Lima Alasan Mengapa Hidup Senantiasa Mengecewakan

February 2, 2015 at 3:35 pm | Posted in iseng, katarsis | 5 Comments
Tags: , , ,

Iyalah. Saya paham. Saya bukannya gak bersyukur. Ada banyak hal yang perlu disyukuri dalam hidup ini. Tapi hidup punya logikanya sendiri. Ada alasan kenapa orang kaya bisa depresi. Owalah, mas, jangankan orang kaya, bahkan selebritas yang serba tenar dan sukses aja bisa stres dan merasa kecewa dengan hidup mereka. Lalu bunuh diri. Saya sendiri bersyukur dengan apa yang saya punya. Tapi ada alasan kenapa hidup, dalam situasi yang berlainan, bakalan tetap terasa mengecewakan. Karena, karena lima hal di bawah ini:

life_is_just_one_big_disappointment-1223860

Orang Lain Lebih Beruntung/Tak Sesial Anda

Masalahnya Iblis cuma satu: kehadiran Adam. Kalo kerajaan langit adalah kantor tempat Anda bekerja, Adam adalah anak baru yang langsung dipromosikan jadi atasan Anda. Anda gondok tidak? Pastilah. Adam bagi Iblis adalah ‘orang lain’ yang lebih sukses. Sama dengan Qabil dan Habil. Kalo mereka tidak saling membandingkan, kalo tak menganggap yang satu sebagai ‘orang lain’, hidup mereka mungkin akan baik-baik saja. Tak perlu berkelahi. Ada alasan kenapa kita dianjurkan untuk mencintai dan menghormati orang lain. Karena, dalam banyak kesempatan, we hate other people. Kadang bukan karena mereka sukses (gaji mereka selalu lebih besar!). Kadang hanya karena mereka tak sesial Anda. Sial.

Harapan Selalu Lebih Tinggi Dari Kenyataan

Ini sudah sunatullah. Hukumnya alam. Hukum Tuhan. Harapan, dalam pengertiannya yang paling asli, akan selalu lebih tinggi, lebih bagus dari kenyataan. Secara teoretis, atau di atas kertas, tidak ada orang yang berharap untuk gagal. Kalo ada yang berharap gagal, maka kegagalan itu harus disebut sebagai kesuksesan—sukses untuk gagal. No, tidak ada harapan rendah. Itu masalah perspektif aja. Harapan pada sejatinya adalah negasi atas kenyataan. Kalo kenyataan adalah A, maka harapan itu B atau C atau bahkan Z. Kalo Anda tidak punya harapan itu bagus. Tapi harapan akan selalu ada. Kadang emang tak rasional. Misalnya Anda sekolah bete, lalu pengen libur. Setelah libur, Anda pengen sekolah. Atau Anda pengen kawin, lalu setelah kawin Anda pengen lajang. Atau Anda pengen punya kerjaan, setelah bekerja Anda malah marah-marah pengen berhenti. Harapan itu kutukan.

Sayangnya Hidup Tidak Punya Tombol Undo

undo

lalo ctrl + v ada—banyak!

Hidup cuma sekali. Dalam artian—tidak ada tombol undo. Jadi, semua keputusan bodoh yang dengan bodohnya Anda ambil itu tidak akan bisa di-cancel. Dalam artian, kita cuma bisa membuat satu pilihan. Kita tidak bisa mengulang waktu, dan membuat pilihan lain. Ini sebab, kebebasan berkehendak menjadi tidak relevan. Karena hidup cuma sekali. Kalo kata Eliot—segalanya akan terjadi sekali saja, pada satu waktu saja, pada satu tempat saja. Jadi kopi yang tumpah tak bisa menjadi tidak tumpah kecuali kita buat kopi baru, yang adalah kopi yang lain. Dan Anda kehabisan kopi, atau terlalu malas dan gondok untuk bikin lagi. Karena apa kita gondok? Karena — karena satu fakta tak terbantahkan ini:

Alam Semesta Itu Brengsek, Maha Jail dan Iseng

Alam semesta punya seribu cara untuk menbuat Anda menderita. Misalnya, naik bis, udah lari kenceng banget biar gak ketinggalan dan bisa duduk nyaman, eh—dompet ketinggalan. Atau, mau ujian udah siap semuanya—eh gak bawa pinsil 2B. Atau lagi jalan, eh ada genangan air, lalu Anda mencari jalan lain, biar sepatu gak basah, eh motor lewat—praaaaaatttttt! Atau suatu hari Anda bangun pagi—eh, sepeda ilang. Atau pergi ke Alfamart—eh motor ilang. Ini belum yang besar-besar, seperti pesawat ilang, atau HP lobet. Untuk hal terkecil/terbesar yang pernah dilakukan semesta—she will never let you go. Percayalah.

Sufime, Zen, Filsafat? Bunkum and Balderdash!

zenfrogborder

Nah, harusnya gak jadi masalah kalo kita sudah sampe level makrifat dalam hal dikerjain nasib. Konon katanya ada Sufisme, ada Zen, ada filsafat Jawa, ada Mario Teguh. Ya ampun! Hidup udah susah. Malah disuruh baca buku. Isinya mumbo-jumbo pula.

Kasih duit, kek, 20 trilyun.

Disklemer: Ya ini belum tentu benar sih. Kali, kalian emang sial aja.

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. kacian deh kamoh belum pernah punya pengalaman punya duit triliunan, jadi ngga tau rasa dan sensasi hidupnya seperti apa dan bagaimana dengan memiliki uang triliunan itu. sepertinya kamu mustahil punya pengalaman seperti itu, mustahil! ngga percaya? silakan buktikan 😛

  2. Mau dong! Duit 20 trilyun!

  3. usaha sendiri, dong:D
    saya juga sama euy, Pak ali, belum pernah ngalamin punya duit segitu dan sepertinya sama juga seperti Pak ali sastro, MUSTAHIL:D

  4. nasib basi

  5. asyem..konyol bener…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: