merayakan ketidakberartian

April 18, 2015 at 4:13 pm | Posted in gak jelas, katarsis | 1 Comment
Tags: , ,

lo bangun malem-malem, buka laptop, dan lo pun sadar: lo bukan jim geovedi. kadang gue penasaran gimana rasanya jadi jim geovedi—jadi kayak dewa di internet, namanya sering disebut-sebut, dikutip sana-sini, dielu-elukan, dipuja sebagai pendekar tangguh di jagad maya. seriously, di dunia medsos, di belantara internet, apa ada profesi yang lebih keren dari hacker kelas dunia? si jim geovedi ini, yang gue gak tau persis siapa, cuma liat profilnya di gugel, kayak udah betul-betul di atas langit, kemampuannya dan pencapaiannya kayak udah sampe level mitis—sudah level: dia itu kalo mau situs apa aja bisa jebol. 

jim

yang mitis di internet

ya mungkin gak segitunya, sih, tapi gue ngeliatnya gitu. dan ini bukan karena gue sirik atau sinis atau apa—gue cuma gak habis pikir: dari jaman yunani dulu, dari jaman gajah mada bikin status di atas batu, orang masih aja seneng bikin dewa-dewa untuk dipuja, untuk dimitoskan. di internet, sering banget gue liat, misalnya, gus mus ngomong apa, lalu jadi meme di mana-mana, entah karena omongannya mencerahkan atau cuma sekedar terdengar intelektual, bijaksana, atau apa lah, meski sebetulnya apa yang dia bilang mungkin cuma sofisme belaka, logikanya berantakan. but who cares? ini gus mus, man!

gue jadi inget orang-orang yang ditulis di media massa, di kompas, di majalah tempo, di majalah kartini, dlsb., orang-orang yang dijadikan profil karena pencapaian mereka, karena keunikan mereka, karena apapun itu yang membuat mereka luar biasa; mereka yang juara atletik, atau juara festival film dunia, atau juara-juara lainnya; atau mereka yang bergelut dengan penyakit yang luar biasa, yang mereka lawan dengan keberanian yang tidak bisa kita bayangkan bisa kita punya; ada kesan, meskipun terasa agak banal, bahwa hidup mereka sangatlah berarti—dengan pencapaian mereka, dengan perjuangan mereka melawan derita. ah, coba kau lihat mas yana mulyana, kau masih bangga bisa main gitar?

lalu—kita gimana? kita, sebagian besar kita, hanya satu dari jutaan orang tanpa nama di internet; sepi dari puja dan puji, dari ketakjuban, dari tatapan mereka yang terpukau.  kita tidak cukup berbakat untuk dijadikan dewa, pun tidak cukup menderita untuk dikasih empati publik. tidak ada dari kita, dari sejarah hidup kita, dari pencapaian kita, yang cukup berarti untuk menjadikan hidup kita berarti. kita hanyalah perwujudan tak sempurna dari apa yang selama ini kita impikan—sebagai penulis, desainer, pembuat film, apalah. kita bergelut dengan kenyataan yang amat mengecewakan bahwasanya hidup telah mengecewakan kita, bahwasanya kita, diri sendiri, bukan orang lain, telah mengecewakan kita.

Gus-Mus-KH-Mustofa-Bisri

how to be wise di internet. kutip bapake.

apa sudah begitu saja? tidak juga. coba lihat media sosial: selalu ada keinginan untuk mengkompensasi ketidakberartian kita. kalian yang setengah sinting, dan cuma sekedar masuk angin, mungkin berdoa agar atau berbohong telah ditimpa suatu penyakit yang terdengar sangat mematikan. kanker misalnya, atau leukimia, atau bipolar disorder akut; kalian ingin semua orang merasa iba pada kalian, dan kemudian berpikir bahwa hidup kalian yang pesakitan dan sebentar itu sangat lah berarti, jauh lebih berarti bahkan dari umur panjang orang kebanyakan yang cuma kawin mawin ganti popok foto wisudaan momong cucu lalu mati. katanya orang begitu kan: better to burn out than to fade away.

kalian yang agak waras mungkin senang pamer status akan pencapaian kalian—mengunggah foto-foto makanan yang kalian buat sendiri, foto-foto liburan, foto-foto di luar negeri. bagi kalian yang bisa kuliah di negeri, kalian akan menulis postingan blog tentang betapa kalian adalah anak kampung yang tidak pernah bermimpi bisa ke amerika/eropa, dan kalian berusaha, dan kalian bisa! kalian bisa! kampungan sekali ini memang, tapi ini penting untuk mengelevasi nilai hidup kita di dunia—oh, kuliah di amerika, di eropa! hola! tidak ada yang lebih menggelikan dari sekumpulan artikel inspiratif tentang betapa pentingnya sekolah di luar negeri, seolah sekolah di luar negeri adalah akhir dari mimpi setiap orang.

tapi apa salahnya menerima ketidakberartian, keremehtemehan hidup apa adanya? bahwa sebetulnya, dengan cara apapun, hidup lo teramat sangat biasa saja? bukan, ini bukan sekadar humblebrag, ini bukan untuk merendahkan diri meninggikan mutu, ini bukan “ah gua mah biasa, aja” tapi dalam hati, ‘fuck you, i’m fuckin better than you!’ hidup kita, sebagian besar kita, sungguh amatlah biasa saja, terpencil, tidak luar biasa, tidak layak djadikan profil di kompas atau koran tempo, jakarta post atau jakarta globe. setiap komentar yang kita tulis adalah serpihan yang tidak berarti di jagad maya—tak cukup brilian untuk dijadikan meme di mana-mana, tak cukup memalukan untuk dipermalukan menurut norma dan hukum internet yang sering kali bengis. like, really, dude, nobody gives a fuck who you are.

lo ga pernah masuk koran; gak pernah jadi acuan di media sosial—sebagai konsumen belaka, sebagai komentator. lo bukan mereka yang bikin usaha di internet dan kemudian kaya raya, dengan bakat dan kesungguhan mereka yang tak bisa difotokopi. lo bukan aidit, juga bukan suharto. lo bukan jokowi, pun bukan jonru. gue gak bilang lo mestinya berhenti mencoba. lelucon terbesar dalam hidup adalah, satu dua orang, seperti karl marx dan bill gates, berusaha merubah dunia, dan sisanya, sebagian besar kita, dikutuk untuk harus berjuang mati-matian untuk merubah diri sendiri, bahkan sekedar merubah persepsi tentang diri kita sendiri. satu-satunya yang berarti dari ketidakberartian hidup kita adalah ketidakberartian itu sendiri. maksudnya, hidup lo biasa banget, suama sekali gak spektakular!

dan bila hanya itu yang bisa kalian rayakan dari hidup kalian—maka rayakanlah! rayakanlah ketidakberartian kalian dengan sebaik-baiknya. katakan pada dunia: lihatlah, lihatlah dunia, how fuckin ordinary i am! gue bukan jim geovedi! gue bukan nicholas saputra! bukan ann frank! bukan steve jobs! gue bukan seleb internet dengan delapan juta followers! gue bukan siapa-siapa; gue cuma orang gak jelas entah di mana lagi internetan buat seneng-seneng; begadang malem-malem, ditemani kopi atau indomie rebus, dan gue akan tidur tanpa ada satu orang pun yang kenal gue siapa. gak ada yang berpikir gue brilian, gak ada yang berpikir hidup gue luar biasa susah. gue mau tidur damai dalam lautan anonimitas.   

selamat untuk ketidakberartian hidup kalian!

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. bagai pasir di tanah itu, aku, tak harus jadi penting


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: