hey, jakarta!

February 10, 2015 at 1:04 pm | Posted in katarsis | Leave a comment
Tags: , ,

aku rindu hujanmu, aku rindu momen itu: kala itu macet panjang sekali, hari mulai gelap, pengemis kehujanan, mbak-mbak kantoran kehujanan, anak-anak pengojek payung kehujanan, kendaraan yang mengantri, spionnya basah, kaca depannya basah, dashboardnya, plat nomernya basah—tetes air hujan, butiran air hujan, yang bertahan di jendela bus kota; dan yang mengalir ke jalanan lalu ke selokan. aku rindu kebisuanmu, betapa kau tak peduli, tuli terhadap semua keluhan, semua cacian mereka. macet lagi, oh. banjir lagi, oh.

jakarta kau adalah bingkai semesta; tempat tinggal mereka yang kalah dan serakah. di mana kecewa dan sampah berserakan di setiap jalan yang berdebu, di setiap trotoar yang berlubang dan tidak pernah diperbaiki. aku rindu kekacauanmu—betapa kau, ibukota sayang, adalah metafora dari kehidupan penghunimu: berantakan, mengecewakan, tidak ada harapan.

aku rindu melankolimu—malam sepi di warung indomi rebus.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: