Matinya Sebuah Twit

December 7, 2014 at 11:42 pm | Posted in fiksi, iseng, katarsis | 8 Comments
Tags: ,

twitter-bird-286x300

Aku dilahirkan pada Jumat malam. Beberapa menit saja sebelum pengguna akun @fulan mengunci ponselnya dan pulang kerja. Jakarta waktu itu lagi macet parah. Dia sebetulnya malas pulang. Tapi dia malu kelamaan di kantor. Dia kesal. Kesal sekali. Dia butuh pelepasan. Maka jadilah aku: @fulan: Jakarta semakin ngehe. Taik.

Aku tidak tahu kenapa dia harus menyebut kata, Taik.

Aku bukannya tidak bersyukur, tapi kata Taik bukan kata yang bagus. —Oh, aku tahu aku meminta terlalu banyak. Tapi, percayalah, hidup sebagai twit itu tidak mudah.

Beberapa detik setelah aku dilahirkan, aku langsung merasa terasing, sangat terintimidasi. Kalian semua sudah tahu. Ada banyak sekali twit di dunia ini. Linimasa itu ramai. Ramai sekali. Jumlah kami itu ribuan per detik. Mungkin jutaan.

Ada yang beruntung. Pemilik akunnya santun berbahasa. Dia begitu cantik. Kata-katanya sopan: @dinda: Jakarta malam ini indah sekali. Aku malu sekali. Aku sama sekali tak ingin dia melihatku. Setiap kali aku membaca diriku sendiri, aku minder. Aku masih tak rela hadir di linimasa sebagai Taik.

Twit pertama yang aku kenal adalah @farah: TGIF, yey! Dia lebih tua lima jam dariku. Dia bilang, dia senang karena banyak orang yang kasih dia favorite dan bahkan ada yang me-retweet-nya.

Kata dia, menghibur diri: ‘Mungkin aku hanya bisa hidup sehari saja. Tapi aku senang hidupku berkualitas.’

Aku hanya bisa kasih dia senyum.

Aku tidak bisa membantahnya. Hari Jumat akan segera berakhir. Dalam beberapa jam, dia akan menjadi twit basi. Tidak akan ada lagi yang peduli. Dia akan dilupakan. Seperti Friendster atau Yahoo Messenger.

Tapi @farah: TGIF, yey! emang orangnya kebangetan ramah. Dia tidak sungkan bertanya kepadaku: ‘Berapa lama kau pikir kau bisa hidup?’

Aku betul-betul malu menjawabnya. Usiaku baru dua menit. Saat ini aku masih berada di linimasa banyak pengguna Twitter. Di ponsel, atau laptop. Tapi aku tidak yakin bisa bertahan lebih dari sehari. Aku sama sekali tidak nyastra. Apalagi witty. Aku hanya satu dari jutaan twit biasa di linimasa.

Tidak lama lagi aku akan mati. Tidak akan ada lagi yang melihatku. Bahkan pengarangku sendiri! Aku pasang wajah berani. Aku bilang sama @farah: TGIF, yey! kalo aku berharap bisa hidup lebih dari sehari. Aku ingin lebih lama melihat dunia.

Dia kasih aku senyum. Aku suka lihat lesung pipinya. Dia twit yang ramah. Katanya kepadaku: ‘Jangan kuatir. Kau tidak membosankan. Kau akan hidup lebih lama dariku!’

Sepuluh menit pertama di linimasa adalah masa terberat dalam hidup sebuah twit. Twit muda akan melihat twit-twit lain di-retweet ribuan kali. Seperti twit cerdik tentang BBM yang dilahirkan seorang seleb itu. Dia hidup lama sekali. Di-retweet berkali-kali.

Twit muda akan merasa iri dengan mereka yang hidup dalam chirpstory—diabadikan oleh seseorang dalam sebuah blog, selamanya bisa dihidupkan kembali oleh mereka yang kepingin baca-baca.

Mereka semua keren-keren. Mereka banyak tahu soal politik. Mereka adalah twit aktifis. Mereka semua jagoan. Pintar. Seksi. 

Tapi kadang jadi twit lucu juga menyenangkan. Dikerubutin banyak orang. Dikomentarin banyak orang. Oh, seandainya…

Twit pertama yang dilahirkan karena aku adalah @melanie: yang sabar ya, sayang! Aku tidak suka dia. Dan aku tahu perasaan ini mutual. Aku tidak suka PDA. Dan sebagai twit berakhiran kata ‘sayang’, dia pun tak nyaman bersanding dengan kata Taik.

Aku tidak pernah bisa paham kenapa pengarangku bisa pacaran sama pemilik akun @melanie. Alah! Tau apa aku soal manusia dengan segala keganjilan mereka? Aku ini cuma twit.

Aku bukan sajak yang digubah oleh para pujangga di abad-abad yang lampau. Seperti Goethe, atau Atar. Aku bukan bagian dari larik-larik puitis dalam tragedi Yunani, atau cerita klasik Shakespeare. Hah. Aku bahkan tak sepadan dengan sajak-sajak murahan di mading kecil SMA negeri di pelosok Banten.

Aku tidak pernah bertanya tentang makna hidup; mengapa aku dilahirkan dari kebencian, dari rasa jengkel pekerja kerah putih Jakarta yang manja; mengapa aku harus hadir sebagai satu dari jutaan twit yang berseliweran di linimasa, berharap ada orang yang kenan membaca diriku, dan—bila berkenan—menuliskan reply bagi kehadiranku.

Oh, betapa semua ini konyol. Aku, juga, tidak pernah mendamba keabadian. Tapi banalnya, fananya hidup sebagai twit biasa, bukan twit jagoan, sungguh tidak tertahankan. Kau tak ingin menjadi twit seperti aku. Percayalah.

Setelah lima jam, aku merasa semakin sedikit orang yang dapat melihatku. Aku pun sudah tak lagi melihat @farah: TGIF, yey! Aku merasa kesepian juga akhirnya. Tapi aku masih tidak bicara dengan @melanie: yang sabar ya, sayang! Dia juga tidak bicara padaku.

Sementara twit-twit baru berdatangan. Semakin larut malam semakin banyak twit galau. Mereka adalah melankoli. Mereka lahir dari gelisah, dari duka manusia. Banyak orang bilang mereka semua norak. Tapi setidaknya mereka bukan Taik.

Semakin hari aku merasa semakin basi dan tidak relevan. Aku merasa hilang dalam keramaian Twitter. Sementara linimasa terus berlari. Aku kini berada di tumpukan paling bawah. @melanie: yang sabar ya, sayang! sudah tak ada. Aku berdoa. Aku berzikir. Aku pasrah.

Sebentar lagi aku akan diabaikan. Semua perhatian akan mati total. Padam. Aku akan hilang dalam lupa—dilindas mati oleh lalu lalang twit-twit terbaru. Aku. Menjadi twit basi. Menjadi tidak relevan. Menjadi relik dalam dunia maya yang senantiasa menginginkan keanyaran. Kemutakhiran. 

Semua ini tidak bisa dihindari. Aku tenggelam semakin dalam.

Aku tak bisa bercerita lagi.

Oh, aku sungguh berharap aku ini bait sajak pada satu halaman yang telah menguning dari buku kumpulan sajak karya Soebagyo Sastrowardojo. Di pojok atas lemari buku yang sudah berdebu. Di toko buku bekas di Taman Ismail Marzuki.

Oh, aku ingin dilupakan, ditelantarkan! Agar aku bisa ditemukan kembali, dikagumi, dihargai sepenuh hati. Seperti larik-larik puisi itu.

Advertisements

8 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. @catatangentole mati?

  2. kayaknya gak bisa dihidupin lagi. tapi blogpost ini fiksi aja.

  3. Because their words had forked no lightning, they do not go gentle into that good night. 😥

  4. BTW, ini salah satu posting terbaik masbro yang pernah saya baca. Sumpah mantaf. 😆

  5. Hahaha. Thanks! Lagi nyoba-nyoba fiksi lagi. 😛

  6. /

  7. Ya? Itu sandi morse?

  8. Hahaha.. maksudnya mau bikin \o/ kenapa nongolnya itu doang. Hehehe. Nice post. It takes guts to write something like that. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: