#fragmen

August 30, 2014 at 1:03 pm | Posted in katarsis | 2 Comments

yang dulu tidak berarti; sebuah potret

jam tujuh malam di depan rumah; duduk di lantai, di ubin, di atas sandal. saya lagi makan bakso, baksonya si bek. pedas, pedas sekali. saya masih ingat betul togenya yang segar, juga baksonya yang lezat; semuanya bersatu padu: pedas kuah baso, baso, toge, malam, akhir pekan, berada di rumah, kerabat dan kawan-kawan. besok minggu, sekolah libur.

jam dua siang di kamar depan. kipas angin sudah yang paling kencang. saya duduk di lantai. di depan saya ada radio, ampli, dan kabel-kabel yang belibetan. biasanya saya setel lagu dewa, dan saya akan berpura-pura jadi andra; berkali-kali memutar lagu cukup siti nurbaya, pada bagian melodinya. di kamar panas banget, dengan kipas sekalipun.

tempe orek; tempe orek yang lembek. warnanya coklat muda. manis dan gurih. saya baru pulang sekolah, sekitar jam satu atau setengah dua siang. entah di mana saya dengar latar lagu always-nya bon jovi. dan ibu saya lagi nonton telenovela. kalo gak salah judulnya wild rose. saya ingat saya ikut nonton, sambil makan orek yang enak banget.

habis solat subuh bulan puasa. masih pake sarung. di samping masjid. ngobrol sambil liat langit, sambil merasakan angin. saya tidak ingat saya ngobrol apa waktu itu. apa yang diobrolkan orang yang belum pernah membaca buku filsafat atau koran? paling mungkin masa kecil atau cerita seram kata orang. entah, saya rindu sekali momen itu.

di dalam angkot. saya tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya di dalam angkot yang sedang melaju. duduk di pojok belakang. bersama orang-orang asing, salah satu dari mereka duduk dekat sekali, bahkan bersentuhan denganmu. suatu kali perempuan cantik yang berada di sana. kamu salah tingkah, hanya bisa melihat jalan di kejauhan.

makan hokben! di plaza semanggi. makan sendirian, sebelum jalan kerja. hidup sebagai bujang tak jelas, tapi sudah punya uang buat makan. saya ingat tempat duduknya, juga mejanya, juga mas-masnya, juga mereka yang makan di meja lain. saya ingat teriyakinya. es carang burungnya. dan ekadonya. saya tidak berpuasa waktu itu.

palang yang menghalangi jalan saya ke kosan. waktu itu sudah lewat jam 12 malam. dan palangnya ditutup. saya harus turun dari motor dan mencari petugas ronda. kami tidak biasa bercakap-cakap. saya tidak bisa basa-basi. dan warga lokal sudah biasa tidak menganggap penghuni kosan sebagai warga. saya letih pun, ingin segara rebahan.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. #pecaktempe buatan ibu tiap pagi, ambil langsung dari cobeknya, pedas, terasi, nasi putih hangat ngepul. Sesudahnya pasti sakit perut karna kepedasan. Tapi besoknya minta dibikinin lagi.

    #pulangkampus jalan kaki, menyusuri lorong kelas dan panasnya Malaysia. Bersimpangan dengan teman, peluh dan sedikit canda. Sampai kamar langsung rebahan.

    #salju dan tumpukannya, hari minggu antri shuttle bis kampus untuk makan sushi, sebelumnya foto-foto dengan tumpukan salju setinggi 2 meter. Dingin, seperti es serut, udahannya menempel di sepatu boots. Hawa dingin, angin dingin, semua yang serba putih dan kelabu.

  2. Itu keren banet Grace. Jadi pingin tempe dan sushinya!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: