Anda Ngebet Pengen Jadi Seleb di Internet? Ini Lima Hal Yang Perlu Anda Ketahui Untuk Menjadi Menarik dan Terkenal di Media Sosial

November 27, 2014 at 11:36 am | Posted in iseng, katarsis, komentar | 4 Comments
Tags: ,

Bukan. Salah satunya bukan dengan menjadi waskita nan bijaksana. Mari kita sepakati satu hal: real smart people are boring. Bukan. Bukan karena mereka boring mereka itu boring. Mereka membosankan karena we’re all fucking idiots! Sudahlah. Terima saja. Kalo kita semua pintar, media sosial tidak akan semenyebalkan ini, dan musuh Internet nomer satu itu bukan Jonru atau Kim Kardashian melainkan misteri matematika yang belum terselesaikan atau wilayah pengetahuan yang belum terjamah dalam bidang ilmu fisika atau biologi. Tidak. Dunia maya memang dihuni oleh orang-orang pintar, tapi mereka minoritas. Statistiknya saya tidak punya. Tapi saya bisa kasih konfirmasi kalo saya ini salah satu orang goblog di Internet, dan lihat betapa berisiknya saya, betapa comel dan cerewetnya saya! Dan saya tidak sendirian. Orang kaya saya, dalam berbagai variannya, banyak di Internet. Karena itu, saya merasa punya kompetensi untuk menuliskan tips penting di bawah ini.

smart people

this is how i imagine indonesians studying abroad look like when they are commenting on indonesia

Anda mau terkenal di Internet? Pahamilah lima prinsip ini:     

1). Sok Pintar Lebih Penting Dari Pintar Beneran

Sok pintar itu ada seninya. Dalam situasi sosial ketika semua orang goblog—tidak akan ada yang merasa goblog, dan tidak akan ada yang tahu kalian goblog. Jadi, selaras dengan logika tersebut, orang sok pintar akan terlihat pintar beneran. Di jagad maya, sok pintar itu gampang sekali. Mari kita panjatkan puja dan puji kepada Google dan teknologi salin-tempel yang sudah ‘meng-upgrade‘ kemampuan ingatan kita—sehingga dalam sekejap Anda bisa jadi seorang ahli fikih dari Albania, atau penerima nobel fisika dari Polandia. Ini, tentu, perlu saya tegaskan, bukan untuk menjadi tampak pintar. Bukan, bukan, saya klarifikasi, sok pintar itu lebih dari sekedar ingin tampak pintar. Anda bisa jadi plagiator salin-tempel disertasi orang dan kemudian tampak pintar—tetapi Anda bisa saja tetap rendah hati, dan tak ingin menjadi sok pintar. Seninya sok pintar bukan di situ. Ini sok pintar, bukan menjadi pintar beneran. Jadi substansi gak penting. Yang penting adalah presentasinya; bagaimana Anda mencitrakan diri Anda. Contoh A: Orang goblog: Ah, gue gak ngerti sama sekali teori relatifitas! Buta banget gue. Anda: Hahaha, lo udah khatam fisika klasik belum? Lo familiar dengan soal-soal kalkulus gak? Kalo enggak ya susah. Anda sama sekali tidak paham fisika klasik dan apalagi kalkulus. But, hey, fuck them stupid people on Internet!    

2). Opini Lebih Penting Dari Fakta—Beropinilah

Anda jangan menulis status atau ngetwit: ‘TIL: Ibu kota Indonesia adalah Jakarta.’ Gak bakalan ada yang peduli. Coba ganti dengan: ‘Jakarta gak pantes jadi ibukota Indonesia!’ Dijamin ada yang peduli. Paling tidak satu like dan satu dua komentar menggurui dari orang sok pintar. Dua kalimat itu faktanya sama: Jakarta adalah ibukota Indonesia, tapi efeknya beda, karena yang satu dibebani oleh opini. Ini contoh yang sangat sederhana tentu saja. Dalam keseharian ada banyak sekali contoh yang agak lebih njlimet—orang sering kali gak bisa membedakan mana opini mana fakta, dan ini yang membuat Internet ladang subur teori konspirasi. Oh, who am I kidding? Itu yang membuat Internet menarik buat kita semua! Udah bawaan kita sebagai manusia untuk beropini. Dan kita senang dengan pernyataan-pernyataan standoffish. Diam-diam kita menyukai troll. Kita senang memberi makan troll! Dalam setiap diri kita masing-masing ada troll kecil yang senang bikin gondok setiap orang. Kita senang ditanggepin. Enak rasanya. Jadi, jangan terlalu fokus pada fakta. Jangan bilang, ‘Menurut laporan Bank Dunia standar guru masih rendah.” Coba bilang, “Standar guru di Indonesia itu parah banget yaaaaa, jauh di bawah standar! Pantes negara kita bodoh!”   

talent-mgmt-21-300x169

lihat betapa keren anda kalo beropini!

3). Gosip Itu Lebih Penting dari Fakta dan Opini 

Anda tahu apa yang lebih menarik dari fakta dan opini? Gabungan keduanya. Kita sebut dia: gosip. Dalam jurnalisme, gosip adalah resep penting yang paling manjur buat menaikkan oplah. Orang senang gosip. Dan ini bukan fakta baru. Sejak dulu, kebudayaan dan terutama tradisi keagamaan itu dibesarkan oleh gosip, oleh informasi yang tidak bisa diverifikasi betul atau tidaknya. Gosip itu sangat penting dalam kehidupan kita. Ibu-ibu senang gosip. Bapak-bapak juga. Apalagi anak sekolahan. Siapa yang gak suka ngegosip di sekolah atau tempat kerja? Dan tidak ada tempat paling subur buat tumbuhkembangnya gosip selain media sosial, apalagi Twitter! Ada alasan kenapa akun @triomacan2000 itu bisa terkenal. Karena akun ini bukan cuma sok pintar dan senang beropini—tapi akun ini juga jago ngegosip. Dan ini tidak gampang. Gosip itu bukan opini. Gosip harus punya bobot atau bernuansa faktual. Karena kalo tidak ada, orang bisa dengan mudah menganggapnya sebagai opini. Gosip itu harus taksa: harus berada di antara kebohongan dan kebenaran, fiksi dan fakta. Dan itu yang membuatnya engaging. Biasanya gosip ini diutarakan dalam kalimat tanya. Misalnya, “Apakah Jonru agen Yahudi? atau “Apakah Rhoma Irama seorang biseksual?”

e10fa114eb8b5ec3_tigers

OMG! OMG! they’re so cute!

4). Jadilah Kontrarian Gadungan—Jadi Gila Aja

Jangan mengikuti arus. Kalo orang bilang langit itu biru, Anda jangan ragu bilang kalo langit itu terbuat dari gandum dan suatu hari kita akan diguyur hujan roti! Haha. Well, ya, gak segitunya sih. Tapi mungkin memang segitunya juga. Karena di Internet itu—orang bersikap seperti kawanan domba, mereka senang mengekor, sadar atau tidak sadar. Kan ada itu yang disebut dengan ‘kebijaksanaan khalayak’ atau ‘wisdom of the crowd.’ Nah, yang diperlukan hanya melawan apa yang disetujui oleh khalayak dan Anda akan mendapatkan perhatian banyak orang. Anda, tentu, harus sok pintar. Anda juga harus bisa beropini. Anda juga kalo bisa juga mahir mengaburkan fakta dan opini. Kalo itu semua susah. Ya lupakan saja. Seperti saya bilang di atas, jadi kontrarian gadungan pun manjur. Coba cari pandangan umum yang paling umum. Misalnya, soal khilafah. Lingkaran Anda bilang khilafah itu bodoh, delusional, konyol dan sebagainya. Dan Anda sebal dengan keseragaman itu. Nah, coba Anda tulis status: ‘Gue setuju khilafah. Sistem politik dunia sekarang cacat!’ Ya, tentu saja trik ini hanya manjur kalo Anda bukan penbois Hizbut Tahrir betulan dan selama ini Anda dikenal sebagai bajingan liberal hedonis yang sudah 100 persen pasti bakalan masuk neraka.

5). Feed The Bullies!—Sok Bodoh Itu > Sok Pintar!

Kalo semua trik dan prinsip di atas susah untuk Anda pahami dan eksploitasi, jangan kuatir. Ingat: Orang di Internet mayoritas SOK PINTAR, SUKA BEROPINI DAN JAGO GOSIP. Jadi, kalo Anda gak bisa ketiganya, Anda beruntung! Itu artinya Anda bukan orang kebanyakan. Anda bisa jadi orang pintar betulan. Atau orang yang jujur sama diri sendiri. Atau orang iseng yang sadar akan kebodohan Internet. Atau Anda memang goblog betulan. Apapun, Anda adalah orang yang paling potensial jadi troll. Jadi, tidak ada salahnya Anda mengaku sebagai pelancong waktu dari tahun 2035 atau anak remaja tanggung yang sudah terkenal dan hidup kaya raya sebagai selebritas dunia. Anda bisa menjadi apapun di jagad media sosial, terserah—yang penting Anda cukup bodoh dan memalukan Anda bisa membuat orang-orang di Internet yang sok pintar, suka beropini dan jago gosip itu merasa pintar dan layak untuk beropini dan percaya begitu saja pada semua gosip murahan di Internet.      

Disklemer: Penulis hanya bertanggungjawab atas kebodohan penulis. Penulis sama sekali tidak bertanggungjawab atas kebodohan yang dilakukan pembaca. 

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kurang twitwar bro! Harus berani twitwar terutama melawan seleb. Ahaha…

  2. hahaha. twitwar masuk kontrarian itu!

  3. Mau mengomentari sampingannya saja…

    mengaku sebagai pelancong waktu dari tahun 2035

    Man, he’s not even original. Saya cukup tua di internet untuk menyebut bahwa tahunnya mirip John Titor, dan “mesin waktu minus baju” terinspirasi dari Kyle Reese.😛

    /tiada yang baru di kolong langit
    /dan saya sudah tua…

  4. Biar begitu, masih bikin heboh. Bingung aku juga, So.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: