Buat Kamu-Kamu Yang Pengen Sukses dan Bahagia, Ini Lima Alasan Sederhana Kenapa Kalian Gak Akan Pernah Sukses dan Bahagia

October 10, 2014 at 8:10 am | Posted in gak jelas, iseng, katarsis | 2 Comments
Tags: , ,

Semua orang pengen sukses dan bahagia. Iya kan? Iya lah. Kalo sobat sekalian normal, pasti jawabannya iya. Biarpun kita tidak pernah tahu kata siapa kita harus sukses dan bahagia sebetulnya kan. Kata Pak Mario Teguh? Kata orang tua? Atau kata guru SD kita dulu? Kalian ingat mereka? Kalo guru saya namanya Pak Romli. Rese tuh orang. Ini sebetulnya insting kita aja sebagai manusia—untuk selalu pengen sukses dan bahagia—atau ini cuma harapan yang tidak masuk akal dari masyarakat yang sudah ratusan tahun ditempa budaya atau peradaban berbasis kapitalisme, di mana akumulasi kepemilikan material adalah satu-satunya bukti kesuksesan dan, kemudian, kebahagiaan? Ini jawabnya susah sobat sekalian.

hahahaha

horeeee, sukses kitaaaa!

Yang jelas, siapapun itu orang sinting yang mewajibkan kita untuk selalu sukses dan bahagia, mereka sialan. Ingat itu baik-baik. Karena sukses dan bahagia dalam satu paket itu sungguhan hanya terjadi pada segelintir orang saja. Mayoritas orang di dunia itu stres. Tidak sukses, dan tidak bahagia. Ya, gak apa-apa juga sih. Kalian tidak sendirian! Yuk, kita simak!

1). Sukses Itu Apa? Gak Jelas Ukurannya Tau!

roy

ini orang sukses, betul tidak?

Boong deng. Ukurannya jelas: terkenal dan punya duit banyak. Kalo terkenal doang, kagak punya duit, ya gak sukses. Kalo punya duit doang, tapi gak terkenal, kagak afdol lah. Aburizal Bakrie aja terkenal. Kalian punya duit banyak gak? Terkenal gak? Kemungkinan besar enggak (No, no. Punya follower berapa lusin di Twitter itu bukan bukti kalian itu tenar). Kalopun kalian terkenal, kalian terkenalnya karena apa dulu. Syahrini terkenal, tapi apa dia sukses menurut ente? Belum tentu, kan? Nah, tuh, ukuran sukses emang beda-beda. Ukurannya gak sama setiap orang. Sukses itu, buat sebagian orang, adalah terkenal karena dapet Nobel Fisika. Buat sebagian lain, sukses itu bisa ngawinin anak Pak Haji. Buat sebagian kalian, sukses itu bisa kuliah di UGM dan ITB, buat yang lain bisa lulus UN aja udah tumpengan. Jadi, sebetulnya ada paradoks. Di satu sisi kita mau sukses itu bersifat sosial, diakuin banyak orang. Di sisi lain, kita juga pikir sukses itu subyektif. Suksesnya kalian belum tentu sama dengan suksesnya saingan kalian. Nah, kan susah. Ini sukses ukurannya apa? Oke, oke. Katakanlah kalian sukses bisa kuliah di UGM, karena banyak orang pikir UGM itu universitas orang pinter. Tapi, apa kalian tahu bahwa ranking UGM di dunia sama sekali tidak membanggakan? UI juga. ITB juga. Kalo kalian pikir sukses itu bisa diukur secara obyektif, ketahuilah buat anak orang kaya dan pinter yang bisa kuliah di NTU, kalian yang kuliah di ITB dan UGM adalah anak-anak yang malang.

2). Bahagia Tidak Pernah Berarti Selalu Bahagia.

img_MIKU_usBahagia ini juga gak jelas definisinya ini. Karena cerita dongeng dan telenovela dan semua sinetron yang pernah ada, bahagia itu kesannya konstan. Seolah, kalo udah bahagia, kita akan bahagia selamanya. Padahal, enggak. Dalam sehari pasti ada aja yang bikin gondok. Orang pacaran bisa putus. Kalo pun enggak putus, masih bisa berantem. Berantem sama pacar mana enak. Gak bisa pukul-pululan, tapi gondok setengah mati. Oh, kalian bilang kalian gak pernah berantem? Kemungkinan besar kalian sebentar lagi putus itu. Hidup gak bisa selamanya datar. Pasti ada aja yang bikin sedih dan marah dan depresi. Kayak pacaran aja. Oh, kalian gak punya pacar? Yah, pasti hidup kalian sengsara kalo begitu. Terus, kalian mau punya pacar? Baca lagi bagian ini dari awal.

3). Well, Face It, Kalian Semua Medioker

Yaaaaa…mau gimana lagi? Ananda Sukarlan cuma satu di Indonesia. Ahmad Dhani juga cuma satu. Itu pun masih dihujat sana-sini. Plagiat lah. Sinting lah.Terus kalian ini mau ngebanggain suskes sebagai apa? Sebagai alumni ITB? Kalo berakhir jadi kacung perusahaan minyak yang suka mencuri kekayaan alam bangsa ya jangan bangga. Ya, ya, semua orang spesial. Semua orang bisa berkarya. Dan karya orang harus dihargai. Ini sama sekali bukan ajakan untuk meremehkan karya orang lain. Tapi, tapi sebagian besar kita ini kan bukan BJ Habibie. Sebagian besar kita ini bukan anak jenius yang lulus SMA umur 14 tahun dan dapet gelar doktor pada usia 18 tahun. Kita ini sebagian besar medioker. Kalo mau membayangkan kesuksesan, bayangkan Steve Jobs dan Bill Gates. Atau Mark Zuzkenberg. Atau Stephen Hawking. Terus kalian ukur pake benang kalian sejauh mana posisinya dari mereka.

4). Just Because Kalian Bersyukur Bukan Berarti Kalian Sukses, Loh!

130311b.complacent

Baiklah. Yang penting kita bersyukur dengan apa yang kita capai. Gak usah ngoyo. Kalo sudah jadi manajer ya bagus. Kalo bisa lulus UN ya bagus. Kalo bisa masuk jurusan yang passing grade-nya paling rendah di ITB atau UGM, ya bagus. Ini namanya komplasensi. Dan ini sama sekali bukan ukuran kesuksesan. Sukses secara subyektif mungkin iya. Dan sekalipun ini benar, dalam hati kecil kalian, kalian pasti merasa gagal. Ya, kan? Mengaku sajalah.

5). Even if Kalian Sukses, Akan Selalu Ada Yang Lebih Sukses!

Oke, sekalipun, katakanlah, andaikan saja, kebetulan saja, misalnya, kalian sukses. Juara umum di SMA kalian. Jadi murid teladan juga kampus kalian. Dan diterima kerja di perusahaan bonafit. Lalu punya gaji besar. Percayalah, akan selalu ada yang lebih sukses dari kalian. Dan itu menyebalkan! Dan ini pun pengandaian saja bukan. Pada kenyataannya, kalo kalian masih membaca postingan ini, kalian mungkin cuma pekerja kantoran yang suka prokrastinasi dan magabut menjelang jam pulang. Kalo kalian dalam posisi itu, terlalu besar potensi kalian untuk iri hati, karena orang yang dijadikan obyek irihati kalian banyak, dan jarak antara kenyataan dan harapan pastilah jauh lebih lebar. Jadilah kalian semua, pekerja kantoran atau anak sekolahan yang tidak sukses dan juga tidak bahagia.

20140115_232024_ribuan-motor-bikin-macet-jakarta

itu kalian semua, naik motor kreditan

Dan ini ya, sekali lagi saya bilang, gapapa juga. Gak usah sedih, atau sewot. Ya emang hidup kayak gitu. Dalam sejarah, cuma segelintir yang diingat dan diagungkan. Dan mereka yang selalu sumringah sebetulnya cuma ada di iklan televisi. Atau ibu-ibu di kota Yogya yang pandangan hidupnya sama sekali lain dari kalian. Kalian itu banyak maunya. Sebagian besar orang di dunia itu harus bergelut dengan kenyataan hidup yang mengecewakan, berpikir suatu hari mereka akan sukses dan bahagia. Padahal enggak. Seperti kitalah. Ya, udahlah. Jangan patah semangat! Haha. Boong deng. Mari kita bermalas-malasan saja.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Bersyukur itu wajib, mo suxes atau sux. Begitulah kata kitab suci.

  2. postingannya bikin semangat!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: