sebuah pertanyaan untuk iman

March 14, 2015 at 8:14 am | Posted in katarsis | 2 Comments
Tags: , , ,

saya ingat cerpen yang dulu saya baca: sebuah pertanyaan untuk cinta. saya ingat betapa irasionalnya perempuan itu, tidak berhenti bertanya, tidak pernah puas, tidak pernah merasa teryakinkan, bahwasanya pria yang dia telpon itu betul-betul cinta padanya. ah, dulu, ketika saya masih membaca cerpen dalam bahasa indonesia—ketika saya masih membaca cerpen! ah, rindunya masa-masa itu. seno gumira ajidarmana entah dapat darimana ide menulis cerpen itu. yang jelas, cerpen itu adalah cerpen yang paling lugas dalam menggambarkan bagaimana rasanya jatuh cinta, jatuh cinta yang gila dan tidak masuk akal dan memalukan. telpon, sms atau watsap atau apalah—sama saja; banyak dari kita pernah jadi perempuan gila itu: ‘katakan sekali lagi, kau cinta padaku.’ — ‘kamu gombal…’

seno

om seno

saya tidak paham betul apa maksud cerpen itu. tapi saya ambil kesimpulan bahwa itulah cinta bagi seno: interogasi yang tidak pernah selesai. sebuah pertanyaan untuk cinta adalah cara seno mengartikan cinta. ah, sungguh brilian. tapi seno tidak sendiri di sini. kundera juga bilang, dalam the book of laughter and forgetting, bahwa ‘love is a continual interrogation.’ dan, bahwasanya, bagi kundera, tidak ada definisi yang lebih tepat bagi cinta kecuali frase itu: interograsi yang tidak pernah selesai. itu sebabnya, dalam kata-kata kundera, polisi bisa jadi adalah orang yang paling mencintai kita. dia membayangkan, melalui karakternya, seorang yang kesepian yang minta ditangkap polisi, agar ia bisa diinterogasi, agar ia bisa bicara panjang lebar tentang dirinya sendirinya. siapa yang tahu, susno duaji, budi gunawan, budi waweso dan semua petinggi polri itu sebetulnya romantis?

dan kemudian saya terbayang akan iman yang kian hari kian keruh, kian redup. apakah iman itu? apakah iman bisa diartikan dengan cara yang sama? orang yang mabuk kepayang itu insecure—tak bisa merasa aman bahwasanya sang kekasih punya perasaan yang sama dengannya, sama gilanya, sama cinta matinya, sama sejatinya, apalah. itu sebab, cinta, curiga, cemburu adalah sebuah trinitas—ketiganya adalah satu, tidak ada satu dari yang tiga! ah, tentu saja, kalian bisa bilang, cinta itu percaya. dan kalian sudah sering dikasih nasehat: yang penting itu percaya. tapi pada bentuknya yang paling mentah, cinta sebagai hasrat dicintai, yang bersifat resiprokal, selalu ada elemen ‘tidak percaya’-nya, cinta sebagai kehausan untuk diyakinkan bahwasanya kau pun dicintai dengan derajat yang sama. tapi bagaimana dengan iman? satu hal, secara linguistik, iman itu sendiri adalah percaya—tanpa syarat, tanpa bukti! bagaimana mungkin kedua konsep ini bisa disandingkan? meskipun, ah sering kali para pemuka agama itu bilang, dan apalagi pegiat tasawuf seperti rumi, bahwasanya tuhan adalah cinta—tuhan itu mahacinta! tapi cinta yang bagaimana? apakah cintanya tuhan adalah betul-betul cinta dalam pengertian agape, cinta universal yang mahaluas pada kemanusian tanpa ada syarat, tanpa ada pandang bulu dan kulit juga kelas sosial? atau kah cinta tuhan itu cinta eros dalam pengertian yang sama dengan apa yang dipahami seno dan kundera? saya tak bisa menjawab pertanyaan ini. di satu sisi, tuhan memang mengasihi semuanya, dalam pengertian yang tak sepenuhnya bisa disepakati, tentunya. tapi di sisi lain, ada kesan, bahwa dalam banyak ayat dalam kitab suci—tuhan ini posesif, yang begitu terobsesi untuk memastikan bahwa kita semua tidak hanya percaya pada tapi juga mencintainya, hanya dia seorang, tanpa ada tuhan-tuhan yang lain. lihatlah mereka yang meregang nyawa di suriah dan iraq—itu semua untuk tuhan! ah, bukankah kitab suci bilang, manusia diciptakan untuk mengabdi kepadanya, dan semua yang ada di semesta raya ini, semuanya diciptakan agar kita bisa membuktikan bahwasanya kita betul-betul cinta padanya, hanya dia seorang? di sini, saya ambil kesimpulan tuhan punya cinta eros juga. dan saya membayangkan tuhan bersikap seperti perempuan yang irasional dalam cerpennya seno itu: ‘katakan sekali lagi, kau beriman padaku.’ dan dia tak akan berhenti—’kamu gombal, kamu juga mengatakan hal yang sama pada tuhan-tuhanmu yang lain.”

milan_kundera_2_jpg_340x267_crop_q85

om kundera

tapi apa itu menjawab apa artinya iman? mungkin saja iya—bagaimana bila iman, adalah sebetulnya respon dari cintanya tuhan yang posesif, cintanya tuhan yang tidak masuk akal? dan kita semua hambanya adalah lelaki bajingan yang tak tahu harus berbuat apa—ketika bahkan yang maha kuasa, yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang maha tahu, tak bisa merasa teryakinkan, bahwasanya kita betul-betul percaya padanya, betul-betul cinta padanya. ah, cara pandang ini membuat saya merasa geli sendiri—tuhan itu bukan lelaki atau perempuan, memang, tapi ada sifatnya yang menurut saya sangat feminim. ah, apa iya itu artinya iman: apakah iman itu?

entahlah—iman mungkin adalah perjuangan melawan kekufuran, disbelieving. karena godaan terbesar iman itu bukan dosa-dosa, tapi keraguan, skeptisisme, setipis apapun itu. dan pada saat ini, ketika orang-orang saling menghabisi atas nama tuhan, ketika anak-anak dan orang-orang yang tidak berdaya dikorbankan, ketika agama yang satu disebut bengis, dan yang lain munafik, menjadi orang yang percaya itu sungguhlah tak mudah—dan bila pun percaya, percaya yang bagaimana? apakah cukup mengesakan tuhan, dan semuanya selesai dengan sendirinya? sebilanya saja memang sesederhana itu.—dalam pemahaman yang paling simpel—iman itu percaya bahwa tuhan itu ada, percaya pada berbagai gagasan ajaib dan aturan-aturan yang tak bisa diubah dalam agama-agama yang diturunkan ke muka bumi olehnya, yang kita selalu berselisihan tentangnya. orang tidak bisa percaya tuhan, tapi tidak percaya agama. karena itu kesannya main-main—delusional. meskipun agama mapan juga sering disebut sebagai delusional, setidaknya agama mapan punya konsensus. iman tanpa agama adalah kegilaan individual, iman dalam bingkai agama mapan adalah kegilaan kolektif—dus, bukan kegilaan. awalnya, saya pikir iman dalam pengertian ‘interogasi yang tidak selesai’ adalah iman yang terus mencari, iman yang terus menyelidiki eksistensi dan keesaan tuhan? tapi ini kok kesannya gampang, tidak memuaskan. setelah dipikirkan lagi dan lagi—bagaimana bila memang itu jawabannya? bagamana bila iman adalah syarat, tuntutan, jawaban dari cinta kasih eros tuhan pada umat manusia? bagaimana bila iman kepada tuhan hanya bisa diartikan sebagai mencintainya secara irasional, tanpa syarat, tanpa ada embel-embel lainnya, hanya mengesakan tuhan, dia seorang? bagaimana bila tidak ada iman bagi mereka yang tidak mencintainya seperti bagaimana dia ingin dicintai? bagaimana bila pertanyaannya bukan apakah engkau percaya atau tidak percaya, yang memang seringkali sulit untuk ditunjukkan, dipahami—bagaimana bila pertanyaannya adalah apakah kita bisa mencintai tuhan dan menjadi hambanya yang setia? bagaimana bila kita semua adalah pria yang dipaksa menjawab pertanyaan yang sama itu, pria yang terus-menerus diinterogasi via telpon oleh perempuan super posesif dalam cerpen seno? ah, ngawur ini.

tuhan: ‘katakan sekali lagi, kau cinta padaku.’ — ‘kamu gombal…’

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kalo katanya Meister Eckhart, iman yang mendeskripsikan Tuhan itu bakal meleset, sebab mencoba membatasi Yang Tak Hingga dalam kerangka pikir manusia yang berhingga.
     
    Jadi, bisa jadi, gagasan masbro tentang Tuhan lebih mencerminkan masbro-nya daripada Tuhan yang dibahas… 😆

  2. toh tidak semua alasan-alasan manusia untuk mempercayai sesuatu bersifat epistemik. sering juga untuk alasan kebaikan, kewajaran, atau sebagai sesuatu yang lumrah. lebih jelasnya silahkan baca buku The Wager Renewed: Believing in God is Good for You dari Justin P. McBrayer.

    tapi kok buku itu kesannya seperti bilang “gapapa kok gue tipu, yang penting elu senang, sukses & kaya” :v


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: