Hanifisme الحنفاء

March 20, 2015 at 11:23 pm | Posted in agama, berbagi | 1 Comment
Tags: , ,

وقالوا كونوا هودا او نصاري تهتدوا قل بل ملّة ابراهيم حنيفا و ما كان من المشركين ـ البقارة ١٣٥

Islam bukan satu-satunya agama yang mengesakan Tuhan. Paling tidak di wilayah Timur Tengah, Yahudi sudah lebih dulu. Agama Kristen, meskipun gagasan trinitasnya sangat membingungkan, pun mengklaim sebagai agama tauhid. Di jazirah Arab sendiri, sejarah pun mencatat bahwa Islam/Nabi tidak sendirian dalam mengkampanyekan ketunggalan Allah. Nabi Muhammad tidak diragukan lagi adalah seorang revolusioner, seorang pemimpin yang hebat. Tapi gagasan tentang menyembah Allah yang satu itu tidak sepenuhnya asing. Dulu, di jazirah Arab sana dikenal sebuah agama yang disebut Hanifisme. Oke, bukan ‘agama Hanifisme’, tetapi orang-orang yang disebut sebagai hunafa, yang merupakan bentuk jamak dari kata hanif. Orang-orang hanif ini adalah orang-orang yang dianggap sebagai bukan penyembah berhala pada masa jahiliyah dulu. Ibn Ishaq, sejawahwan awal mula Islam, menyebutkan beberapa orang Hanif itu. Mereka adalah Zayd ibn Amir, Waraqah ibn Naufal, Usman ibn Huwarist dan Ubaydullah ibn Jashs. Kalian yang belajar sirah nabi mungkin kenal dengan Waraqa, sepupunya Khadijah, istri Nabi. Konon Waraqa adalah pendeta Nestorian, yang mengakui kenabian Nabi dan, tentu saja, dianggap ‘tidak musyrik.’

Pre-Islam-Arab-Women-4-to-6-century-AD1

Ilustrasi Arab pra-Islam

Berdasarkan catatan Wikipedia, yang mengutip beberapa buku tentang asal mula Islam, hanya Zayd yang menolak Yudaisme dan Kristen. Sementara Usman dan Ubaydullah pada akhirnya memeluk agama Kristen. Ingat, mereka yang disebut hanif ini dianggap sebagai orang salih sebelum Islam ‘disempurnakan’ pada tahun-tahun terakhir kenabian Nabi Muhammad—pada Khotbah Terakhir. Tentu saja, al-Qur’an dan tradisi keilmuan Islam selama berabad-abad punya pandangan sendiri soal ini. Toh, kata hanif disebut 12 kali dalam al-Qur’an. Ulama Islam, menurut At-Tabari, menawarkan lima pengertian hanif: yakni pergi haji, patuh, disunat, mempersembahkan agama hanya untuk Allah (المخلص دينه للله وحده) dan Islam. Namun demikian,  pengertian yang menjadi arus utama adalah ini: Hanif sebagai agama yang lurus. Hanif sebagai monoteisme Ibrahim yang universal. Kata hanif ini bisa dibilang sudah jadi kata kunci pemikiran Cak Nur: Islam, mengutip Nabi, sebagai agama hanifiah as-samhah, agama yang lurus dan mudah. Kelompok anti-Liberal pun senang dengan istilah hanif. Kata ini punya konotasi yang kuat pada kesalihan, kealiman. Tapi bagaimana sebetulnya kata ini dipahami sebelum al-Qur’an merevolusi pandangan dunia bangsa Arab? Di sini saya hanya ingin berbagi pandangan tentang makna hanif dalam perspektif sejarah berdasarkan pembacaan saya atas sumber-sumber yang saya dapatkan dari Internet. Tentu saja, ini amatiran dan tak pantas dijadikan referensi. Tolong ini diingat.

Mereka Yang Menolak Berhala

Secara etimologis, ada beberapa teori kenapa mereka disebut hanif. Bapak Quraish Shihab bilang, kata hunafa secara harfiah diartikan sebagai ‘cenderung pada sesuatu.’ Kata ini, menurut Pak Quraish, pada mulanya ‘digunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringannya pada telapak pasangannya.’ Jadi, saya kutip beliau lagi: ‘kaki yang kanan condong ke arah kiri dan yang kiri condong ke arah kanan. Ini menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu menjadikan si pejalan tidak mencong ke kiri dan ke kanan.’ Saya tidak tahu Pak Quraish dapat dari mana penjelasan ini. Yang jelas, bila dikaitkan dengan Ibrahim, ya hanif ini artinya lurus, tidak bengkok, dalam pengertian Ibrahim itu bukan Yahudi atau Kristen, dia itu monoteis yang lurus. Ini tampak agak maksa. Saya sama sekali tak paham dengan urusan telapak kaki itu. Mufasir Arab mula-mula At-Tabari dalam kitabnya, Jami’ul Bayan al-Ta’wil lil Qur’an, menawarkan penjelasan yang lain—pun sama anehnya. At-Tabari bilang, kata hanif ini berasal dari kata ahnaf yang berarti ‘pincang’, atau ‘bengkok ke samping’. Jadi, menurut at-Tabari, kata ahnaf sebagai ‘pincang’ ini dulunya berarti ‘lurus’. Kata ini digunakan untuk menyebut orang yang kakinya bengkok sebagai sebuah doa agar suatu hari kakinya bisa lurus. Ini juga terdengar sangat maksa. Tapi beberapa pakar leksikon bahasa Arab mengamini pandangan hanif At-Tabari sebagai miring atau bengkok, karena pada ceritanya Ibrahim adalah orang yang berpaling dari berhala-berhala. Para hanif seperti Zayd dan Usman pun dulu dianggap sebagai hanif atau bengkok karena mereka menolak untuk menyembah berhala. Ibn Ishaq pun sepertinya berpendapat demikian: bahwa para hunafa yang empat yang disebutkan di atas itu disebut hunafa (yakni mereka yang berpaling) karena mereka berpaling dari berhala-berhala.

waraqa

Waraqa Ibn Naufal dalam film seri Omar

Francois de Blois, dalam studinya tentang kata nasara dan hanif, meragukan pandangan itu. Karena, kata hanif ini tak jelas penggunaannya dalam bahasa Arab pra-Islam. Ini kata asing, duganya. Kemungkinan besar, kata dia, kata ini berasal dari bahasa Aramaik: hanpa. Kata ini punya pengertian yang sama sekali lain dengan apa yang diutarakan oleh al-Qur’an dan para sarjana Islam. Dalam bahasa Aramaik/Siriak,  hanpa itu itu artinya pagan, non-Kristen atau mereka yang menyembah Tuhan palsu. Dalam bahasa Ibrani sendiri, kata hanef itu berarti tak bertuhan, munafik atau polluted. Pendek kata, kata hanif ini punya konotasi yang jelek di luar wacana al-Qur’an dan komunitas agama di luar Arab. Pertanyaannya adalah, apakah orang-orang Arab meminjam kata ini dari bangsa Yahudi di jazirah Arab? Kalo iya, kok artinya sangat berlawanan?  Ini emang agak aneh. Karena menurut De Blois, penulis Muslim (seperti al-Mas’udi)—mungkin terpengaruh penulis Yahudi dan Kristen—pun menggunakan istilah hunafa untuk merujuk para penyembah bintang, atau penganut Sabianisme. Dalam kitabnya, Kitabul Tanbihi wal-Israf, al-Mas’udi menyebutkan bahwa kaisar Romawi adalah hunafa, penganut al-hanafiyah atau sabi’uun. Pun sama, orang Persia sebelum Zoroaster pun dianggap sebagai hunafa, penyembah bintang atau pagan. Akhirnya, al-Mas’udi bilang bahwa kata hunafa ini adalah sebuah didd atau homonim, satu kata dua makna.

Mereka Yang Bukan Yahudi

Bisa dibilang penulis Muslim mula-mula pun kebingungan dengan asal kata hanif ini. Dan ini wajar saja. Harus diakui al-Qur’an ini luar biasa. Sebilanya pun Anda seorang ateis yang rasional, Anda harus mengakui bahwa redaksi al-Qur’an ini pada masanya bukan hanya puitis, tapi juga terpelajar. Seperti yang saya tulis dulu, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, dan ada beberapa bagian dari al-Qur’an yang memang menggunakan istilah yang merupakan serapan dari bahasa non-Arab, seperti Aramaik (elohim/allahumma), Ibrani (Torah/Taurat) dan bahkan Yunani (evangelion/Injil). De Bois pun mengakui bahwa sulit untuk menentukan bagaimana sebetulnya kata hunafa ini digunakan oleh bangsa Arab pra-Islam, apakah sudah dalam pengertian yang sekarang: penganut monoteisme/tauhid yang mengikuti jalan iman Ibrahim Sang Patriark? Atau semata penyembah bintang—sabi’uun? Karena itu si peneliti ini memutuskan untuk fokus ke sejarah penggunaannya dalam bahasa Siriak dan bagaimana kata itu kemudian digunakan dalam wacana Perjanjian Baru. Ini penting, karena evolusi makna kata ini bisa menjelaskan sedikit alasan kenapa kemudian ia diadopsi al-Qur’an. Seperti dijelaskan di atas, kata hanif ini dalam bahasa Siriak punya konotasi jelek. Dan itu karena istilah ini digunakan oleh bangsa Yahudi untuk menyebut mereka yang bukan Yahudi, alias goyim atau dalam bahasa Inggris, gentiles. Dalam tradisi Yahudi kala itu, hanya orang Yahudi yang berhak masuk surga, karena hanya mereka penyembah Tuhan yang benar, yang hidup berdasarkan hukum Taurat, yang merupakan hukum Tuhan. Mereka yang bukan bagian dari bangsa Yahudi, yakni para goyim atau gentiles atau hunafa, adalah pagan.

Tissot_Abram's_Counsel_to_Sarai

Ibrahim sebagai simbol monoteis goyim

Nah, semua itu berubah ketika Nabi Isa/Yesus datang dan, melalui tulisan dan pemikiran Paulus, ajaran Yahudi dibuat menjadi universal (bahwa monoteisme bukan cuma milik orang Yahudi). Siapapun, tak mesti bangsa Yahudi dan hidup dalam hukum Taurat, kata Paulus, bisa selamat asal dia percaya pada Yesus. Konsep goyim atau non-Yahudi ini penting sekali dalam ajaran Paulus. Karena bagi dia, dan para pengikutnya, kata hanpa dalam pengertian bukan orang Yahudi itu tidak melulu berarti penyembah berhala, tetapi bisa juga berarti sebagai bukan orang Yahudi yang beriman kepada Yesus. Contoh yang diambil Paulus, tidak lain tidak bukan, adalah Nabi Ibrahim. Ibrahim itu tidak bisa disebut sebagai orang Yahudi, karena dia Bapak dari Ismail dan Ishaq. Ismail adalah bapak bangsa Arab, sementara Ishaq adalah bapak bangsa Yahudi. Kata Paulus, Ibrahim adalah seorang monoteis, tapi dia hidup sebelum Taurat, hidup sebelum sunat itu wajib. Tapi, toh, dia bukan penyembah berhala, bukan musyrik!Kata Paulus, “For not through the law was the promise to Abraham or to his seed, that he should be heir to the world, but through the righteousness of faith.” Pendek kata, Ibrahim adalah simbol dari non-Yahudi, goyim atau hanpa yang mendapatkan an-najah jauh sebelum hukum Taurat diturunkan kepada Musa. Sudah barang tentu, pandangan ini diterima dengan baik oleh bangsa Arab yang memeluk agama Kristen sebelum Nabi menjadi Nabi dan menyebarkan agama Islam (kata hanif, menurut Debois, datang belakangan setelah bangsa Arab mengadopsi istilah hunafa dalam bentuk jamak dan membentuk kata tunggalnya sendiri). Ingat pendeta Bahira dan Waraqa? Mereka adalah Kristen Hanif (Non-Yahudi).

Dalam konteks ini mungkin pengertian hanif diadopsi oleh al-Qur’an, meskipun dengan pengertian yang kemudian menjadi tidak sepenuhnya sama. Iya, ini dugaan saja. Yang menarik adalah, De Bois menemukan dalam teks literatur gereja kuno Suriah pernyataan ini: haymen abraham la alaha xad hanpa wa. Kalimat ini bisa diterjemahkan menjadi  وآمن ابرخيم بلله و هو حانفا atau ‘dan Ibrabim beriman kepada Allah, dan dia seorang non-Yahudi.’ Coba bandingkan teks ini dengan beberapa ayat al-Qur’an, bagaimana kata hanifan ini digunakan dalam bentuk/konteks  حال atau circumstantial accusative (kalo minat dan ada waktu bisa baca ini dan ini). Misalnya pada ayat ke 120 dari surat al-Nahl di bawah ini:

انّ ارهيم كان أمة قانتا لله حنيفا و لم يك من المشركين

Disebutkan bahwa Ibrahim itu qaanitan lillahi haniifan. Dalam bahasa Arab kata haniifan ini berarti dalam keadaan (hal) hanif. Kata ini kemudian, seperti kita tahu, jamak diartikan sebagai lurus atau taat oleh para penafsir mula Islam, meskipun boleh jadi kata ini diartikan semata sebagai Ibrahim yang bukan Yahudi, Ibrahim yang bisa jadi siapa saja, dari bangsa mana saja. Dan menurut saya pengertian ini sudah diisyaratkan beberapa kali oleh al-Qur’an. Pada ayat lain dalam al-Qur’an, Ibrahim secara literal disebut bukan Yahudi dan Kristen, tetapi seorang yang hanif. Surat Ali Imran ayat 67: ‘Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus (hanif) lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.’ Jadi: ما كان ابرهيم يهوديا ولا نصرانيا—Abraham was neither Jewish nor Christian.

Melawan Kesesatan dan Penyesatan

Konsep hanif ini penting dalam pandangan pluralisme Cak Nur. Pada surat al-Baqarah ayat 135 yang saya kutip di atas, jelas sekali ajakan al-Qur’an untuk melihat agama bukan sebagai lembaga atau organisasi atau perkumpulan saja. ‘Dan mereka berkata: Menjadilah kamu Yahudi atau Nasrani supaya kamu dapat petunjuk. Katakanlah: Bahkan agama Ibrahim yang lurus (hanifan), dan bukanlah dia orang-orang yang musyrik.” Cak Nur mengartikan ini sebagai, dalam bahasa prokem, “tidak penting agama lo apa tapi yang penting bagaimana lo beragama.” Cak Nur lebih seperti ingin mengartikan ayat ini menjadi ‘tidak perlu mengajak orang menjadi Yahudi, Kristen atau Islam—yang penting beragama secara hanif. Lihat Ibrahim dia itu hanif, seorang muwahid yang lurus. Dan ini mungkin tidak sepenuhnya salah, meski banyak orang tak sepakat juga. Mungkin Cak Nur agak terlalu bersemangat. Atau sangat terpengaruh ayat 177 surat al-Baqarah: ليس البر ان تولوا وجوهكم  … Mungkin saja, kata hanif ini semata hanya untuk menunjukkan bahwasanya orang bisa menjadi beriman meskipun dia bukan orang Yahudi alias gentile. Atau, lebih ekstrim lagi: lihatlah Ibrahim, dia beriman meskipun dia itu dianggap sebagai hanpa atau pagan. Saya sendiri—bukan pakar agama dan apalagi seorang Muslim yang baik—lebih tertarik dengan pemahaman yang terakhir. Menurut saya pintar dan elegan cara al-Qur’an dan para hunafa memberi makna baru pada kata haniifan—goyim yang kafir dan pagan. Hunafa adalah orang-orang yang secara tegas menolak kesesatan tapi dianggap sesat oleh orang kebanyakan—jadi mereka tidak hanya menolak kesesatan, tapi juga, dengan atau tanpa ironi, melawan penyesatan.

 Disklemer: والله اعلم زالصواب

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. menunggu hujatan pertama datang atas tulisan ini.. *sruput kopi*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: