Hipster Kaffah

June 26, 2014 at 12:19 am | Posted in iseng, katarsis | 2 Comments
Tags: , ,

DALAM kitabnya yang termasyhur at-Targhib wat-Tarhib ulama Damaskus Zakiyyuddin Abdul ‘Adhim bin Abdul-Qawiy bin Abdullah bin Salamah Abu Muhammad Al-Mundziri—atau biar lebih praktis lebih dikenal dengan nama belakangnya saja, Al-Mundziri—meriwayatkan hadist yang sangat bagus ini, saya parafrase sedikit: “Pada sejatinya Tuhan menyenangi mereka yang berbuat kebajikan, yang hidup dalam taqwa dan menyembunyikan amalnya, yang sekiranya mereka tidak ada (di suatu tempat) mereka tidak dicari-cari, dan jika mereka hadir maka mereka tidak dikenali. Hati mereka adalah pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap sudut yang gelap.” Pada versi lain, redaksinya dimulai dengan kalimat ini: Pada sejatinya Tuhan tak menyenangi orang yang senang mencari perhatian…”

at-targhib-wat-tarhib-de-al-mundhiri-authentifie-accents

kitab yang dimaksud

Dalam tradisi Islam, ada yang disebut dengan riya‘—yang adalah penyakit terburuk dari mereka yang ingin berbuat baik, yang ingin beribadah. Ini kurang lebih sama lah. Pada prinsipnya, orang yang hobinya mencari perhatian itu menyebalkan, bahkan Tuhan pun merasa begitu. Saya tidak tahu status hadist ini. Katanya mereka yang menulis di Internet sih—hasan. Hasan artinya apa saya lupa. Konon di bawah sahih. Tapi, ya, saya tidak tahu. Yang jelas, terlepas dari historisitas dan faktualitas hadist ini, saya senang sama matannya: bahwa ciri dari mereka yang disukai Tuhan adalah mereka yang tidak dicari-cari, mereka yang tidak dikenali. Sejak kecil, saya cenderung bersikap begitu. Saya tidak tahu alasan persisnya apa tetapi saya memang tidak pernah simpatik sama the cool kids, mereka yang populer di sekolah, mereka yang populer di mana saja, mereka yang apabila tidak ada selalu dicari-cari, mereka yang apabila ada pastilah dikenali dan ditegur semua orang. Salah satu alasan kenapa saya ngeblog anonim itu karena saya senang bersembunyi (meskipun boleh jadi ini tanda kalo saya insecure, atau mengidap agorafobia, sosiopat yang gila). Ini tentu saja konteksnya lain; saya tidak berbicara tentang orang yang berbuat baik, tetapi saya berbicara tentang sebuah sikap—bahwa dalam hidup itu selalu ada orang yang senang menonjolkan diri, yang kesenengan bila mereka dikenali saat mereka ada, dan dicari-cari saat mereka tidak ada. Kalo saya? Kebetulan saya selalu merasa hilang dalam keramaian. Saya tidak tahu apakah itu anugrah atau kutukan; tetapi hadist ini memberi kesan lain atas kecenderungan itu—bahwa Tuhan lebih menyukai tipikal orang seperti saya. 🙂 Walau, ya, tentu saja, ini pernyataan yang aneh. Karena segalanya ciptaan Tuhan, kenapa perlu ada pembedaan? Ya tapi Tuhan konon sudah bilang begitu. Dan pada kenyataannya memang setiap orang suka membeda-bedakan—sunatullah.

Dari kelas satu SD saya sudah underdog. Dari dulu juga saya lebih senang berada di pinggiran, jauh dari lampu sorot dan sorak-sorai orang-orang. Dan menurut saya baik mereka yang beramal salih, dan juga mereka yang pintar, dan juga punya selera musik atau film yang bagus, mereka hanya punya harga bila mereka tidak menonjolkan diri, tidak berupaya dengan cara apapun untuk tampak sebagai orang paling baik, orang paling pinter, orang paling punya selera—apalagi kalo mereka sudah jadi selebritas, sudah jadi begawan yang DICARI-CARI dan DIKENALI banyak orang! Bagi saya ini prinsip menjadi hipster kaffah; sekali Anda pamer selera—dus dalam seketika Anda menjadi manusia biasa, seperti kita semua yang doyan lagunya Wali dan Armada. Saya pikir benar kata Nabi, seperti dikutip Al-Mundiziri, mereka yang tidak sebegitunya menampakan apa yang membuat mereka tampak hebat di mata orang adalah mereka yang layak mendapatkan rispek. Tentu. Tentu saja. Ini tidak berlaku bagi mereka yang sengaja untuk tampak low-profile karena merasa superior dan butuh merendah karena menganggap orang lain inferior. Contohnya adalah anak ITB yang kalo ditanya kuliah di mana ngakunya kuliah di Bandung doang. Biar nanti ditanya: Di Unpad? Dan kemudian DER: bom ITB-nya meledak. Ya seperti yang sudah-sudah; ini mungkin sayanya saja; begini cara saya memandang dunia, sebagai underdog, sebagai orang pinggiran, sebagai orang yang tidak dicari-cari dan tidak dikenal. Meskipun hati kita orang mungkin tak layak disebut sebagai sebuah pelita petunjuk, dan, tidak seperti orang salih yang dicirikan oleh Al-Mundziri itu, saya mungkin selamanya tidak akan pernah keluar dari sudut yang gelap.

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Dari kelas satu SD saya sudah underdog. . . .

    . . . Bagi saya ini prinsip menjadi hipster kaffah; sekali Anda pamer selera—dus dalam seketika Anda menjadi manusia biasa

    Masbro… ente suka musik indie kah? ^^;;;
     
    *kabor*

  2. ah biarin 😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: