Romantisisme Relijius

November 17, 2014 at 10:50 am | Posted in agama, katarsis | 1 Comment
Tags: , ,

Nolite ergo soliciti esse in crastinum.
Crastinus enim dies solicitus erit sibiipsi.
sufficit diei malitia sua. 

Matius 4: 6-7

Ikmal li dunyaka kaannaka taisyu abadan
wa’mal li aakhiratika kaannaka tamuutu ghodan

Ali bin Abi Thalib

Jadi menurut Nabi Isa: Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Dalam bahasa Inggris, redaksinya lebih menarik: Therefore do not worry about tomorrow, for tomorrow will worry about itself. Each day has enough trouble of its own. Saya suka kalimat: for tomorrow will worry about itself. Karena ada kesan, yang bersusah hati itu bukan hanya saya, tapi juga hari esok. Dan tentu saja, sebuah pernyataan ilahiah bahwasanya satu hari sial aja udah cukup itu agak melegakan. Percaya atau tidak percaya Anda pada yang ilahi, nasihat ini ada nuansa praktikalnya—lupakan esok, hiduplah untuk hari ini! Saya tahu, ini terdengar sangat klise, tapi dalam konteks agama: kuatir akan hari esok adalah penanda orang yang tidak percaya, orang-orang pagan. Orang Kristen diminta untuk mencari Kerajaan Allah, diminta untuk tak usah ribut, “Akan makan apa kita besok?” Dalam tradisi Islam, sikap romantik relijius ini dirumuskan secara apik oleh Sayidina Ali bin Abi Talib: Berkerjalah untuk duniamu seolah kau hidup selamanya. Ini mungkin agak ambigu: maksudnya apa? Santai aja, atau bekerjekeraslah? Kalo saya baca, sahabat Nabi ini sebetulnya menganjurkan semacam romantisisme Islam—jangan kuatir soal esok, santai aja; kamu abadi. Ya, sabda beliau tak behenti di situ, tentu saja. Seperti yang dilaporkan Matius, dalam konteks agama Abrahamik, Ali pun sama: santai saja kerja, seriuslah beribadah: kau besok mati

tumblr_nasx1jBkNu1tp0dtmo1_500

inspirational quote; i know, but it’s in arabic!

Sejak dulu saya terobsesi dengan paham romantisisme. Saya tahu, Dalai Lama sudah bilang ini berkali-kali—bahwa orang tak lelah memikirkan hari esok sampai lupa menghidupi hari ini—dan saya kira kita semua sudah muak mendengarnya. Tapi, ada yang lain dari fantasi agama-agama langit, bahwa hidup yang sebetulnya hidup hanya ada setelah mati, yakni bahwa hidup romantik dalam artian ‘berhentilah khawatir akan hidupmu yang menyedihkan itu’ adalah mungkin, dan bahkan inevitable apabila orang percaya, bahwa persoalan dunia ini fana adanya, tidak layak untuk diseriusi betul-betul. Ini lain dari melepaskan diri dari dunia a la Buddhisme—di mana tidak ada reward yang bersifat keduniaan, nanti bila sudah mencapai tahap nirwana. Dalam tradisi Abrahamik, ada tentu mereka yang tidak percaya dengan imaji surga yang hedonis a la sungai susu dan madu dan buah-buahan yang bisa dipetik kapan saja. Mereka, para sufi dan gnostik, bisa jadi sejalan dengan Sidharta. Tapi kita bukan sufi, bukan santo, apalagi Sidharta yang adalah anak raja yang hidupnya berkelimpahan. Kita adalah manusia modern yang tercerabut dari mitologi agama yang kini hadir sebagai sebuah konundrum; sebuah pandemonium, dengan perang agama di Timur Tengah dan debat kusir ateis Internet versus agamis karbitan. Tidak heran, memang, bila orang kemudian hidup dari poster-poster inspirasional. Tidak mudah untuk begitu saja percaya pada apa yang dikatakan pemuka agama. Oleh sebab itu, saya merasa pernyataan Yesus sebagaimana dikutip Matius itu menarik: jangan pikirkan esok, biarkan esok memikirkan dirinya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah sudah. Dan beberapa abad kemudian, Ali menimpali: relax, you’re going to live forever! Entah bagaimana, ini mengingatkan saya pada romantisme Chairil. Hasrat kebadian sebagai refleksi dari keinginan untuk hidup sebanyak-banyaknya. Chairil sebagai Don Juan, perwujudan kemerdekaan eksistensil dan etika kuantitatif-nya Camus.

matthew-apostle1

santo matius

Apakah saya ngawur? Apakah mungkin ada romantisisme dalam agama? Apakah melepaskan diri dari kekhawatiran dunia agar kemudian mengkhawatirkan hidup sesudah mati bisa dianggap sebagai romantisme? Entahlah. Tapi coba baca apa yang dituliskan Matius ini: Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal. Ini mengingatkan saya pada suatu malam ketika saya merasa sangat ingin menjadi ikan lele yang digoreng di dekat kosan Setiabudi, hanya karena saya tidak mau kerja. Apa Anda pernah sekali saja merasa butek dengan hidup Anda kepingin menjadi batu saja? Tapi apa yang dimaksud dengan menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Apa ini artinya, dalam tradisi Abrahamik, hidup romantik hanya bisa dipahami dalam konteks fatalisme? Maksudnya, romantisme yang bersifat paradoksal: semua sudah dituliskan, jadi tak ngaruh kau mau buat apa, terserah! Ini kali ocehan yang sama sekali ngawur dan tidak berguna. Tapi saya betul-betul serius berpikir, apakah mungkin: Islam, dalam artian beraslama atau berserah diri kepada Allah, adalah juga sebuah romantisisme. Seperti para penyair yang hidupnya compang-samping—beragama itu menolak esok demi hari ini, menolak esok demi kehidupan yang abadi.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Lalu teringat lagu Lionel Richie, “…I’m easy like Sunday morning…” Hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: