Paradoks Budaya Barat di Indonesia (Dan Mengapa Ini Bukan Sesuatu Yang Perlu Membuat Anda Malu Apalagi Minder)

October 16, 2014 at 6:35 pm | Posted in katarsis | 7 Comments
Tags: , ,

Saya setuju sekali sama si mas yang menulis artikel ini. Amerika ini memang timur sekali. Lebih timur dari Indonesia. Dan, karena itu, Indonesia harusnya bisa belajar dari Amerika—belajar untuk tidak mengikuti kesalahan mereka! Saya senang menemukan fakta bahwa ‘nilai-nilai barat’ yang kecil-kecil itu hidup di Indonesia. Buat saya itu anugrah. Sesuatu yang perlu disyukuri. Jadi, sebetulnya, bung, kenapa juga kita perlu berkaca pada Amerika dan merasa malu karena “kurang timur?” Saya gak suka basa-basi dan seharusnya dunia itu seperti itu. Biar gak repot! Saya sih melihatnya begini, sederhana sajalah:

Jangan Tahan Pintu Itu! Kagak Usah!

tumblr_inline_mwv9ua9wOQ1rojx60

kadang kala masih jauh masih dipegangin

Saya nggak ngerti kenapa orang Amerika suka megangin pintu buat kita. Bukan apa-apa. Itu membebani orang yang hendak ditolong! Maksudnya baik, mungkin. Ini, loh, pintunya saya pegangin. Tapi itu kan artinya saya harus mempercepat langkah saya agar saya gak dianggap tidak tahu diuntung. Sial. Oke, katakanlah, orang di sini ikhlas. Mereka emang mau bantu. Tapi apa iya ikhlas? Saya pernah coba pegangin pintu, si mbaknya jalannya lelet saya jadi kesal. Aturan tidak terkatakan ini kan lebih sering malah bikin situasi jadi awkward. Ini saya harus lari atau gimana? Kalo emang dekat tidak apalah. Tak jadi soal. Tapi kalo jaraknya tanggung? Aturan sosial ini membebani. Harusnya hidup itu cuek aja. Nafsi-nafsi, seperti di Indonesia, di Jakarta. Kita memang harus saling membantu. Tapi urusan buka pintu mah gak usah direpotin. Kecuali bila ada penyandang cacat. Itu lain soal.

Eskalator Kiri Kanan—Orang Amerika Gak Sabaran Bener

Apa sih alasan eskalator itu diciptakan? Biar orang gak perlu naik tangga. Jadi, pasti ada orang yang mikir mereka bisa berdiri di tangga dan tidak perlu melangkah untuk sampai tujuan. Kalo gak mau berdiri aja ya naik tangga biasa aja sana. Atau naik lift. Orang Amerika ini emang serba terburu-buru. Santai ajalah. Berapa lama sih eskalator itu? Bentaran juga nyampe for God’s sake. Kalo kebelet, bilang aja permisi! Pasti dikasih liwat!

tumblr_inline_mwv9w08xjq1rojx60

saya gak tau masalahnya di mana

Terima Kasih, Untuk Apa?

Kadang saya bingung mereka bilang terima kasih untuk apa. I mean. It’s their job. It’s my job. Kecuali suatu hari ada orang tersesat lalu nanya jalan ke saya dan saya kasih tau dan kemudian dia bilang terimakasih. Nah, itu, gapapa. Lagian apa perlu ngomong terima kasih terus-terusan kalo kebiasaan itu hanya menjadi kebiasaan saja? Ini sebetulnya gapapa sih. Tapi kadang terasa redundan aja. Tidak semua orang itu Mr. Jeffries.

Silahkan Lewat

Ya, ini, lumayan lah. Tapi ada tapinya. Banyak juga pengemudi brutal yang gak mau berhenti buat pejalan kaki. Dan jangan lupa meski ada aturannya, ada aja pengemudi mabuk yang nabrak tiang listrik. Jadi, intinya pengemudi yang tidak menghargai nyawa orang lain ada di mana-mana juga. Di Amerika juga ada. Di jalan harus tetap hati-hati.

tumblr_inline_mwva3e4Hob1rojx60

ati-ati mbak

Sapaan Semu? Entahlah. Awkward yang pasti.

Suatu hari saya bawa cucian dan ada tetangga berdiri di depan pintu bilang, ‘halo, good morning, how are you?’ Terus saya balas, ‘fine, thank you.’ Lalu saya balik lagi. Orang itu masih di situ. Lalu saya harus bilang apa? ‘Mari, mas?’ Life is so much easier if we could all just mind our own business. Well, unless something terribly awful happens.

tumblr_inline_mwva1hT1nA1rojx60

i dont’t know these people

Manusia Setengah Dewa?

Kalo ini saya setuju sama mas itu. Bajingan emang orang Indonesia dalam memperlakukan penyandang  cacat. Harusnya negara dan kota itu dibangun atas dasar veil of ignorance—ini prinsip etika Barat yang harus kita tiru. Aturan itu harus dibuat berdasarkan prinsip keadilan, untuk memastikan bahwa tidak ada aturan yang merugikan orang lain. Jadi, kita harus lebih barat lagi. Jangan kebalik-balik. Ini prinsip barat, bukan timur.

Paradoks?

Kalo ada orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan kemudian tidak mau balik lagi ke Indonesia karena merasa tidak dihargai sebagai individu ya kayaknya kok orang itu songong banget; kalo dia orang baik dia pasti merasa dihargai. Kecuali dia buronan PKI, itu lain. Dia itu political refugee. Dan political refugee biasanya cinta sama bangsanya. Gak kaya mereka yang baru dapet beasiswa langsung merasa jadi warga negara maju dan merasa lebih beradab dan manusiawi. Kutu ini namanya. Indonesia itu negara yang banyak masalahnya. Tapi negara lain juga banyak masalahnya. Tidak semua kebijakan di Amerika itu malaikat. Ada ketidakadilan juga di sini. Ada rasisme, ada diskriminasi juga. Dan yang penting kalo ada masalah ya diselesaikan. Sejauh yang saya tahu setelah beberapa kali pergi ke negeri asing, saya sama sekali tidak menemukan sesuatu yang sangat lain dari sikap orang terhadap saya. Tidak ada hal mendasar yang membuat orang Indonesia lebih egois dan jahat. Kalo malas, itu iya. Semua manusia sama aja; mau Arab, Cina, Eropa atau Melayu. Orang gak megangin pintu itu bukan berarti tidak akan menolong orang dalam kesusahan. Orang yang tidak bilang terima kasih itu bukan berarti tidak tahu terima kasih. Kebudayaan itu tidak seragam. Tapi secara genetik, atau apalah itu, ada sesuatu yang menyamakan kita sebagai manusia. Tentu saja ada banyak hal-hal lain remeh-temeh di Indonesia yang menurut saya lebih baik dari Amerika. Tapi saya malas nulis. Menurut saya sih, kalo ada kesempatan, orang harus bisa pergi melihat sendiri dunia luar untuk bisa meghargai negaranya sendiri. Kalo mau ada yang diajarkan orang ya kalo bisa yang sifatnya prinsipil; kalo cuma sekedar bilang ‘terima kasih’ dlsb, itu sih kultural. Saya yakin orang Indonesia tidak kalah ramah dari orang Amerika. Tapi bukannya kita gak perlu belajar dari orang dan negara lain juga. Hanya saja sikap bahwa semua yang ada di luar negeri lebih baik dari Indonesia dan ‘seharusnya kita malu’ itu gak perlu lah dipelihara. Eh, tapi ini bukan berarti kita mesti jadi orang Indoensia yang suka bangga-banggain Indonesia juga. Please, don’t be that person juga.

Penulis sudah dua bulan tinggal di Amerika dan sudah sangat rindu kekacauan Jakarta yang menghidupkan. Setiap hari membayangkan ada tukang baso lewat atau tukang somay. Atau kalo lagi kesepian pengen denger suara odong-odong dan tukang eskrim: “Beeeli dong, beeeli dong, gue capek dorong!” Semua baik, dengan atau tanpa ‘terima kasih.’  

Advertisements

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Komen singkat dulu: nope, nope, nope, ga ngerti, yes/no (tergantung mood bersosialisasi), yes.

  2. pasti yang nulis artikel dan ente sama2 belom lama tinggal di Amrik.

  3. ^ gak paham
    ^^ teorimu kayaknya bener greis. :))

  4. (((orientalisme)))

    salam kenal om-pseudonim ali sastro. senang membaca tulisan2nya.

  5. baru dua bulan?? Khan maen, tulisan-tulisan nelangsa sebelumnya bikin saya mikir kalo mas-nya udah tahunan ga pulang-pulang, makanya segitunya soal ‘rindu ayah’ ini :))

  6. @menjadinarasi: salam kenal juga.
    .
    @tabularasa; hahaha ya emang saya ini lebay. :)) the whole blog is lebay. anak saya juga baru tigabulan yang paling kecil. emang harus tahunan ya untuk kangen? mungkin kalo anak saya udah lebih besar gak segitunya juga kali. entahlah.

  7. rasanya pingin nyicipin tinggal barang beberapa minggu di amrik sono. sekedar cari bukti bahwa hidup mereka ndak lebih pathetic seperti postingan di situs2 joke macam 9gag.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: