Masalahnya Tigapagi dan Banda Neira

June 1, 2014 at 7:56 pm | Posted in apresiasi, katarsis, musik, puisi | Leave a comment
Tags: , ,

00275507

Masalahnya mereka bukan Sapardi, tapi berupaya menjadi penyair gaek itu. Dan gagal. Musiknya sendiri sih bisa dimaafkan; mereka semua bisa main gitar, bisa nyanyi juga, tidak akan ada yang keberatan kalo mereka diminta nyanyi di kafe manapun. Atau masalahnya mereka memang dari sejak awal tidak ingin menulis puisi; tapi lirik lagu, yang ditulis buat dinyanyikan. Puisi dan lirik lagu apa ada bedanya? Apakah ‘bulan merah jambu’ dalam lirik lagunya Katon Bagaskara sebanding dengan ‘bulan di atas kuburan’ dalam sajaknya Sitor Situmorang? Entahlah. Yang jelas, musikalisasi sajak Soebagio yang berjudul ‘Rindu’ oleh Banda Neira menurut saya lumayan; musik dan liriknya. Itu artinya, menurut saya, ada masalah bila Banda Neira menulis liriknya sendiri. Memang susah jadi penyair jaman sekarang. Apalagi kalo tak mampu lepas dari pengaruh Sapardi, Soebagio dan Rendra. Untuk meniru mereka saja susah. Apalagi melampaui mereka. Apalagi kalo Anda bukan penyair, tapi musisi saja—masih baru pula. Tigapagi, disebutkan dalam sebuah review, sebagai band yang serba kelam dan gelisah. Tapi liriknya tak bisa membangkitkan rasa itu. Musiknya sih mungkin bisa; meski tak maksimal. Tapi liriknya hambar dan sama sekali tidak mewakili perasaan kelam atau perasaan gelisah. Padahal, kalo memang Tigapagi mau bawa zeitgeist 1960-an, saya membayangkan sebuah sontrek dari cerpen-nya AA Navis yang berjudul ‘Angin dari Gunung’. Tapi saya kira tidak gampang untuk bisa menuliskan perasaan-perasaan dalam cerpen itu, kecuali bila Anda betul-betul seniman handal, atau Anda pernah mengalaminya sendiri. Mungkin karena saya orang Jakarta dan mereka menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar—tanpa dialek manapun, bahkan dialek Jakarta pun tidak. Jadi entah gimana lebih sulit buat saya untuk menganggapnya otentik atau sekedar lain. Kalo Semakbelukar sudah kaya dengan istilah Melayu yang bikin segar. Meskipun, susah untuk tidak bilang Semakbelukar lebih handal dalam merangkai kata—diksinya, muatan maknanya jauh terasa lebih puitis. Kalo Tigapagi dan Banda Neira itu sampe berkali-kali saya denger beberapa lagu mereka tak juga mengerti saya mereka lagi nyanyi apa. Kali saya harus mendengar lagu mereka lebih lama. Kali nanti bisa mengerti. Kali nanti saya berubah pikiran. Yang jelas sekarang ini (setelah PS, Sore dan Float) saya belum lagi dapat dengar band indie Jakarta/Bandung/Yogya yang bisa buat saya merasakan apa yang mereka coba hidupkan, apapun itu. Mudah-mudahan sih bukan kebahagiaan dan keriangan. Karena itu bakalan susah. Karena saya pikir yang seni itu biasanya lahir dari sepi, sedih dan marah.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: