Kabar Mengejutkan!

November 23, 2014 at 3:15 pm | Posted in fiksi, satir | 6 Comments
Tags: , ,

LSM KLAIM ‘JONRU’ ADALAH HOAX

henrrry_71

Jakarta — Lembaga pengawas kebohongan Internet yang berbasis di Malang, DugaMaya, mengklaim bahwa musuh Internet nomer satu di Indonesia yang kerap disebut “Jonru” adalah karakter fiktif rekaan Amerika Serikat untuk mengembangkan liberalisme dan sekularisme.

DugaMaya mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan penelitian selama lebih dari satu tahun dan menemukan bukti-bukti konkrit bahwa “Jonru” diduga tidak lebih dari profil Internet palsu yang dikelola oleh pihak asing.

“Pada mulanya kami lebih tertarik untuk mencari tahu sebetulnya apa motif dari setiap cuitan dan status Facebook ‘Jonru.’ Kami melihat bahwa ‘Jonru’ adalah figur paling berpengaruh dalam menumbuhkembangkan liberalisme di Indonesia. Bisa dibilang, dia sangat berjasa bagi terpilihnya Jokowi pada pilpres Juli lalu,” kata Afandi Jaya melalui sambungan telepon kepada Beritadua.com pada Senin (23/11/14).

“Tapi dalam proses penelusuran itu kami menemukan beberapa kejanggalan. Yang paling mencolok adalah banyaknya meme ‘Jonru’ yang tidak jelas asalnya dari mana. Dan kami kemudian menemukan pola inkonsistensi yang lumayan konsisten. Kami menduga bahwa ini bukan ciri-ciri alamiah pengguna Internet.”

Penelusuran tersebut, kata Afandi, sempat terhenti karena tidak ditemukannya bukti fisik yang bisa mendukung dugaan mereka, sampai akhirnya seorang warga negara Amerika mengirimkan sebuah surel yang terenkripsikan kepada DugaMaya pada pertengahan September lalu. “Awalnya kami tidak percaya. Tapi sumber kami yang meminta agar kami menjaga kerahasiaan identitasnya tersebut membeberkan semuanya secara detil,” ujarnya.

Sumber anonim ini, seperti Edward Snowden, diduga pernah bekerja untuk badan intelijen Amerika, The National Security Agency  (NSA).

Afandi menjelaskan bahwa Paman Sam dan sekutunya, termasuk Israel, mempunyai kepentingan untuk memastikan bahwa Indonesia, sebagai negara terbesar di ASEAN dan negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, tidak kembali pada otoritarianisme atau radikalisme Islam. “Mereka tidak mau ada Taliban dan Korea Utara Baru,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, mereka mencanangkan sebuah operasi intelijen bernama “Operation Loud Fart” untuk memanipulasi percakapan di Internet dan mendiskreditkan gerakan-gerakan pro syariat Islam. “Operasi ini sudah berlangsung lama. Tifatul itu salah satu proyek besar mereka. Selain Jonru, Tifatul sangat berjasa sekali dalam mensolidifikasikan pandangan kelas menengah Jakarta kalo politik Islam itu katrok, culun dan terbelakang,”  ujar Afandi.

Operasi ini diduga bermula dari kekecewaan Amerika Serikat terhadap Ulil Abshar Abdalla dan rekan-rekannya di Jaringan Islam Liberal (JIL) yang sepak terjangnya malah menjauhkan masyarakat dari liberalisme dan kemudian condong pada Islamisme.

Menurut Afandi, “Ulil dan rekan-rekannya di JIL itu sudah lama ditinggalkan Amerika dan Israel. Mereka gagal total. Sejak JIl didirikan, Indonesia Tanpa JIL malah mendapatkan banyak simpati dari banyak orang. Ini betul-betul kontraproduktif. Sumber saya bilang ini kegagalan intelijen terburuk dalam sejarah intelijen Amerika dan Zionis.”

DugaMaya mendapatkan data kuantitatif yang bisa dipertanggungjawabkan bahwa percakapan daring yang menjelek-jelekkan representasi politik Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Front Pembela Islam (FPI) meningkat tajam setelah operasi “Jonru” diaktifkan, bahkan melebihi pencapaian operasi Tifatul (dengan kode operasi OPL 1425) dan operasi LHI (dengan kode operasi OPL 1365).

LSM tersebut menemukan bahwa 76 persen pengguna Internet berusia antara 15 sampei 35 tahun merasa tidak ingin diasosiasikan dengan ‘Jonru” dan mengaku condong pada liberalisme dan sekularisme agar tidak dibuli di Internet. Lebih jauh, sekitar 30 persen dari mereka yang mendukung Prabowo pun bergeser ke tengah agar tidak dikaitkan dengan “Jonru.”

Menurut DugaMaya, “Jonru” itu dianggap seperti Blackberry murah atau Kangen Band.

“Buli Internet ini powerful sekali. Ini metode propaganda Web. 2.0,” kata Afandi. “Siapa sangka, bahwa untuk memastikan keberhasilan sebuah ideologi Anda cuma butuh untuk membuat mereka yang menganutnya merasa ‘keren.'”

[Update: Pihak Badan Intelijen Negara (BIN) menolak berkomentar mengenai hal ini. Dan kami memutuskan untuk tidak mengkonfrmasi ‘Jonru’ sampai kami mendapatkan konfirmasi ‘Jonru’ bukan hoax]

Penulis: AQJ

6 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. perlu dibikin jingglenya juga nih kayak iklan mastin –liat dr judulnya– hahahah…

  2. Hahaha

  3. cukup masuk akal… 😀 hahahah… satir-nya…

  4. Prediksi saya untuk posting ini:

    For though they may not get it,
    There is still a chance that they comment,
    There will be a troll, let it be…
     
    Let it be, let it be,
    Let it be, oh let it be,
     
    Yeah, there will be a troll, LET IT BEEEEE…

    *gelar tiker*
    *siapin roti tawar selai kacang* 😆

  5. super!

  6. coba’ ya… bayangkan, jika jonru di sini muka oppa korea kayak lee min ho dan semacamnya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: