Menggugat Fiksimini

October 8, 2014 at 4:06 am | Posted in iseng, katarsis, kebudayaan | 7 Comments
Tags: , ,

KETERLALUAN MEMANG SAYA INI: di kala orang panik karena politik, saya malah misuh-misuh soal fiksimini. Duh, fiksimini. Seolah, tidak cukup saya bergunjing soal Twitter setiap pekan, dan seolah tidak ada yang lebih berguna dari menyoal sesuatu yang sebetulnya tidak ada, fiksi, yang bersifat mini, kecil dan sungguh remeh. Apa boleh buat.

unnamed

Baiklah, seperti biasa, disklemer dulu. Saya bukan kritikus sastra yang layak diseriusi, saya bukan sastrawan kampus yang bisa cas cis cus soal semiotika budaya kiwari (hohoho!), yang suka begadang, merokok dan berguyon pintar tentang Ayu Utami dan Sitok Srengenge (bagaimana caranya berguyon tentang Sitok sambil mengutip Holderlin?). Di kampus, saya hanyalah satu dari ribuan bukan siapa-siapa yang biasa kalian lihat di tengah keramaian, kadang saya jalan di trotoar, dengan pakaian yang tidak bisa disebut norak tapi juga tidak bisa disebut modis, kadang saya duduk sendiri di bawah halte bus, kadang saya beli bakwan dua di kantin, atau makan pake sayur toge dan tahu goreng bersama satu dua teman, yang juga bukan siapa-siapa. Tidak ada dari mereka yang jadi kurator Salihara atau kontributor Indoprogress. Iya, saya bloger. Seorang logofiliak, mungkin. Dan pada suatu hari yang sama sekali tidak istimewa, saya merasa sangat ingin menghujat fiksimini.

Internet, Senjakala Sastra dan Anak Haram Twitter

Bisa dibilang, ini benci at first sight. Saya sudah risih oleh namanya pun. Kali pertama saya dengar dulu, saya langsung nyinyir: fiksimini, gurauan Internet apalagi ini, genit sekali, sok urban, sok kota! Dan betapa masygulnya saya, bahwa pada 2014 fiksimini is still a thing. True story. Wtf. Saya kira hidupnya cuma setahun aja, setelah itu habis ditelan hasrat manusia konsumeristik yang selalu haus kebaruan, menjadi satu dari sekian banyak tren yang turun derajatnya menjadi ketinggalan zaman. Awalnya awak agak bimbang, ini apa artinya fiksimini akan bersama kita untuk waktu yang sangat lama dan karenanya layak disebut gaya baru sastra, masa depan sastra? Atau ini sebuah penanda, bahwasanya pada saat ini terjadi involusi budaya di Twitter, dan sialnya yang bertahan adalah fiksimini?

20131216_Fiksimini_4

ada komunitasnya

Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya pada pegiat fiksimini, saya harus katakan ini: fiksimini itu racun bagi kesusastraan. Sebagai anak kandung Twitter, fiksimini adalah virus yang merusak sastra dari dalam, adalah sebuah cara pandang yang menjatuhkan nilai sastra ke dalam jurang kehancuran, adalah sebuah pengkhianatan atas sifat dasar dan tujuan sastra itu sendiri, yakni upaya manusia untuk menyingkap tirai kesadaran yang mengantarkannya pada sebuah dunia baru, dunia fiksi yang bukan untuk main-main, dunia fiksi yang dengannya kehidupan manusia bisa diperkaya, bisa menjadi lebih agung dan berarti. Sastra semestinya lebih dari sekedar permainan kata-kata, apalagi sebuah perlombaan siapa yang paling lucu, horor dan ganjil dalam 140 aksara. Dosa fiksimini adalah juga alasan utama kenapa ia dilahirkan; yakni membawa sastra ke ranah Twitter dan kemudian menundukkan dirinya pada hukum jejaring sosial tersebut: segalanya harus pendek, cepat, riuh!

Karena tiga sifat dasar Twitter itu; fiksimini hanya bisa dianggap berhasil secara estetis bila ia ganjil, atau punya efek kejut yang kuat. Kalo tidak, ya kering. Dus, bentuknya menjadi terlalu formulaik. Ironis, tentu saja, karena efek kejut yang menjadi rumusannya menjadi tak lagi mengejutkan. Kenapa? Karena plot twist tidak dibuat dalam 140 aksara! Ada alasan kenapa Roald Dahl menulis Tales of the Unexpected dalam bentuk kumpulan cerpen, bukan fiksimini. Contoh di bawah ini tipikal sekali. Ooooh, ternyata sudah mati.

Dengarkan McLuhan: Twiter Adalah Medium dan Pesan Sekaligus!

Sudah banyak orang yang merasa budaya instan Internet dan mental kawanan para penggunanya adalah penanda senjakala kebudayaan, ketika orang tak lagi menghargai renung dalam kesendirian, ketika kebijaksanaan direduksi menjadi penggalan-penggalan kalimat dari para filsuf yang sudah tak jelas lagi siapa bilang apa ke siapa dan untuk apa. Kalo orang merasa Twitter adalah biang kebanalan dan kedangkalan pikiran, maka kita harus bertanya: apa sebetulnya yang dipikirkan para pegiat fiksimini ketika mereka memutuskan untuk membawa semangat sajak ke dalam sebuah dunia baru yang secara inheren sebetulnya menolak mentah-mentah segala prakondisi dan tujuan yang menjadi alasan kenapa manusia dari penyair paling purba sampai Afrizal Malna menulis sajak? Saya pikir, sajak itu lebih agung dari filsafat. Kalo filsafat saja kehilangan wibawanya di lautan kicau Twitter, apalagi puisi, apalagi sajak? Baiklah. Fiksimini itu tidak melulu sajak, tapi sebuah fiksi yang mini. Jadi, bisa prosa, bisa puisi. Tapi bohong kalo pegiat fiksimini tidak berpikir bahwa mereka tak sedang menulis sajak. Saya belum baca sejarahnya, tapi fiksimini mengingatkan saya pada sajak-sajaknya Pak Sapardi, bagaimana ia bercerita tentang pisau, teko dan belimbing wuluh. Kalo diagak-agak, pengaruh Sapardi sangat kuat pada penyair karbitan Twitter. Masalahnya, mereka bukan Sapardi. Kalo Sapardi adalah biola stradivarius yang merdu karena usia, mereka adalah MP3 player buatan Cina yang baru dipake sepekan rusak.

Kehadiran jagad maya memang tidak bisa dihindari. Kita semua kini berada di sini. Dan fiksimini adalah jawaban bagi mereka yang kepengin nyastra di Twitter. Dan lagian, untuk apa juga mempertahankan sastra model lama yang kian lama kian tidak relevan dan karena itu tidak laku? Well, memang, kita mau apalagi? Dunia tak lagi sama. Dan mungkin memang tidak akan pernah ada lagi penyair sekaliber Charil Anwar, tidak akan ada lagi novelis seperti Pramoedya Ananta Toer. Di Barat juga sama, sepengetahuan saya yang jelas tidak seberapa ini, rasanya tidak ada lagi pujangga-pujangga raksasa yang tidak hanya mendefinisikan sebuah jiwa zaman, tapi juga mendefinisikan kemanusiaan itu sendiri, definisi yang saya pikir masih layak untuk kita pertahankan. Oleh sebab itu, saya pikir masih ada alasan untuk tidak begitu saja menyerah pada determinisme tekno-kapitalisme. Karena saya beranggapan kemanusiaan yang dihidupkan dalam perangkap kapitalisme dan mesin-mesin elektronik jagad maya adalah kemanusiaan artifisial yang tidak akan membawa kita kemana-kemana kecuali pada bendaisasi kesadaran, pada sebuah jalan buntu peradaban, di mana nilai-nilai yang membantu kita untuk membedakan mana yang indah, mana yang baik, mana yang bijak, kehilangan legitimasinya, segalanya sama di mata keramaian yang sudah melihat terlalu banyak, yang kian tidak perduli, kecuali pada kebaruan teknologi yang menciptakan realitas palsu mereka. Lupakan Huxley dan Orwell, kita semua kini tinggal di dunianya McLuhan, di mana makna tak lagi menjadi soal, ketika medium adalah pesan itu sendiri, ketika Twitter mengambil alih posisi makna, dan menjadi makna itu sendiri, ketika semua fiksimini yang kita anggap sebagai sastra Twitter itu pelan-pelan menggerogoti kepekaan kita pada yang puitis dan estetis, pada yang layak disebut sastra dan indah. Bukan begitu?

7 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Kira-kira apa yang ada di benak Hemingway ketika menulis,

    ‘For sale: baby shoes, never worn.’ jauh sebelum ada Twitter?

  2. Apa yang ada di benak Sitor Situmorang ketika menulis sajaknya yang berjudul “Malam Lebaran”? Puisi, bukan fiksimini.
    .
    Bulan
    di atas kuburan.
    .
    Jauh sebelum ada Twitter cerita yang singkat dan sajak yang sangat singkat memang sudah ada. Tapi bentuknya sangat lain, IMO. Satu hal, apa yang ditulis Hemingway dan Sitor itu realis. Imagery yang diciptakan sangat berbeda. Ini bukan seorang jurnalis yang membaca obituarinya sendiri di koran tempat dia bekerja. Seperti saya duga, fiksimini ini akarnya Pak Sapardi. CMIIW.
    .
    Saya pun sudah menduga mbak pasti tidak setuju. :))

  3. Wow, ulasannya lugas. tapi kalau boleh jujur saya memang menyukai fiksimini di twitter. Setidaknya isinya memainkan logika berfikir.
    Untuk bicara sastra, saya tak banyak tahu. Saya hanya penikmat, menikmati walaupun itu hanya fastfood yg tak sehat

  4. Saya sudah sejak 2010 atau lebih awal dari itu mungkin kenal fiksimini. Masih belum bisa menikmati. Hahaha. Ya ini hanya pendapat saja. Tak usah diseriusi.πŸ˜›

  5. kamu selalu menyenangkan bila sedang kesal gen..πŸ˜€

  6. Cara saya menilai Fiksimini itu ibarat memakai tiga cara pandang Darwis Triadi dalam melihat foto-foto editan standar di smartphone saat ini; pertama melihat keren, pandangan kedua kok aneh, pandangan ketiga eneg. hehe

  7. @ken: eh muncul lagi dikau.
    @mizah: nah, iya itu. perumpamaan yang bagus.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: