realitas (palsu) medsos

January 18, 2015 at 11:05 am | Posted in komentar, refleksi | Leave a comment
Tags: , ,

deeds are stronger than words. but the echo is stronger than the deed. we live in the echo, and in this topsy-turvy world the echo arouses the call.

karl krauss

kita bisa bayangkan karl krauss membaca surat an-naba—’tentang apakah mereka bertanya-tanya? tentang berita yang besar. yang tentangnya mereka berselisihan.’ kiamat belum terjadi, namun kemegahannya sudah menghantui kita sekian abad lamanya. krauss bertanya—apakah para kuli tinta itu layak disebut sebagai nabi, sebagai pembawa berita? tidak, berita itu bukan utusan peristiwa—berita itu adalah peristiwa itu sendiri. lebih dari itu, berita adalah peristiwa yang lebih agung dan megah dari peristiwa itu sendiri. seperti yang ditampakkan dalam surat an-naba—ketika sa’ah menjadi perdebatan, apokalips tidak hanya menjadi lebih nyata—ia sudah bergema bahkan sebelum ia terjadi.

An-Nabaa

mereka bilang actions speak louder than words—pada kenyataannya, ngemeng adalah segalanya. kalo sudah jadi berita utama di halaman satu koran kompas, yang kecil jadi besar. kalo sudah jadi bahan debat di media sosial, yang remeh temeh jadi luar biasa penting. kalo sudah jadi bahan ceramah di internet, kalo sudah jadi bahan ‘kultwit’ di twitter yang tidak pernah tidur itu, maka ‘peristiwa itu sendiri’—peristiwa yang lepas dari tafsir dan ngemeng whistleblower, wartawan, selebtwit, elit dlsb.—menjadi tidak relevan. karena yang tersisa adalah komentar, ‘berita bocoran’, ceramah, cacian dan semua bentuk ngemeng yang adalah realitas baru yang sama sekali lain. demikian krauss—kita hidup dalam gema peristiwa. masing-masing dari kita punya narasi politik sendiri-sendiri, narasi yang kita pakai untuk membuat jelas setiap berita politik dari wartawan-wartawan sok dan medioker yang sudah pun ceroboh dan kurang wawasan masih diplintir sama editornya yang pun sudah punya ideologi masih pula digencet sama pemilik koran. lalu—serius amat, bung?

perkawinan jurnalisme dan media sosial tidak membuat ini menjadi lebih ringan—sebaliknya, gema alias ngemeng alias wacana alias tafsir alias apalah itu yang kita temui di twitter dan dinding fesbuk tentang budi gunawan dan charlie hebdo dan olga syahputra, semua komentar pintar penerima beasiswa LPDP dan Fulbright dan ADS dan pegamat-pengamat amatiran di pelosok negeri yang masih kurang terkenal tentang apa saja yang diberitakan media massa, bahkan media paling bodreks sekalipun, adalah realitas baru kita, realitas yang lebih buruk rupa dari kenyataan yang selama ini kita benci. dan kita tidak pernah mau belajar, tidak pernah mau sadar, berpikir semua yang kita tuliskan di media sosial itu penting—berpikir bahwa kita adalah bagian dari peristiwa, bukan penonton di pinggir jalan.

karl_kraus

karl krauss

tapi ini esai tidak punya maksud untuk menganjurkan nihilisme—ini hanya pengingat, akan natur yang sebetulnya dari kenyataan medsos yang kita temui setiap hari itu. medsos sebagai gema dari realitas, bukan realitas itu sendiri, bukan kenyataan itu sendiri, bukan sesuatu yang layak untuk terlalu diseriusi. bahwa—setelah membaca debat agama dan politik di linimasa—persetan lah dengan semua komentar cerdas di internet itu.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: