grafomania, logorea, logofiliak?

September 27, 2014 at 8:15 pm | Posted in gak jelas, katarsis, prosa | Leave a comment
Tags: , , ,

logorrhea300x124_50kita akan mengatakan hal yang sama dengan cara yang sama berkali-kali dalam suatu periode waktu yang tidak begitu panjang—di akun-akun media sosial kita yang semakin banyak itu, yang kini mungkin sudah jadi jamban, kuil kecil bagi kesunyian kita. kita tidak akan pernah bisa mengatakan sesuatu secara koheren, karena sudah begitu banyak yang dikatakan, sudah begitu banyak yang dijelaskan, sehingga yang tersisa hanya rapalan-rapalan inkoheren tentang suatu hal, tentang politik, budaya dan agama. kita sebagai peradaban, sebagai satuan budaya dalam suatu masa, sudah terjangkit logorea masal. bayangkan logorea seperti diare, hanya saja bukan feses berceceran di dalam celana kita, tetapi kata-kata yang kualitasnya kurang lebih sama dengan apa yang kita buang ke lubang jamban. di mana letaknya kewarasan? kalo hanya bahasa yang kita punya—dan kini bahasa tidak lagi setia pada tugasnya yang paling sederhana: menyederhanakan persoalan, meratahi kenyataan. terlalu banyak kata-kata, terlalu banyak penjelasan, terlalu banyak kleim akan kebenaran faktual—mana fiksi mana fakta tak lagi sungguh jadi soal. orang bisa berkali-kali bilang jokowi komunis, orang bisa berkali-kali ngomong ahok anti-islam, orang bisa berkali-kali bilang demokrasi telah mati, bahwa prabowo adalah sang juru selamat.

grafomania, logoroea, logofiliak—kita tidak bisa tidak menahan diri untuk tidak berkomentar di internet; kita tidak bisa tidak menulis status fesbuk, tidak bisa tidak ngetwit berkali-kali. kita tidak lagi bisa menahan diri untuk tidak segera berlari ke toilet dan kemudian melepaskan semua hasrat menulis kita tanpa ada suatu halangan apapun: seperti orang kena diare, kita lepaskan semuanya di jamban elektronik yang super keren dan canggih ini: yogya miskin, prabowo iblis, jokowi presiden boneka, sitok srengenge pemerkosa, FPI bangsat, tempo liberal antek asing, tifatul goblok, SBY memalukan, ridwan kamil walikota paling hebat sepanjang masa, kevin julio ganteng, woody allen hebat, thom yorke adalah bononya hipster. semua kita mengidap grafomania, atau scribomania, hasrat yang tidak bisa dikendalikan untuk menulis. kita adalah logofiliak, kita tergila-gila pada kata, kita gagahi kata-kata, kita perkosa kata-kata, setiap hari, setiap menit, setiap saat. di mana letaknya kewarasan? ketika kejelasan, koherensi, kebenaran—adalah nyanyian akapela yang mencoba untuk terdengar merdu di tengah ribuan, jutaan toa tukang obat yang dengan bodohnya berpikir bahwa mereka lagi jualan obat betulan. bising. gakjelas. inkoheren.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: