Buat Kala dan Sekar

July 16, 2014 at 2:58 am | Posted in berbagi, katarsis | 6 Comments
Tags:

Anak-anakku,

Mereka selalu berkata, bersikap seolah ayah baru saja ketiban musibah, seolah ayah, untuk kedua kalinya, kalah dalam undian kehidupan dan lagi-lagi harus puas dengan hadiah hiburan alakadarnya. Hanya karena ayah bilang kalian anak perempuan. Hanya karena kalian bukan anak laki-laki.

Ayah juga tidak habis pikir. Mereka salah tentu saja, nak. Kalo ayah jadi mereka, ayah pasti bilang: ‘Wah, selamat!!’ Karena ayah lebih tahu dari mereka, bahwa kalian adalah anak-anak yang luar biasa, bahwa kalian berdua adalah hal terbaik dalam hidup ayah. Meski ayah juga bisa paham. Sudah sekian abad lamanya manusia hidup dalam dunia yang disebut cerah, dunia yang ditopang oleh penghargaan yang tinggi pada manusia, pada akalbudinya, pada hatinuraninya—tidak perduli dia lelaki atau perempuan, tidak perduli dia kulit putih, hitam, kuning atau coklat. Tapi anggapan umum yang sudah berusia ribuan tahun itu tidak akan begitu saja musnah dilibas sejarah, nak. Mereka senantiasa abadi, sebagai sebuah relik, tersedimentasi dalam budaya kita, sejarah kita. Di sini kita berada, nak, di dunia yang tidak sepenuhnya sempurna, dunia yang masih menganggap punya anak perempuan sebagai ‘tidak beruntung’.

Kalian masih sangat kecil pada saat blogpost ini dituliskan. Kalian belum bisa membaca. Kala kamu masih belajar ngomong. Dan Sekar. Sekar kamu bahkan belum bisa menopang kepalamu sendiri. Kemarin ayah jemur kamu di depan rumah. Dan kamu betul-betul tidak berdaya ketika sinar matahari itu sekilas menyengat kedua mata mungilmu dan segera ayah tutupi wajahmu dengan topi kupluk yang dibelikan ibumu sebelum kamu lahir. Kamu lalu menggeliat. Kulitmu merah sekali seperti anak kucing yang baru lahir. Entah kapan kalian berdua bisa membaca surat ini. Ayah pun tidak tahu apakah kalian akan pernah sempat membaca blog ini. Ayah hanya bisa berdoa, agar kalian bisa tumbuh dengan sehat, seperti anak-anak dalam setiap poster anak sehat di rumah sakit anak, atau anak-anak yang jadi bintang setiap iklan susu formula di televisi (kalian anak ASI, harusnya kalian lebih sehat lagi!). Dan yang lebih penting lagi, agar kalian bisa tumbuh sebagai pribadi yang tangguh. Ayah yakin dan ayah mau kalian tumbuh besar menjadi manusia yang seutuhnya, dalam artian kalian sadar betul akan kebebasan kalian dalam berpikir dan bertindak, dan kalian punya keberanian untuk bertanggungjawab sepenuhnya atas pikiran dan tindakan kalian. Buat ayah, itu saja yang penting. Kalian tidak harus jadi juara kelas setiap tahun, kalian tidak harus lulus UN dengan nilai yang cemerlang, kalian tidak harus kuliah di UI atau ITB, kalian tidak harus bisa menari balet, atau bermain piano atau juara lomba debat bahasa Inggris. Meski ayah akan senang sekali kalo kalian mau dan bisa melakukan satu di antaranya. 🙂

Karena seperti yang ayah bilang, dunia di mana kita tinggal itu bukan dunia yang sempurna, di mana hanya ada gelak dan tawa. Ada kalanya kita harus berduka. Ada kalanya kita harus kalah. Dan mengaku kalah. Dan hal yang terpenting yang kemudian bisa kita lakukan adalah menjaga kewarasan kita dan berupaya sebaik mungkin untuk tidak larut dalam kehampaan hidup.

Ketika ayah menulis blogpost ini, anak-anak di Palestina sedang menangis ketakutan di bawah ancaman bom Israel yang mematikan. Mereka menjadi korban. Korban dari apa yang orang katakan sebagai politik. Suatu saat kalian akan mengerti apa itu politik. Kalian akan membencinya, dan kalian akan belajar untuk hidup bersamanya. Di Iraq dan Syria, anak-anak kecil juga banyak yang menjadi korban politik, kali ini dengan nuansa agama yang sangat kental. Suatu saat kalian akan mengerti apa itu agama. Kalian mungkin akan membencinya juga, dan kalian pun akan belajar untuk hidup bersamanya. Di mana-mana ada derita, Kala dan Sekar. Di mana-mana ada ketidakadilan. Ayah tidak akan membohongi kalian; dunia di mana kalian dilahirkan adalah dunia yang buruk rupa, dunia yang sama sekali tidak ideal. Kalian akan menemui mereka yang akan memandang kalian sebelah mata hanya karena kalian perempuan. Suatu saat kalian akan mengerti apa itu seksisme. Dan kalian akan sangat membencinya, dan ayah berharap kalian akan belajar untuk menghadapinya dengan berani. Kalian juga akan menghadapi situasi ketika kalian tidak diperlakukan adil karena kulit kalian tidak berwarna putih, atau karena kalian bukan orang kaya, atau karena kalian mempercayai apa yang mereka tidak ingin percayai—karena kalian tidak meyakini benar apa yang selama ini mereka yakini benar.

Ketika ayah menulis blogpost ini, seorang calon pemimpin dianggap tidak layak memimpin karena dia sudah difitnah sebagai Cina dan Kristen. Sekalipun dia benar Cina dan Kristen, kenapa itu menjadi persoalan? Dan ini adalah fitnah, bukan fakta, dan kalian tidak akan percaya berapa banyak orang yang percaya fitnah itu dan kemudian merasa resah. Oh, kalian akan dibuat bingung oleh logika berpikir mereka yang menolak perbedaan hanya karena perbedaan itu ‘meresahkan masyarakat’. Ayah tidak tahu persis apa artinya ‘meresahkan masyarakat’. Apakah masyarakat betul-betul resah? Kalau iya, alasannya apa? Dan kalau betul-betul resah, apakah itu bisa dijadikan alasan untuk merampas hak orang lain? Seorang ulama, seorang yang seumur hidupnya menimba ilmu, baru-baru ini dianggap sesat dan meresahkan masyarakat. Dan orang yang menuduhnya adalah seorang seleb twit, yang entah belajar agama di mana dan sama siapa dan bagaimana. Ayah harap ketika kalian besar nanti kalian tidak perlu bertemu dengan yang namanya seleb twit, apalagi seleb twit yang mengaku sebagai aktifis agama tertentu, aktifis yang mengaku sedang membela agamanya, aktifis yang berpikir dirinya adalah tuhan karena senang mengafirkan orang lain, merasa paling benar sendiri, paling berhak atas rahmat tuhan.

Kalian nanti akan berkenalan dengan istilah rasisme, fasisme, diskriminasi, bigotri, fundamentalisme agama, tirani mayoritas, dan lain sebagainya. Kalian akan membenci semua itu, dan ayah berharap kalian tidak mudah untuk dikalahkan, meskipun ayah tidak akan memaksa kalian untuk selalu menang. Ada kalanya mengalah dan menghindari konfrontasi adalah jalan yang terbaik. Kadang kala kita harus bisa menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak layak kita perjuangkan dengan keringat dan darah; dalam situasi apapun, kecuali sangat terpaksa, ayah ingin kalian menjauh dari kekerasan, ayah ingin kalian menjauh dari pikiran yang penuh oleh kekerasan, oleh dendam yang hanya akan menjadikan kalian sama dengan orang-orang yang kalian benci.

Tetapi ini bukan berarti kalian tidak bisa bahagia dan bergembira. Ayah harap pada saat kalian membaca postingan ini kalian sudah mengerti sebagian besar dari apa yang ayah katakan. Dan kalian sudah melewati masa-masa yang tidak terlupakan sebagai anak-anak. Ayah juga pernah mengalami masa kanak dan hingga kini ayah masih merindukan masa-masa itu. Kalian, seperti ayah, adalah anak-anak takdir; kalian dilahirkan ke bumi karena rentetan peristiwa yang tidak semuanya berada dalam kendali ayah. Dan sama sekali tidak berada dalam kendali kalian! Terus terang ayah merasa berhutang pada kalian. Kalian adalah rahmah, kalian juga amanah dari semesta. Blogpost ini adalah sebuah pengakuan, doa dan harapan buat kalian. Ayah minta maaf karena sudah ikut andil membawa kalian ke dunia yang begini rusak, tapi ayah juga berdoa dan berharap bahwa hal itu tidak menghentikan kalian untuk hidup sepenuhnya, untuk senantiasa menyukuri apa yang kalian punya, agar kalian tidak dibuat kecil hati oleh semua kenyataan hidup yang mengecewakan itu.

Ayah

Advertisements

6 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Melankolinya manis. Saya jadi berpikir apakah bapak dan ibu saya juga memikirkan ini semua ketika `membuat` saya dulu.

    Blog yang bagus ,… om?

  2. *merenung sendiri seusai membaca tulisan ini…*

  3. mudah-mudahan kehidupan adil, saling menghamburkan kasih sayang, & memenuhi harapan kemanusiaan suatu saat berlaku di atas khdpn mas gantole & keluarga aminn.. tulisan mas diatas betul2 harapan yg mulia *saya agak terhenyuh Hehe. salam kenal yah mas

  4. @hanya lewat: proses membuatnya mungkin tidak semelankoli ini.
    @amed: ya begitulah amed.
    @ole7: amin, mas atau mbak 🙂

  5. Adem baca ini mas. Keingetan lagu Humania judulnya Menari, Berlari, Jatuh. Cocok jadi soundtrek pas baca ini tulisan. Duh saya jadi pengen nikah. #lah

  6. @Maudy: Ya nikah sana, punya anak, biar depresinya ilang. Atau paling tidak, jadi lain. 🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: