Mereka Itu Rock Stars!

August 24, 2014 at 2:50 pm | Posted in gak jelas, katarsis, kebudayaan | 9 Comments
Tags: , ,

You can’t go anywhere without meeting clever people

Saya pikir mereka, para intelektual yang saya bayangkan culun itu, tidak akan pernah bisa menjadi seksi, jadi trendi di blogosfir. Di dalam benak, saya bisa lihat mereka, di siang hari yang paling bolong di Jakarta Raya, dari jalan sepi menuju sekolah filsafat Driyarkara, sedang khusyuk duduk di bawah pohon—ada suara angin, daun-daun yang bergemericik, dan satpam lagi main ukulele, kuncrung-kuncrung, kincring-kincring—, mereka lagi baca buku misterius berbahasa Jerman, soal apa lah entah (paling mungkin ya buku filsafat, atau paling tidak yang nyrempet filsafat lah—yang jelas bukan terjemahan bahasa Jerman dari 50 Shades of Gray). Saya yakin mereka jago menulis. Mereka itu filsuf. Intelektual. Saya hanya betulan tidak pernah menyangka mereka bisa ‘eksis’ di jagad maya, dengan segala atribut keseleban mereka yang kian hari kian kental, kian tidak bisa dipisahkan dari laman internet yang sangat intimidatif secara intelektual itu (saya tidak paham Marxisme!), yang secara mengejutkan sudah jadi barang rumah tangga warga Internet sini: Indoprogress.

kolom-logika-1300x450

dari situs indoprogress, ini bung martin sepertinya

Tentu saja saya bias. Apa yang saya bayangkan itu sama sekali tidak berdasar pada kenyataan (oh, apakah kenyataan???), dalam artian: saya sama sekali tidak kenal mereka, tidak pernah melihat mereka, tidak pernah sekalipun mencoba untuk memverifikasi segala prasangka dan praandaian yang saya simpan dalam benak tentang mereka. Saya hanya tahu mereka adalah rock stars saat ini; intelektual yang dipuja ribuan anak muda Indonesia yang pastilah pingin juga dianggap intelek di blogosfir. Dan saya merasa agak aneh; karena saya belum sempat menandaskan praduga saya yang tidak bertanggungawab itu, bahwa para cendekia kampus, para akademisi yang suka bicara politik, kebudayaan dan kesenian itu tidak akan pernah menjadi seksi. Saya pikir mereka akan berakhir menjadi penulis halaman opini langganan di harian Kompas; penulis macam Yudi Latif atau Ignaz Kleden yang sudah fasih, sudah hafidz dan kenyang makan segala asam dan garam dalam memantrakan esai-esai membosankan tentang pentingnya Pancasila dan nasionalisme, tentang pentingnya merawat nilai kebangsaan yang kian hari kian pudar—pokoknya segala hal yang kita benci dari koran Kompas, koran pastur itu! Tapi seperti saya bilang, ternyata saya salah.

Tidak sekali atau dua kali saja saya berpapasan dengan tautan-tautan Indoprogress yang sering kali dilabeli ‘cerdas’ atau ‘mantabs’, oleh kenalan saya yang tidak saya kira bakalan baca laman itu. Pilpres 2014, pertarungan Prabowo versus Jokowi, memang luar biasa. Karena sudah buat anak muda Indonesia bukan hanya melek politik, tapi juga mendadak filsuf! Kalo boleh saya jujur, bung. Saya mungkin dengki saja. Atau, kalo bung tidak keberatan saya lebih jujur lagi, saya sebetulnya sebal dengan tren ini. Saya tidak tahu persis kenapa. Boleh jadi karena saya juga besar kepala. Tidak mau ada orang lebih besar, lebih pintar dari saya. Padahal, saya setengah pintar pun tidak. Atau, mungkin, seperti yang dialami oleh Mbah Oscar Wilde, saya cuma sebal saja dengan gejala sosial ini; pada sebuah situasi ketika, ‘You can’t go anywhere without meeting clever people.‘ Ini tentu saja adalah sebuah sikap yang tidak bertanggungjawab. Saya ingin semuanya terbuka saja. Saya mungkin begitu. Tapi, setelah sekian lama saya menunda tulisan ini, saya pikir ada yang hal lain yang tidak sepenuhnya nisbi, yang bikin saya pengen nulis ini. Jadi, begini.

Indoprogress Sebagai Pusat Kebudayaan di Jagad Maya?

Saya tidak tahu. Saya merasa ada rivalitas yang tidak terkatakan antara Indoprogress dan Jakartabeat, atau Jakbeat. Sekilas saja saya merasa keduanya tidak terbuat dari ideologi yang sama, dari visi dan sikap yang sama tentang kemanusiaan dan kebudayaan. Saya sudah pernah mencela Jakbeat (secara tidak bertanggungjawab, tentunya). Dan saya sudah bisa menerima kenyataan bahwa laman berdikari yang menahbiskan dirinya sebagai ‘direktori konten alternatif’ itu adalah hal yang paling keren yang bisa anda temukan di jagad maya Indonesia. Saya tidak tahu persis apa ideologi Jakbeat: dugaan saya adalah liberalisme, atau libertarianisme—atau apapunlah itu yang memberi ruang lebih luas pada pasar bebas, dan ruang yang lebih sempit pada kontrol negara atas hak sipil, hak untuk berusaha cari uang. Singkatnya, beda lah dengan merahnya, kirinya Indoprogress yang seksi itu.

_MG_4334

Sampul buku ini terlalu norak dan menstrim untuk Jakbeat. Tapi ini menunjukkan bahwa tidak seperti Indoprogress, mereka terbuka pada simbol kapitalisme dan tak punya fetish pada estetika kiri.

Masalahnya adalah, apakah perasaan saya itu punya dasar yang kuat? Apakah betul, Jakbeat dan Indoprogress adalah dua aliran kebudayaan yang berbeda di jagad maya kita? Tidak mudah menjawab ini. Indoprogress bukan kolom budaya di harian Bintang Timoer dan Jakbeat pun tidak bisa disebut sebagai pewaris Manikebu. Akan tetapi, satu hal ini jelas, saya kira keduanya berada di kubu yang sama bila menyangkut Goenawan Mohamad—mereka sama-sama ingin menghancurkan berhala yang adalah GM, beserta para muridnya yang kini bertawaf di sekitaran Salihara dan Utan Kayu. GM adalah tembok besar yang dianggap mengkerdilkan gerakan-gerakan kebudayaan baru yang (setidaknya merasa) berada di luar pengaruhnya, di luar kharismanya. Jakbeat dan Indoprogress, seperti Bashar Assad dan ISIS dalam perlawanan mereka terhadap para pemberontak moderat Suriah, punya musuh yang sama dan hanya menunggu waktu saja untuk berduel. Ini, sekali lagi saya tegaskan, hanya bayangan saya saja. Saya tidak tahu persis apakah kontributor Indoprogress dan Jakbeat adalah sebetulnya orang-orang yang sama. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Yang jelas, di permukaan, keduanya punya nuansa yang berbeda. Jakbeat lebih mewakili budaya indie Jakarta dan Bandung yang lebih affluent, sementara Indoprogress lebih mewakili budaya kiri Jakarta dan Yogyakarta yang lebih dekil; mereka jelas bukan alumni ITB/ITS yang menghasilkan milyaran per tahun, hidup kaya raya sebagai antek-antek Chevron atau Exxon. Ini, tentu, hanya stereotip. Kedua laman itu sama-sama menjunjung pemikiran kritis dan keterbukaan. Kontributor mereka pastinya berasal dari ragam ideologi yang berbeda. Ada yang kuliah di sini dan ada yang kuliah di luar negeri—kelas menengah ngehe dan intelektual sawah bercampur-baur atas nama progresifisme dan kontrarianisme. Generalisasi pastilah reduktif. Tapi saya kira terlalu naif, lugu kalo kita berpikir keduanya tidak memiliki kebijakan editorial, kalo keduanya tidak pilih kasih dalam menerbitkan tulisan kontributor mereka. Keduanya adalah gembala-gembala yang menggiring wacana pemikiran di jagad maya kita. Ini bukan hal yang buruk. Boleh jadi memang inni tujuan dasar kedua laman itu dibentuk. Tetapi di jagad maya apa perlu?

Berhala-berhala Baru Dalam Kebudayaan Kita?

Sementara banyak orang berkeluh kesah terlalu banyak orang goblog di Internet, saya malah misuh-misuh terlalu banyak orang pinter di sini, di jagad maya kita ini. Dan saya betul-betul tulus mengatakan ini. Ini bukan semata sinisisme, bung. Saya memang betul-betul mengakui bahwa banyak sekali orang pintar di Internet saat ini; dengan bentuknya yang berlainan. Tidak semuanya akademisi. Ada aktor, komikus, esais, politikus, semuanyalah ada. Dan mereka berasal dari kelas (kelas?) dan kelompok usia yang berbeda. Kita bisa sebut intelektual Jawa yang suka bilang ‘jiancuk!’ atau intelektual Aceh yang rajin bilang ‘pukimak!’. Secara arbritrer, saya sudah melakukan taksonomi begawan internet. Saya, misalnya, suka dengan bloger-bloger cewek yang nyastra yang suka menulis tentang film dan relasinya dengan seks dan keadilan jender. Saya membayangkan mereka adalah mahasiwa atau alumni fakultas sastra Inggris UI atau Unpad. Mereka adalah spesies intelektual sendiri. Mereka tentu saja tidak sama dengan anak-anak muda ITB (di bawah 27) yang lebih idealis (biasanya dari FSRD, meski tak harus dari sana) yang lebih familiar dengan filsafat dan bahasa Inggrisnya sangat bagus, yang lebih terekspos dengan budaya Jepang. Mereka adalah kelas terdidik. Dan saya merasa ketersebaran dan anonimitas mereka adalah satu hal yang membuat mereka bearable, dalam artian saya tidak merasa risih dengan kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih pintar dari saya dalam banyak hal.

Ini aneh, saya tahu. Tapi ini yang membedakan begawan Internet yang tersebar di jagad maya dengan mereka yang menulis di Jakbeat atau Indoprogress. Saya tidak bisa melepaskan praduga saya bahwa keduanya sebagai self-proclaimed kurator dari pemikiran kritis di Internet adalah tiran baru yang menentukan siapa yang paling pintar di Internet, siapa yang tulisannya dan pemikirannya lebih layak dibaca di jagad maya Indonesia. Ini kritik usang media massa, memang—mereka yang punya kendali atas media, termasuk Jakbeat dan Indoprogress, akan selalu merasa sedang melakukan emansipasi pemikiran khalayak, melakukan pencerahan, meski di sudut yang lain, yang saya lihat hanyalah penjajahan pemikiran, lahirnya sebuah hegemon. Ini mungkin terlalu berlebihan. Jakbeat mungkin hanya ingin bersenang-senang mengembangkan budaya hipster di Indonesia, dan Indoprogress mungkin hanya sekumpulan akademisi yang ingin melepaskan hasrat menulis mereka (toh, sudah banyak buku mereka baca) atau punya fetish yang sudah masuk level obsesif pada segala hal yang berbau Marxist dan anti-kemapanan. Oke, kita anggap saja saya salah. Mereka memang punya tujuan mulia: memajukan pemikiran dan kebudayaan Indonesia di blogosfir. Dan mereka punya komitmen yang tidak boleh diragukan untuk mencapai tujuan itu. Tapi, seriously, apakah kalian tidak merasa janggal dengan efek rokstarisasi mereka yang menjadi penulis regular di kedua laman itu, terutama Indoprogress kini. Misalnya Bung Martin Suryajaya. Bacaan saya memang tidak ada sekelingkingnya dia, dan saya mengakui ini dengan penuh keikhlasan, tapi saya merasa sangat aneh dengan esai beliau yang berjudul ‘Empat Pertanyaan Bagi Sastra‘, di mana dia mencoba untuk menerjemahkan sajak GM dalam bahasa matematika yang betul-betul tidak bisa saya pahami dan menurut saya hampir-hampir pointless. Njlimet parah. I felt violated. Saya masih salut dengan banyak tulisan politik Bung Martin lainnya yang menurut saya sangat jelas—bahkan hampir-hampir tautologis, redundan, no-brainer. Tapi saya masih risih dengan pretensinya sebagai aktifis Kiri yang menulis dengan bahasa yang terlalu njlimet dan elusif untuk bisa mengemansipasikan kelompok buruh yang lebih butuh kegambalangan, atau politisi kelas teri yang harus jual tanah untuk sampai ke Senayan. Oke, baiklah, ini memang bukan kritik yang terdidik atas Indoprogress atau Bung Martin. Sudah panjang lebar saya ngomong ngalor-ngidul yang tersisa dari apa yang ingin saya katakan adalah: saya merasa tidak nyaman dengan rockstarisasi pemikir Internet Indonesia melalui laman-laman yang menjadi Mekah baru diskusi kebudayan di Indonesia. Saya merasa ini adalah bentuk lain dari hegemoni kebudayaan yang pernah dipraktikkan oleh GM dan Utan Kayu sebelum ada Internet. Dan, saya harus bilang, efeknya atas ego saya sebagai khalayak tanpa nama itu lebih menyebalkan, terutama bila saya buka semua linimasa saya. Karena saya berpendapat bahwa semestinya kebudayaan di jagad maya itu disemai oleh orang banyak, tanpa kurasi, tanpa berhala-berhala baru sepeninggal GM.

Sekian.
PS: Sori kalo muter-muter. Maklum, SOC.

9 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Teman saya ada pengurus jakartabeat tapi juga rajin datang di acaranya launching-launchingnya indoprogress. Jadi kalau rivalitas sepertinya enggak ada deh. Ya…mungkin memang sudah watak manusia untuk membutuhkan sesuatu buat diberhalakan yah…

  2. baca perdebatan tertulis antara martin suryajaya vs GM di jurnal indoprogress serasa multiple orgasm. patah deh anggapan orang kalo martin cuma anak kemarin sore, atau serasa nonton david vs goliath. yang alternatif2 pancen makin punya taji.

  3. @himerinsama: yah gak seru dong! hahahaha. ya saya juga pikir mungkin tidak ada. namanya pandangan sekilas saja. dan saya juga pikir kalopun ada mungkin tidak akan diumbar-umbar.
    .
    awal: ya Bung Martin ini memang filsuf Driyarkara paling artikulatif di internet. yang lain seperti masih hidup dalam bayang-bayang F. Budi Hardiman, rock star waktu zaman saya kuliah S1 dulu.

  4. tapi saya merasa sangat aneh dengan esai beliau yang berjudul ‘Empat Pertanyaan Bagi Sastra‘, di mana dia mencoba untuk menerjemahkan sajak GM dalam bahasa matematika yang betul-betul tidak bisa saya pahami dan menurut saya hampir-hampir pointless. Njlimet parah. I felt violated.

    Yeah, that was brutal. 😆
     
    Saya agak terbelah sih membacanya. Di satu sisi, senang juga ada orang humaniora (wabil khusus berbahasa Indonesia) yang pakai bahasa formal seperti itu. Akan tetapi di sisi lain…
     
    …saya gak yakin banyak segmen pembacanya (orang Indonesia) yang ngerti… ^^;;;

     
     
    BTW, omongan tentang ‘berhala GM’ ini kan sudah pernah dibicarakan? Seingat saya 3-4 tahun lalu. ❓

  5. ^ wah ada Sora! iya itu memang susah banget. waktu belajar GRE kemarin saya gak nyentuh kalklulus sama sekali. hahaha. ini memang pokok tulisannya sudah lama. yang baru kan cuma gejala indoprogressnya saja. btw, sebetulnya ada dua tulisan terkait ini. yang satu lagi itu tipe-tipe intelektual/begawan/pemikir di internet. saya gak tahu bisa nulisnya apa enggak. jadi saya delegasikan ke Kopral Geddoe, pengelola Banalitas.org.

  6. Siap, (akan) laksanakan (kapan-kapan)!

  7. ^ Ayolah. Tulislah.

  8. Setelah saya nulis ini komen, saya sadar saya salah kamar. Blog ini pernyataan personal, kan? Mohon maaf jika saya ikut komedi putar komentar yg berkepanjangan dan gak begitu penting layaknya butiran gula di tepian donat.

    Begini,

    Saya pikir internet bukan cuma disesaki Indoprogress atau Jakbeat. Toh Jakbeat pun udah ga sekencang dulu (2012 awal) ketika era-era P. Vermonte masih rajin nulis, Taufiq, Idhar, atau Ucok, yg justru ngundang bejubel komen di web, hingga perlu gontok-gontokan artikel sampai mesti “didamaikan” di darat (isu punk aceh itu). dan malah miskin “share” ke liningaso (twitter dsb). Setahu saya sih spt itu. Mengapa ia jadi tren? Karna orang-orang yg nanggap mereka serius.

    Sedangkan Indoprogress, dgn tampilan web yg lebih “muda” (karna yg jaga gawang web IP adalah orang yg sama dgn “kiper” jakbeat), ga se-ortodoks situs-situs kiri ngasal pun, trafiknya ga mungkin sebegitu beringas kalo mereka betul-betul nanggap segala isu yg sliweran itu dgn ketat dan taatnya marxisme dlm paham mereka. Mereka ga nanggap serius. Mereka hanya bermain-main. Mungkin yg digarap secara serius oleh martin ya cuma bukunya: asal-usul kekayaan; masa depan marxisme; materialisme dialektis; juga diktat kuliahnya.

    Juga spektakel model kita yg nanggap mereka “serius”.

    Serius betul buat membikin tren, hegemon, aliran, rivalitas bla-bla. Efeknya bocah-bocah mengelu-elukan martin dan “produk” budaya yg diulas Jakbeat sbg mesiah, sbg rokstar. Bung mungkin korban yg kesekian dgn akumulasi kekecewaan yg kesebelas-kian. Wajar, bagi akun atawa spektakel yg nangkring di lingkar budaya dgn varian kelas (ya kebanyakan mahasiswa, yg masih dikirimi uang bulanan sama emaknya), yg dibahas ya itu-itu saja, Jakbet lagi jakbeat lagi. IP lagi IP lagi. Tapi keresahan bung tampaknya bertolak dari sesuatu yg kurang tepat. Semua simulakra ini, seolah-olah sesuatu yg mesti dikeluh-resahkan dgn tepat betul buat sekedar menyadari bahwa di luar simulator itu ada hidup –ah, percuma.

    Tanpa perlu mempersetankan IP maupun Jakbeat lebih jauh, banyak laman-laman lain yg duhai lebih bagus juga demi marmot lebih jelek dari mereka. Dan sbg spektakel yg baik, yg cuma berkomunikasi via imej yg, duh gusti, semenjana ini, kiranya bung agaknya perlu melihat lebih dalam dari sekedar misuh-misuh gegara imej.

    Don’t take it seriously, but take it seriously.

    Sekyan n trimakasii.

  9. Hahaha. Ya saya sadar lah bung. Tulisan ini memang tidak dimaksudkan sebagai kritik kebudayaan atau apa. Satu dari sekian sampah di Internet saja. Kalo ada yang baca ya gapapa. Ga ada yang baca juga gapapa. Saya sebetulnya kenal salah satu pengelola Jakbeat. Tapi tulisan ini memang murni katarsis dan memang ditulis dari perspektif penonton, bagian dari khalayak, dan sama sekali tidak tertarik untuk mengulas lebih dalam siapa dan kenapa ada IP dan JB. Banal memang. Tapi itulah internet. Dan soal misuh-misuh soal imej. Kebetulan saya hanya bisa menulis kalo lagi pengen misuh-misuh. Sering kali soal imej. Bawaan orok.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: