecil yang hidup dalam negeri dongeng. beda dengan lagu dalam doa, yang seperti nina bobo. ini lagu buat mereka yang tidak pernah menari di waktu kecil; biarpun judulnya puitis, puisi malam—musiknya agak jenaka. tak tau persis saya apa maksud dari lagu ini. dan tentu saja itu bukan soal. karena yang paling penting, yang paling esensial dari lagu ini adalah momen itu, ketika mbak ve mulai bernyanyi dan berkata ‘engkau’, dan seketika kita jatuh cinta, tersipu sendiri oleh suara serak mbak ve yang teramat effortless pada suku kata ‘kau.’

gila—setelah 20 tahun baru denger? well, sebetulnya gak kebayang ingatan seperti apa yang bisa melekat pada lagu-lagu semacam ini. bisa mati aku ditindih nostalgia.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: