Surat Terbuka Untuk Kolak Pisang

July 1, 2014 at 7:42 pm | Posted in iseng, katarsis | 2 Comments
Tags:

Dear Kolak Pisang,

Ketika surat ini dituliskan aku berada dalam keadaan lapar dan haus. Setengah jam menjelang buka puasa. Ketika jalanan ramai oleh pasar kaget; oleh tajil; oleh bakwan, risol, asinan, es buah; oleh semua penganan yang hanya menggila pada bulan puasa. Dan kau, tentu, berada di antara mereka; kau berada di dalam toples besar itu, atau, oleh pedagang lain, disekap di dalam plastik-plastik bening—berjejeran di atas sebuah nampan di atas sebuah meja kecil. Kau mungkin sudah lupa; dulu aku biasa menyantapmu dengan hati yang lapang; sesudah habis puasa, sudah habis derita menahan lapar dan haus, dan kau begitu manis, begitu segar; begitu gurih, seperti kepahitan tak pernah ada; hanya ada kuah yang manis, pisang yang manis. Tahun ini adalah kali pertama aku berpuasa tanpamu—kali pertama puasa setelah aku dengan hati yang berat berkata pada diri sendiri bahwa tidak akan ada lagi pisang goreng dan kolek pisang dalam hidupku. Magh ini sudah akut, manis. Kau hanya akan membuat hidupku menjadi lebih sulit; tapi bagaimana bisa aku lupa pada setiap kecap manismu di bibirku ribuan hari yang lalu, ketika aku bisa makan apa saja; dan kau adalah satu dari sekian penganan berbuka yang selalu aku tunggu-tunggu? Kemarin, aku lihat kau di meja makan. Kau yang berwarna abu-abu; kau yang bermandi santan dan gula-gula; kau yang tidak pernah berhenti menggoda; kini hanyalah another makanan yang pernah aku makan, yang entah kapan akan aku makan lagi. Adakalanya terbersit keinginan untuk menyantapmu saja; dan berkata peduli setan asam lambung; tapi terbayang olehku beberapa tahun lalu ketika aku tersungkur di depan lift rumah sakit; dan kemudian muntah, dan kemudian setiap orang menatapku dengan iba, seolah hidupku tinggal barang sehari saja. Dan kau, kau yang hingga kini dikatakan oleh Internet sebagai obat magh; kenapa hampir selalu kau buat badai di dalam perut ini setiap kali aku biarkan kau berada di dalamnya? Sebagai makanan nasional, kau punya pamor yang luar biasa hebat. — Kau adalah kolak pisang. Kau adalah salah satu maskot besar dan ternama bulan puasa. Dan kau tidak akan habis ditelan masa hanya karena satu orang pesakitan yang pernah berkata bahwa ia tidak akan lagi makan kolak pisang. Aku juga sadar bahwa dalam cerita ini kau bukanlah pihak yang tersingkir; sementara di sini aku cuma bisa menggigit bibir, kelu oleh hasrat yang tertahan.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Saya nggak suka pisang dikolak, benyek, rasa & aromanya juga mendominasi kuahnya. u_u

  2. Alhamdulillah sy masih bisa makan kolak pisang, candil , rujak cuka, kerupuk banjur, bubur kampiun, es kelapa muda , mie cireng, ..hehehe *rewog🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: