hasad

November 30, 2014 at 11:21 pm | Posted in katarsis | 3 Comments
Tags: , ,

Blase Cartoon Edit— lagi-lagi, sebuah tanda tanya. kali saya lagi bosan, atau saya ini memang pendengki. bahkan, ini bukan anekdot, i really hate myself. buku-buku itu mereka tulis untuk apa? kalo sudah nonton seratus atau seribu film, lalu apa? kalo sudah buat satu, dua tiga film—lalu apa? novel, kumpulan sajak, puisi esai. haha. lalu bagaimana dengan para ‘penulis kreatif’ itu? betapa semua ini lelucon yang sangatlah konyol. sejenak, saya mau jadi pemain catur saja. kenapa pemain catur, atau pengusaha bakso, tidak sekeren filmmaker atau published poet? yang paling menggelikan dari semua ini adalah, saya sudah tak lagi membaca novel, apalagi kumpulan sajak. film pun semua sama saja. mau komplen pun tak punya hak, apalagi kompetensi. saya ingin tertawa yang keras, tertawa yang keras sekali, tapi saya juga merasa gak karuan—iri sih bukan, sama sekali gak iri. ketika saya melihat CV si masnya, bagaimana dia sudah buat banyak buku, menerima sekian penghargaan, saya hanya bisa bertanya—buku-buku itu ditulis buat apa, tak pernah saya dengar, apalagi baca. sastra kali sudah mati. yang tinggal hanya ‘menulis kreatif.’ atau sayanya aja yang sudah kehilangan interes—sudah tak lagi mengagungkan sastra, dan berpikir kalo menulis itu tidak ada gunanya, dan hidup sebaiknya dihabiskan dengan masak telur dadar dan internetan sepanjang hari, tanpa impian, tanpa holy grail. kali ini gejala usia, selepas 30 tahun. atau ini memang dengki saja. hasad.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. the feeling’s mutual. aku kehilangan tulisan-tulisan yang merenungkan esensi kehidupan. keseharian yang tak melulu spektakuler. barangkali berlembar-lembar essay tentang nikmatnya mencuci piring sendiri meskipun kamu seorang lelaki akan saya lahap dengan senang hati. mungkin ini juga dengki. saya heran dengan orang yang berbondong-bondong membeli buku keluaran terbaru dee, seakan-akan dia jk rowling indonesia, lalu mengumumkan pada dunia agar dibilang bagian dari mereka yang hip. aku menunggu buku yang tak melulu menggambarkan indahnya travelling irit. buku yang settingnya tidak harus di luar negeri. buku yang membacanya tak harus seperti sedang lomba lari tapi dinikmati beberapa lembar per hari. membiarkannya resap dan setidaknya mengurangi porsi waktu untuk mendengki. hasad.

  2. hayo bang, ketularan dari noteku yg trakhir yah? hihihihi

    saya belum 30an lo bang, hiks… rasanya hidup hampa sekali, bangun pagi nyari duit, pulang sore. mandi tidur bgt seterusnya… sastra itu, gak se”wah” yang dulu. mungkin benar, kita merasa ”berlomba”, yang penting menang. urusan-urusan hiburan kayak sastra tak ada tempat lagi. sedih sih tapi yah mau diapa lagi, sudah gak tertarik lagi, apalagi pas jonru yang punya penilislepas.com, tempat saya nyari info lomba jaman mahasiswa sudah sibuk jadi seleb anti-jokowi *eh

    yassudah, ambil lucunya saja…

  3. @koprolkata: emang dee bikin buku apa lagi? dan buku traveling irit masih laku?
    @inayah mangkulla: iye, gegara postinganmu juga ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: