setelah dewasa

January 22, 2015 at 10:28 am | Posted in katarsis | 1 Comment
Tags: ,

saya hanya bisa bertanya-tanya

—apa yang terjadi dengan perasaan girang yang dulu saya rasakan ketika saya mengejar layangan putus di tanah lapang dan melihat benang tipis di belakang kawan-kawan yang lebih gesit dari saya—mereka yang lebih fokus pada layangan, ketimbang benang yang menjadikannya terbang? apa yang terjadi dengan perasaan takut yang saya rasakan ketika pelajaran kesenian tiba waktu sekolah dasar dulu dan saya diminta untuk bernyanyi di depan kelas sementara tak satupun lagu kebangsaan saya hapal, dan bahkan pernah, suatu kali, saya disetrap karena lupa lirik lagu indonesia raya? apa yang terjadi dengan perasaan gelisah yang saya rasakan ketika saya berdiri di atas podium itu dan dipaksa untuk pidato tentang hari kemerdekaan—atau di atas mimbar, dipaksa ceramah tentang bulan ramadhan? apa yang terjadi dengan perasaan kesal yang saya rasakan ketika saya harus mengantri untuk meminta tanda tangan imam tarawih dalam buku laporan ramadhan yang tidak penting itu?

sampul buku

dunia romantik buku pelajaran

—apa yang terjadi dengan perasaan gugup yang luar biasa yang saya rasakan ketika saya, hanya karena anak lelaki remaja lain melakukannya, mencoba untuk memulai percakapan dengan gadis jelita di dalam angkot sepulang sekolah? apa yang terjadi dengan penyesalan yang saya rasakan ketika saya bertanya ‘jam berapa, ya?’ dan gadis itu yang saya tidak pernah tahu namanya hanya menunjukkan jam dan kemudian diam seribu bahasa? apa yang terjadi dengan semua keriangan masa kanak—oh, bagaimana saya bisa lupa dengan keriangan sore hari sepulang lebaran di rumah sodara membeli tamiya atau pistol mainan!—dan kegelisahan masa remaja dengan semua minyak rambut dan obat jenggot sialan itu?

—apa yang terjadi dengan perasaan senang karena pulang sekolah lebih cepat karena gurunya sakit dan kemudian jalan kaki ke rumah melewati jalan-jalan di perumahan dengan pagar dan pohon jambu dan papan nama jalan dengan nama buah-buahan, jalan sawo, jalan belimbing, jalan nangka? apa yang terjadi dengan perasaan bersalah yang saya rasakan pada hisapan pertama rokok djarum (ataukah filter?) di perapatan danau ketika saya menunggu angkot menuju sekolah? apa yang terjadi dengan perasaan deg-degan yang saya rasakan ketika untuk pertama kalinya saya bolos sekolah dan malah main ke pasar malabar?

1226118_lambang-diknas

—apa yang terjadi dengan perasaan was-was sebelum ebtanas dulu atau setiap kali bangun kesiangan dan terlambat sekolah atau ketika saya lupa mengerjakan PR dan harus menyontek teman beberapa saat sebelum kelas dimulai? apa yang terjadi dengan cinta monyet dan pikiran yang melayang-layang setiap kali saya mendengar lagu menye-menye di radio dulu?

apa yang terjadi…setelah semuanya berlalu, sekian tahun kemudian

apa yang terjadi dengan semua kecewa dan patah hati itu?

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Hilang om; menguap. BTW ini bukan “setelah dewasa”, tapi “setelah tua”. *ngloyor*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: