Tentang ‘LINE’ dan Kawan Lama

November 21, 2014 at 1:13 pm | Posted in katarsis, komentar | Leave a comment
Tags: , ,

Saya idem sama David Mithcell soal hidup dan matinya sebuah pertemanan. Ada alasan kenapa kita mengakhiri masa berlaku seorang teman—dan menurut saya adalah sebuah ide yang luar biasa konyol bila mereka—para pegiat usaha medsos itu—berpikir orang senang bisa berteman lagi dengan kawan lama. Saya tidak habis pikir: kenapa orang mau menghidupkan lagi pertemanan dengan kawan SD, SMP dan SMA atau bahkan kuliah?

Pertemanan itu demanding, apalagi pertemanan yang setipe dengan hubungan asmara (heleh) yang buruk. Kalo ada satu dua teman yang bertahan lama melewati berbagai tahapan hidup kalian, itu lain soal. Kalo mereka bertahan, itu artinya mereka layak untuk dipertahankan. Tapi saya tidak yakin jumlahnya bisa lebih dari lima, apalagi sepuluh, apalagi satu sekolahan! Jadi, kenapa ada fitur ‘find alumni’ LINE? Saya dulu unduh ini aplikasi buat chat karena iseng aja. Pernah pakai sekali dua. Dan kemudian, tak seperti watsap dan BBM, saya diamkan lama sekali sampai ada video viral AADC tempo hari. Dan saya pun sadar: ini aplikasi secara aktif menghubungkan saya dengan kawan lama yang saya tidak punya alasan untuk berhubungan lagi. Lalu, belakangan ini pula saya diberi opsi untuk daftar fitur cari teman sekolah. Yaelah. Why would I do that?? Saya reunian pun hampir gak pernah dateng. Dan ini akses bebas 24 jam bagi kawan lama untuk menghubungi saya? Di mana saja? Kapan saja?

Kawan bilang, secara semena-mena, kalo 80 persen orang suka reunian. Yang 20 persen gak suka. Katanya saya bagian dari yang 20 persen itu. Katanya lagi, yang 20 persen itu minder. Atau korban buli. Ini argumen yang lumayan valid. Meskipun, pada kenyataannya banyak juga kawan lama yang dianggap ‘sombong’ karena sudah dianggap sukses—dan karena itu sengaja tidak pernah datang acara reunian. Kan, keluhan ini umum sekali: ‘Si fulan sekarang sombong banget mentang-mentang sudah [sukses/terkenal/kaya/pintar].’ Saya tidak bisa bilang saya sukses atau tidak. Ini relatif, tergantung perasaan. Saya tidak merasa keduanya. Saya hanya merasa tidak ada alasan yang kuat untuk bisa bercengkrama secara intensif lagi dengan kawan lama. Menurut saya, pada kenyataannya, ada banyak alasan untuk tidak menghadiri reunian. Dan semuanya bermula dari kata malas: malas ketemu mantan (kalo punya), malas ketemu  pembuli, malas ketemu korban buli [apalagi kalo dia lebih sukses], malas ketemu kawan yang 20 tahun lebih hidupnya masih begitu aja, malas ketemu kawan yang super sukses, malas ketemu kawan yang sudah jadi agen MLM, malas ketemu kawan yang sudah jadi aktifis khilafah, dlsb. Ini alasan umum yang bisa dipahami, kan?

AADC-2014

yeah…anak STM dulu.

Mungkin kalian bilang kawan kalian semua keren-keren dan enak diajak main. Kalian mungkin senang reunian sebulan atau bahkan seminggu sekali. Kalian mungkin senang bikin grup teman sekolah. Itu saya gak bisa komentar apa-apa. Ya, maksudnya saya gak tau. Tapi apa iya sebagian besar orang seperti kalian? Dalam situasi paling umum, seperti dikatakan Mitchell, perasaan hambar ini mutual. Kita dulu berteman. Tapi kini tidak lagi. Kita sudah sama-sama tidak berminat melanjutkan pertemanan ini lagi. Dan kita membuat sebuah persetujuan tak terkatakan untuk tidak saling menghubungi lagi, meskipun pada hari itu kita bilang: ‘Eh, man, lama gak ketemu. Apa kabar? Kontak-kontak ya!’ Ini tidak melulu basa-basi. Tapi menurut saya kalimat perpisahan semacam itu tidak lebih dari template yang juga ada di ponsel kalian. Jangankan kawan setengah kenal di jaman SMA (saya dulu sekolah di STM, tidak ada roman ala AADC, cuma ada kehidupan keras pengedar obat dan tawuran). Bahkan sahabat lama saya dari SMP sampai SMA saja sudah tidak lagi bisa saya ajak berbagi—sudah terlalu banyak perbedaan (saya misalnya sudah tidak suka bola, tapi dia masih saja membanggakan Barcelona; atau, saya ingin bicara soal apa saja, dan dia tidak berhenti bicara tentang apa yang dilakukan anaknya hari ini, kemarin dan nanti). Sudah lupa jaman pilpres? Masih terganggu dengan sisa debat politik pilpres seiring dengan naiknya harga BBM? Ya memang. Kita bebas memilih berteman dengan siapa aja. Tapi, tidak seperti Fesbuk, LINE ini kalo sudah terekspos otomatis jadi teman. Kayaknya sih begitu. Dan tentu tak enak kalo kita sengaja menghindar. Tidak semua pertemanan berakhir secara tiba-tiba—sebagian besar berakhir secara bertahap—we’re drifting apart. Jadi, kenapa pula kita ingin menghancurkan proses bertahun-tahun untuk ‘mengakhiri pertemanan’ itu dengan sekali pencet tombol HP? Menurut saya ini proses yang tidak masuk akal. Apa yang mereka pikirkan? Saya betul-betul tak habis pikir; kalo orang-orang ribut tentang bagaimana mereka tidak bisa move on dari relasi sosial/emosional jaman SMA—fuck, I’m so eager to get over it! 

Disklemer: Ini bukan postingan iklan. Dari LINE atau kompetitornya.

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: