kejatuhan manusia & kasih ilahi

October 21, 2014 at 9:05 pm | Posted in katarsis | 1 Comment
Tags: , , ,

  قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (QS-39-53)

“Quod est ergo meritum hominis ante gratiam, quo merito percipiat gratiam, cum omne bonum meritum nostrum non in nobis faciat nisi gratia et cum Deus coronat merita nostra, nihil aliud coronet quam munera sua?”

What then is the merit of man before grace by which merit he should receive grace? Since only grace makes every good merit of ours, and when God crowns our merits, He crowns nothing else but His own gifts.” —Epistulae, Santo Agustinus.

Two-Blind-Menbayangkan setiap dosa; setiap kekejian; setiap kebobrokan yang pernah kita lakukan. bayangkan setiap saat ketika kita merasa lebih suci dari orang lain, setiap saat ketika kita merasa lebih baik dari orang lain, setiap saat ketika kita sadar betul bahwa kita sesungguhnya adalah seorang munafik, dan kita sama sekali tidak merasa bersalah untuk itu, kecuali hanya sedikit saja, dan kemudian kita pendam dalam-dalam, kita lupakan diam-diam. coba ingat, coba ingat semua keraguan itu, coba ingat apa kata usjadmu dulu, bahwa dosa adalah apa yang kamu tidak ingin orang tahu, sesuatu yang selalu ingin kau sembunyikan. coba lihat semua yang hina, yang bejat dari kita, jangan lepaskan pandanganmu dari kehinaan itu, kebejatan itu. semua yang jelek-jelek dalam fantasi kita, semua yang tidak senonoh di dalam pikiran kira, semua yang kotor, semua yang jorok. dan ingatlah kembali, bahwa pada akhirnya kita tidak ingin perduli, berpikir bahwa dosa-dosa sebetulnya tidak ada, bahwa baik dan buruk—seperti dikatakan oleh Nietszche dulu—hanyalah prasangka tuhan saja, atau boleh jadi malah prasangka ular yang menggoda adam dan hawa. dan kita bertanya apa gunanya bertobat—pertobatan tidak pernah tampak begitu sia-sia, sementara dosa-dosa kian hari kian trendi, kian seksi. di mana kah tuhan dalam kejatuhan kita? bahwa kemudian ada orang yang memilih mati dan menemukan hidup yang sejati dalam perang yang bengis, dan bahwa pada saat ini para jetsetter itu lagi tertawa riang di pusat-pusat hiburan di kota-kota besar di dunia, dan bahwa pada detik ini juga ada anak kecil yang hampir mati karena kebanyakan atau kekurangan makan, hanya membuat kita benci, tidak berdaya dan tidak perduli.

berhalasiapakah yang akan menyelamatkan kita dari ketidakperdulian ini? sang mesias sudah lama jadi karikatur dalam peradaban kita. dan nama tuhan yang maha agung itu kini lebih sering kita dengar di jalanan, oleh para pemabuk dan pengangguran di kota-kota. kita tidak akan pernah meyangka bahwa mengasingkan diri dari gagasan tuhan yang definitif akan pernah bisa mengasingkan kita dari kehadiran tuhan. apakah tuhan hanya bisa dihadirkan dalam imaji? dalam bayangan mental di kepala? dalam kata-kata yang menjadi batu dan bata dalam kontruksi mental kita—tentang apakah dan siapakah tuhan itu sebetulnya? hingga kini tuhan masih saja membisu; dan kita tidak bisa yakin sepenuhnya bahwa kitab suci yang ada pada di saat ini bisa lepas dari sejarah yang melahirkankannya, bahwa pikiran kita yang dibentuk oleh sejarah hidup kita tidak akan melahirkan pemahaman yang salah atasnya, pemahaman yang sama sekali lain dari apa yang sebetulnya ingin dikatakan olehnya—dan semua kitab yang sudah dituliskan hasil upaya berabad-abad anak manusia untuk menjadikan skriptur itu masuk akal hanya membuat semua ini menjadi kabur. padahal kita bukanlah penyembah berhala, kita bukan penyembah sapi! kita juga bukan pemuja uang, apalagi jabatan. kita hanya merasa semua ini tidak masuk akal adanya. dan iman tidak lagi menjadi penerang, menjadi misbah dalam kekacauan ini.

tetapi apakah engkau percaya? bahwa semuanya bergantung dari kasih ilahi, seperti yang dipercaya oleh Santo Agustinus, seperti yang dikatakan oleh al-Qur’an, bahwasanya kita hanya bisa berdoa dan berharap. kita ini buta dan tuli. tidak ada yang bisa membimbing kita kepada tuhan kecuali tuhan itu sendiri. dan bila tuhan tidak menghendaki, dan bila tuhan tidak ada, maka tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kita. tidak ada yang akan menyelamatkan kita dari ‘kejatuhan’ kita. kita bisa memilih untuk lupa, tidak perduli atau tidak percaya—tapi dunia yang kita tinggali adalah dunia yang tidak bisa kita kendalikan, dunia yang masih berlumuran darah dan dosa.

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. For God so loved the world, that he gave his only begotten Son, that whosoever believeth in him should not perish, but have everlasting life.

    ~John 3:16 KJV


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: