Nifaq/Jahl?

March 29, 2015 at 1:45 pm | Posted in katarsis | 1 Comment

Kadang saya  bingung: orang kalo lagi ribut soal Syiah dan Sunni di temlen Tiwter lokal itu lebih banyak gobloknya apa hipokritnya? Itu ada kemarin “Pakar ISIS” yang mengutip Hasan Nasrallah untuk mengkritik Saudi. Ealah. Kurang ironis apalagi. Bahwa Saudi itu fobia alias punya ketakutan yang luar biasa terhadap Iran itu bukan rahasia umum; bahwa Saudi itu segan sama Israel dan AS itu juga bukan sesuatu yang hanya mahasiswa S3 dalam studi Timur Tengah yang paham. Keputusan Saudi untuk menginvasi Yaman itu tidak layak dirayakan, juga layak dikritisi, tapi bisa dimaklumi. Iran dan Hizbullah itu sama bajingannya dengan Saudi. Atas nama politik, senang ikut campur urusan negara lain. Mengelak kenyataan bahwa Syiah itu menyebarkan pengaruhnya secara politik dan militer di Timur Tengah itu goblok. Di Suriah, sudah jelas jejak Hizbullah dan Brigade al-Quds. Di Iraq juga. Qasim Sulaemani bahkan memimpin pasukan milisia Syiah anti-ISIS dalam serangan Tikrit.

Dongeng intervensi Iran? Di Iraq, Iran ngapain selama sepuluh tahun belakangan ini? Dan orang-orang Syiah ini sama kejamnya dengan ISIS. Tentu saja, tidak semua Syiah itu sinting, seperti tidak semua orang Sunni sinting. Tapi kenyataannya adalah: ada banyak orang Syiah dan Sunni yang sinting di Timur Tengah. Mereka bengis dan beringas. Dan itu karena lingkaran setan yang tak pernah selesai. Sama-sama kejam. Sama-sama ingin balas dendam. Sama-sama pingin masuk surga. Pun, kelompok liberal di mari juga naif betul menganggap perang di sana bukan masalah sektarian. Betul, itu soal politik, soal teritori, soal SDM, soal kuasa, dlsb. Tapi, tak bisa dipungkiri, masalah di sana juga masalah identitas, masalah keyakinan. Adalah Saudi yang mengobarkan paham anti-Syiah; dan pada saat yang bersamaan juga adalah jelas bahwa di dinding gedung-gedung Sanaa orang bisa lihat slogan anti-AS, anti-Yahudi yang redaksinya nyontek slogan Islamis paska revolusi di Iran. Iran punya misi untuk menyebarkan pengaruh—dan kadang tak malu-malu untuk bawa militer segala: di Iraq dan Suriah contohnya. Pendek kata, satu-satunya pihak yang layak dibela di Timteng adalah kelompok sipil yang tertindas karena perang. Sisanya adalah mereka yang terperangkap siklus dendam, dan pemerintahan-pemerintahan otoriter yang hanya ingin melakukan apa yang harus mereka lakukan: mempertahankan kekuasaan. Iran, Saudi, ISIS, Al-Qaida, sama aja.

Dan lalu ini kenapa saya tumben menulis masalah- masalah kiwari kayak gini? Itu karena ini sudah jadi masalah besar. Saya juga bingung kenapa sumber berbahasa Indonesia itu bias sekali, buruk sekali kalo sudah menyangkut persoalan Timur Tengah. Di satu sisi, situs-situs radikal berjamuran, dan banyak yang baca. Di sisi lain, kelompok liberal yang suka main Twiter dan bisa bahasa Inggris dan Arab kurang peka terhadap persoalan-persoalan yang menjadi sebab orang jadi sektarian. Maksudnya, bagus kalo ente itu anti ISIS tapi kalo ente gak pernah peduli sama kejahatan Assad dan Hizbullah di Suriah, apa bedanya ente sama pembaca media macam ar-rahmah.com, al-mustaqbal.net atau shoutussalam.org? Bener kata Karl Sharro, apa yang terjadi di Timur Tengah lebih sering ditentukan oleh apakah ente itu Sunni atau Syiah, anti-ISIS atau anti-Assad. Jadinya, orang di mari, yang tak fasih membaca berita dalam bahasa Inggris atau Arab, dan bahkan sama sekali tak berusaha belajar, bakalan semakin jahil terkait masalah di sana, dan semakin rentan untuk melakukan kegoblokan-kegoblokan yang saya tidak bisa bayangkan. Dan ini menyebalkan sekali.

Saya juga dulu berpikir naif: bahwa semua itu di Timteng hanya ada masalah politik. Dan saya salah. Dimensi keagamaan di sana gak bisa dikecilkan. Dan betapa saya terpukul imannya dengan segala kekerasan atas nama Allah di sana. Syiah lawan Sunni, Sunni lawan Sunni. ISIS bilang Al-Qaida kafir, dan Al-Qaida bilang ISIS kafir. Saling bunuh. Dan betapa saya gondok bahwa negara di mana saya tinggal itu banyak orang yang malas membaca, yang pikirannya sempit dan gampang dibodohi dan digoblokin orang lain. Goblok bener.

Saya pun sebetulnya pengen tidak perduli. Tapi gak bisa juga. Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa begitu saja diabaikan. Saya juga manusia. Dan saya tidak bisa begitu saja berpura-pura bahwa tidak ada peristiwa-peristiwa yang menggugat kemanusiaan saya di Timur Tengah sana. Dan saya juga tidak bisa berpura-pura bahwasanya kekejian di sana tidak akan bisa dengan mudah untuk diekspor ke negara di mana saya tinggal.

Ah, bikin depresi betul.

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Salahnya ke Twitter. Kan mendingan sama kita2 di Warkopolo. :mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: