Fantasi Khilafah, Anhedonia, Nostalgia, Apokalips: Benang Merah Repetan Felix Siauw, Daesh dan Film-Filmnya Woody Allen

February 21, 2015 at 3:28 pm | Posted in isu kini, komentar, ngoceh | 2 Comments
Tags: , , ,

Pembuka

Mereka, aktifis Hizbut Tahrir dan anak-anak muda yang mengekor pemikiran Felix Siauw, adalah orang-orang yang memusuhi hari ini, kesekarangan. Hari ini, adalah hari yang tidak diberkahi: tidak ada khilafah, tidak ada syariat Islam, tidak ada keilahian, tidak ada keadilan hakiki dalam mana Allah SWT adalah segalanya, yang menghakimi segalanya. Mereka, di satu sisi dan lainnya, agak mirip dengan Woody Allen. They fucking hate the present! Tentu saja kita bisa berdebat. Itu Felix Siauw siapa yang kasih otoritas jadi penafsir paling bener dari kitab suci dan sejarah Nabi? Kalo menurut Felix, ya dia sendiri, dan apa yang dia pikir merupakan akumulasi penafsiran Qur’an yang “benar” sejak masa Nabi. Kalo menurut Anda, lah siapa elu? Tapi saya tidak ingin berdebat siapa di antara kita, mereka yang paling “benar” tafsirnya atas kitab suci. Tidak ada gunanya. Saya hanya ingin menyatajelaskan bila Felix beserta pejuang Daesh di negeri-negeri nun jauh di sana itu punya sikap dan perasaan yang sama dengan Woody Allen; bagaimana hidup, hari ini dan kesekarangan itu terasa begitu disonan, begitu ganjil—terasa ada yang salah, dan kadangkala sangat-sangat mengecewakan. Oleh sebab itu, seperti Gil Pender dalam Midnight in Paris, mereka pergi jauh ke masa lalu, di mana segalanya lebih genap, lebih terasa benar dan mereka tak ingin kembali ke masa kini, they like it there, they want to stay there forever. Apa mereka salah?

Indonesia Muslim Hard Liners

mengibarkan fantasi; nostalgia

Masa Kini Yang Menyakitkan

Kata kuncinya adalah pengelakan, denial. Para revivalis itu hidup dalam pengelakan—pengelakan atas hari ini yang mengecewakan, the painful present. Dalam banyak filmnya Woody Allen (terutama konsep anhedonia dalam karya klasiknya, Annie Hall), kita diingatkan kembali oleh anggitan dan pra-anggapan paling dasar dari eksistensialisme: orang lain itu neraka, hidup itu sunyi, hidup sama sekali tidak menawarkan makna, dan—oh, fuck, ini gue ngapain tiap hari macet-macetan di Jakarta, cuma buat ketemu orang-orang yang pengen gue gebok mukanya? Kita harus membayangkan anggota Hizbut Tahrir dan mereka yang bermimpi akan tegaknya syariat dalam bingkai repetan Allen; bahwa keseharian yang mereka alami itu terasa begitu banal buat mereka, ketika semua orang hidup kayak orang kafir, dan mereka berpikir hidup seharusnya tidak seperti ini, hidup itu mestinya seperti di masa lalu! Dan tentu saja kolonialisme dan revolusi Attaturk hanya membuat mereka semakin membenci hari ini, sekarang ini, ketika Islam tak lagi punya kehormatan, diledek-ledek sebagai “tak modern”. Apa mereka salah? Siapa sih yang tidak membenci saat ini? Toh, bagi mereka yang tak sejalan dengan Felix, pastilah merasa saat ini, dunia secara keseluruhan, begitu mengecewakan; kematian di mana-mana, kebencian di mana-mana; orang membunuh karena agama, orang dibunuh karena agama. Padahal, sudah banyak orang mati karena uang, karena minyak, karena politik, karena ego, dlsb. Lalu, ekstrimisme menjalar. Dan menurutku itu sangat alamiah: seperti yang diceritakan oleh Allen, bahkan dalam filmnya yang dibilang norak sekalipun, orang itu cenderung mengelak dari masa kini, mencari kesejatian, romantisme di masa lalu, atau di Eropa sana, di jalan-jalan yang indah di Barcelona atau Roma! Atau, bagi para muhajirin Daesh yang sudah lama mengacungkan jari tengah pada keseharian yang begitu banal, kufur dan nir-syariah, di Raqqa dan Mosul.

woody

konsisten melawan the painful present

Bedanya Felix dan Woody

Bedanya adalah: Felix lebih mirip penonton setia Fox News di Amerika ketimbang Woody dalam hal mengatasi kebuntuan setelah sadar bahwa nostalgia bukanlah jawaban atas kesekarangan yang pedih. Bila Woody bermain-main dengan gagasan bunuh diri, dan fungsi terapetik kesenian, Felix melihat apokalips! Kesamaan Felix dan orang-orang Amerika yang doyan makanan cepat saji dan menghabiskan waktu non film The Walking Dead dan film layar lebar yang mengumbar fantasi kiamat dari Armageddon sampai Wall-E adalah mereka berpikir sebentar lagi dunia akan kiamat. Dan ini, perlu saya tegaskan, tidak bisa dibilang sebagai fantasi yang bisa dianggap remeh (orang-orang kanan di Amerika percaya konflik Israel adalah bagian dari cerita apokalips dalam Alkitab). Konon dulu masyarakat kita disebut masyarakat resiko oleh para sosiolog. Hingga kini kita masih takut akan bencana nuklir, bukan? Seperti dijelaskan Slavoj Zizek, esensi apokalips alias kiamat itu bukan pada bencana-nya, tapi pada penyingkapannya, pada revelasinya. Saat ketika kita disadarkan bahwa dunia akan segera berakhir, apokalips terjadi. Itu sebab, dalam batas-batas tetentu apokalips sudah terjadi, dan kita tidak menyadarinya. Kita lihat mereka yang ribut-ribut pemanasan global, mereka itu apokaliptik, sama seperti pejuang Daesh! Tapi apa fungsinya fantasi (baca: iman atas) apokalips ini bagi Felix? Harapan. Asli atau palsu, bukan masalah. Bila nostalgia adalah cara kita mengatasi sakitnya hari ini dengan melihat kejayaan masa lalu, mileniarisme atau sikap apokaliptik adalah cara kita untuk mengatasinya dengan membayangkan sebuah dunia yang dijanjikan, di masa depan, ketika yang salah dihilangkan, yang benar ditegakkan untuk terakhir kalinya, sebelum kejahatan kembali dimenangkan dan dunia berakhir untuk selama-lamanya. Oh, akhir yang begitu sempurna! Di sini bedanya Woody dan Felix: Felix, seperti Daesh, ingin hidup di masa lalu, dan dia ingin dan percaya bahwa masa lalu itu bisa dihidupkan kembali, pada suatu hari nanti: khilafah! Eh, tapi apa iya Felix dan para pengikutnya berpikir mereka itu milenarian? Apokaliptikal?

Perang Narasi: Sunni, Syiah, Kristen, Yahudi

Milenarianisme dan apokalips itu bahasa Kristen, bahasa barat. Tapi gagasannya itu sangat Timur, sangat berdasar pada tradisi agama langit: Yahudi, Kristen, Islam. Salah satu alasan kenapa Daesh itu berjaya adalah karena pejuangnya merasa mereka sedang memerankan sebuah peran agung dalam narasi besar yang sudah dinarasikan sejak masa Nabi dulu; mereka adalah generasi Islam terakhir yang akan menegakkan Islam untuk terakhir kalinya sebelum kiamat datang. Felix pun sama, sebelas dua belas. Hisbut Tahrir, seperti halnya Daesh, percaya bahwa suatu hari khilafah ala minhaj an nubuwah akan datang ke bumi, dan mereka adalah bagian dari generasi Islam yang akan mewujudkannya di bumi ini, dalam waktu yang dekat. Bedanya Hizbut Tahrir dan Daesh adalah: Hizbut Tahrir tak ingin mengangkat senjata untuk menegakkan khilafah, diledek oleh pembela Daesh sebagai pejuang khilafah yang malas berjihad. Karena alasan ini, banyak orang bilang Daesh dan HT ini milenarian, tidak jauh berbeda dengan orang-orang Syiah yang percaya bahwa Imam Mahdi adalah imam terakhir mereka yang akan datang menjelang kiamat. Tentu, ini bukan esklusif Islam. Orang Yahudi sudah lebih dulu percaya akan datangnya mesiah. Dan orang-orang Kristen pun percaya Yesus akan datang kembali, menegakkan kerajaan Allah di bumi. Dan tentu saja, dalam cerita Kristen dan Yahudi pun sama—kiamat akan segera tiba. Dan sepanjang sejarah ada saja orang-orang yang ingin berperan untuk mewujudkan nubuwah itu. Masing-masing agama ingin membuktikan bahwa narasi mereka lah yang paling benar. Oh, betapa…

daesh

nostalgia dan fantasi menjadi satu

Lalu apa? Maksud tulisan ini apa?

Kembali lagi ke Woody Allen, ketika hidup terasa begitu mengecewakan, tidak perduli Anda tinggal di negara miskin atau kaya (ingat, karakter dalam film Woody sebagian besar bukan orang-orang miskin; kalo jatoh miskin, ada, tapi gaya hidupnya masih sok kaya juga, toh), narasi besar tentang kejayaan di masa depan ditambah dengan surga dengan kenikmatan tiada batas adalah tempat yang sangat nyaman untuk melarikan diri dari hari ini, kesekarangan yang mengecewakan! Jadi, hidup memang begini-begini aja; sama sekali tidak istimewa, biasa saja, makan, tidur, buang air dan nonton dan lain segalanya. Orang kemudian mencari sesuatu yang lebih besar dari itu semua, seperti Kayla Muller, aktifis perdamaian yang konon tewas karena serangan udara koalisi anti-Daesh. Selalu ada yang lebih besar dari kehidupan—bahkan orang yang sangat mencintai kehidupan pun rela mati atas nama kecintaan atas kehidupan! Lalu apa? Lalu, tidak ada apa-apa. Mungkin saya cuma mau bilang bahwa dunia ini begini—tidak akan ada habisnya berdebat soal agama, sampe mati juga gak ada yang bisa membuat Felix berpikir seperti Ulil dan sebaliknya, Ulil gak akan bisa berpikir seperti Felix. Kita mungkin tidak akan bisa mengubahnya. Entahlah. Satu hal yang pasti, banyak orang, tak perduli siapa dan di mana, kaya raya atau fakir miskin, merasa kecewa, marah, bosan sama banalnya hidup. And Felix Siauw, ISIS happened.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. terlalu dangkal,

    tp cocok lah buat teman minum teh

  2. :)) apa bedanya “dangkal” saja dan “terlalu dangkal”?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: