Ibun, Kala dan Sekar

November 26, 2014 at 1:00 am | Posted in katarsis | 9 Comments
Tags: , ,

It seems to me that the plain state of being human is dramatic enough for anyone; you don’t need to be a heroin addict or a performance poet to experience extremity. You just have to love someone.

beyondeverything-2T

beyond everything

Bukan seberapa banyak foto yang kalian unggah di dinding maya media sosial—tapi seberapa banyak bobot yang kalian beri pada mereka ketika, di waktu renung dan sendiri, kalian berpikir tentang persoalan-persoalan hidup yang paling mendasar. Dan kalian tidak mendapatkan jawaban apapun, kecuali bahwa mereka adalah kehidupan; setiap nafas yang mereka hembuskan, setiap gelak dan tawa, setiap pagi dan malam yang kalian habiskan bersama mereka—adalah segalanya. Jikalau Allah itu ada, dan jikalau Dia mahakasih, maka setiap kasih yang kalian punya, yang kalian berikan sepenuhnya pada mereka, adalah refleksi dari kewujudan ilahi, adalah pengejawantahan dari kerahiman yang mahacinta. Tidak usah jadi pemadat, atau jadi pujangga, kita hanya perlu mengasihi. Pada suatu fase dalam hidup, jawabannya memang sesederhana itu. Setelah itu, segalanya jadi terang benderang—segala pertanyaan tentang Tuhan, tentang makna hidup, tentang asal mula dan tujuan akhir dari semua yang pernah dan akan ada. Di kala lelah, di kala duka dan kalian terperosok dalam kesia-siaan hidup, mengingat mereka adalah penawar. Mereka bagi kalian adalah yang puitis dari keberadaan, mereka bagi kalian adalah yang candu dari kehidupan. Kalian akan merasa lega bila mereka ada. Kalian akan merasa hilang bila mereka tidak ada. Mereka adalah satu alasan kalian berharap keabadian itu nyata. Mereka adalah satu alasan kalian berpikir hidup layak untuk dijalani bila keabadian tidak pernah ada. Mereka adalah satu alasan kalian bangun pagi dan kemudian menyongsong hidup—mencari nafkah dari pagi sampai petang. Mereka adalah satu alasan kalian bisa tidur nyenyak bila malam tiba—dan akhirnya bisa berlepas diri dari malam-malam yang selalu sepi dan gelisah itu, malam-malam yang sesak oleh semua yang tidak selesai di masa silam, malam-malam yang tak pernah ingin melihat pagi. Mereka adalah jangkar yang menambatkan kalian pada kewarasan dan kenyataan hidup. Mereka adalah layar yang membawa kalian pada pengharapan akan yang ilahi, yang kekal dan abadi

Advertisements

9 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Tujuh tahun saya tahu ente; puluhan posting blog saya baca; jutaan huruf; semua kata curhat eksistentialisme rinduilahi hidupyangbanal kangensopbuah Sartre Kierkegaard dan lain sebagainya, dan ternyata…

    Pada suatu fase dalam hidup, jawabannya memang sesederhana itu. Setelah itu, segalanya jadi terang benderang—segala pertanyaan tentang Tuhan, tentang makna hidup, tentang asal mula dan tujuan akhir dari semua yang pernah dan akan ada.

    Saya merasa seperti baru mengejar harta karun ke Mesir, nyasar ke oasis, digebuki rampok, dan dikasihtahu bahwa harta karunnya ada di pohon belakang rumah. Jadi, yah begitulah… 😆

  2. lah kan semuanya perlu waktu; dan lagian dari tujuh tahun itu kan sebagian besar single, rapuh dan berada dalam situasi shakespearian. 😛

  3. @sora9n
    Udah nonton film Walter Mitty? :mrgreen:

  4. ^ ketawa-ketawa aja gak jelas

  5. @ lambrtz: ICYMI, itu referensi novel The Alchemist.. 😛

  6. ^ hahaha aku udah tiga bulan ini kebayang santiago. tapi bukan dalam konteks galau-menggalau. tapi selama bertahun-tahun aku pikir hidup bakalan selesai kalo aku dapet beasiswa, dan setelah jauh-jauh sampai sini: this is not what i’m looking for.

  7. saya masih heran dengan orang-orang yang menulis surat untuk anaknya yang belum lahir. tapi ketika saya nemu surat alm. bapak, walau bukan untuk saya, itu surat untuk kakak saya yang kuliah. inti suratnya hanya rincian uang bulanan kakakku, tapi membacanya pengen nangis…

  8. tapi yah itu mendingan, daripada saya yang nulis surat buat bapakku yang ”ceritanya” masih balita

  9. ^ masih ngetren ya nulis surat buat anak yang belum lahir? tapi ya punya anak emang pengalaman yang sangat lain sih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: