Semakbelukar, Koil dan Izzatul Islam

May 23, 2014 at 2:10 am | Posted in katarsis | 4 Comments
Tags: , , ,
index

Semakbelukar

Jangan salah. Saya bukannya anti-lagu patah hati. Tapi memang tidak melulu lagu-lagu dituliskan untuk mereka yang lagi merengek-rengek meminta cinta. Tidak sedikit orang yang menulis lagu serius, lagu politik yang padat kritik sosial. Sebut saja Iwan Fals atau Bob Dylan, yang paling populer. Tidak sedikit juga lagu-lagu yang bernuansa relijius, dituliskan sebagai persembahan bagi yang maha kuasa, atau sebuah elegi untuk dosa-dosa yang terus-menerus kita ulangi. Akan tetapi, dari ‘bukan lagu cinta’ yang memang tidak sedikit itu, hanya segelintir saja yang menurut saya berhasil mengawinkan yang seni dan yang politis, yang seni dan yang spiritual, yang seni dan yang filosofis. Hanya sedikit sekali seniman yang menurut saya berhasil menggugah orang untuk turun ke jalan menuntut revolusi atau menangisi dan mengamini apa saja yang hendak dilukiskan melalui lagu-lagu mereka, yakni lagu-lagu yang tidak dituliskan dalam semangat seni untuk seni, lagu-lagu yang, bila merujuk pada kritik seniman Lekra, lebih dari sekedar air mani hasil masturbasi kebudayaan.

Satu hal, seniman tidak harus pinter banget; seniman tidak harus fasih idealisme Jerman untuk bisa menghasilkan suatu karya yang kental nuansa filsafatnya. Malah, seniman yang jago filsafat kebanyakan berakhir menjadi penulis/seniman yang buruk. Sebut saja Sartre. Atau Ayn Rand. Oh Ayn Rand, siapa suka novelnya? Itu sebabnya, kadang seorang artis tampak lebih pintar dalam karyanya ketimbang ketika ia berbicara kepada media masa atau khalayak ramai. Contoh paling nyata adalah Ahmad Dhani dan Rhoma Irama. Kurang goblok apa mereka kalo kalo ngomong di televisi; tapi harus diakui kalo banyak dari karya mereka, biarpun dianggap plagiat sana-sini, bukanlah karya yang bisa dibilang jelek. Tapi mungkin bukan cuma Rhoma dan Dhani. Hingga kini, misalnya, saya tidak menganggap Iwan dan Dylan sebagai orang-orang yang cerdas di luar musik mereka. Iwan kadang tampak begitu naif, sementara Dylan begitu angkuh dan pongah. Tentu saja, itu tidak menjadi soal. Karena yang terpenting bagi saya adalah karya mereka; karya yang menurut saya, ya, bagus.

Oke, saya tidak ingin menulis tentang Dylan atau Iwan di sini, tentu saja. Sudah banyak yang menulis itu. Lagian, pendapat amatiran saya tidak akan ada artinya apa-apa di tengah lautan opini terpelajar mengenai dua ikon budaya pop itu. Di sini saya ingin bicara tentang Semakbelukar, band asal Palembang. Bagaimana saya melihat David Hersya, sebagai otak di garda depan Semakbelukar, menulis musik bukan hanya sebagai hobi dan keisengan, tetapi sebagai ungkapan keyakinannya sendiri, sebagai orang Melayu, sebagai orang Islam. Dia menyadarkan saya bahwa nasihat dalam sebuah karya seni itu tak melulu jelek dan out of place; bahwa memercayai nilai-nilai tradisional yang sudah berabad-abad usianya itu tidak melulu terdengar dangkal dan norak; bahwa menjadi serius, betul-betul serius, tak selalu berarti membosankan. Saya pikir David itu lebih seperti Bach, yang relijius dan serius, ketimbang Mozart, yang suka pecicilan riang kemari. Tidak heran, bila ada di antara lagu David (coba dengar: ‘Sejuknya Matahari’) yang terdengar seperti fugue-nya Bach. Setidaknya di telinga saya. Anyway, kenapa Semakbelukar saya bilang band serius?

(tidak) Seperti Koil dan Izzatul Islam

Maksud saya begini. Orang bisa saja serius dalam berkesenian; tetapi karyanya sama sekali tidak mengandung keseriusan. Benyamin S, misalnya.  Atau bisa saja musiknya itu terdengar sangat serius, bercerita tentang nasionalisme dan kemiskinan dan penderita kanker atau apa lah, tetapi si penulis lagu tidak terlalu mempercayai apa yang dia tulis; dia hanya ingin bikin lagu bagus, laku dan kemudian terkenal dan kaya raya. Ini tidak apa. Bukan salah atau apa. Hanya saja, Semakbelukar itu berbeda. David itu serius menulis lagu tentang persoalan serius yang adalah merupakan cerminan dari ideologinya, dari kepercayaannya. Kalo merujuk pada sejarah hidup dan pengetahuan musik saya yang sangat pas-pasan, Semakbelukar berada di antara dua kelompok musik yang berlainan habitat ini: Koil dan Izzatul Islam.

koil-band-art

dari fery-dedi.blogspot.com

Koil adalah band metal dari Bandung. Mereka suka pernak-pernik dan segala simbol yang mencitrakan mereka sebagai nihilis, anarkis dan bahkan satanis. Sementara Izzatul Islam adalah boyband para pendukung PKS dan HT yang hendak membangkitkan semangat orang Islam untuk berjihad. Saya suka Koil bukan karena gaya mereka di panggung. Tidak pernah seumur hidup saya nonton konser Koil. Tapi saya suka musik dan lirik yang mereka buat. Setiap kali saya marah dan jengah dengan persoalan moral dan tingkah laku mereka yang fasis dalam beragama saya selalu mencari ketenangan pada bunyi distorsi dan suara kemarahan lagu-lagunya Koil. Menurut saya album Megaloblast itu luar biasa. Lagu-lagu seperti ‘Dosa Ini Tidak Akan Berhenti’ atau ‘Apa Yang Kita Percaya’ adalah lagu-lagu yang punya nuansa agama yang kental. Itu karena saya merasa mereka betul-betul serius dalam menuliskan lagu itu (Meskipun Koil sendiri bilang kalo lagu mereka itu bukan lagu serius dan jangan dianggap terlalu serius). Hal yang sama juga dilakukan oleh Izzatul Islam. Meski saya lupa banyak dari lagu mereka dan kasetnya sudah hilang entah kemana, saya ingat dan tahu betul bagaimana group nasyid ini bernyanyi dan menulis lagu untuk menyatakan iman mereka, iman yang politis. Ada satu lagu mereka di Youtube yang judulnya ‘Kami Harus Kembali’. Dalam lagu itu mereka semangat membakar semangat mujahid.

Koil dan Izzatul Islam adalah band yang bergelut dengan persoalan-persoalan serius. Yang satu anarkis, yang satu lagi Islamis. Yang satu mungkin lebih serius dalam menulis lagu ketimbang ‘berdakwah’, sementara yang lain sebaliknya: lebih serius berdakwah, malah main-main dalam berkesenian. Akan tetapi, sebagai pria berusia 30-an yang sebentar lagi punya anak dua, sulit bagi saya untuk menganggap mereka secara serius. Karena bagaimanapun garangnya Koil, betapapun menggodanya berteriak-teriak ‘dosa ini tidak akan berhenti’, ada kesan bahwa sikap memberontak dengan musik yang menggelegar ini hanya bisa dianggap pantas pada usia 20-an. Apalagi Izzatul Islam, siapa pula yang mau berangkat ke medan perang, di zaman kayak gini ketika segalanya mengabur: yang Islam lebih kafir dari yang bukan Islam, yang kafir lebih Islam dari yang bukan kafir?

Saya percaya Izzatul Islam serius ketika mereka menuliskan lirik: ‘Mereka atau kami binasa. Bergelar syuhada hidup di jalan mulia.’ Tetapi bagaimana pula saya tidak melihat mereka secara komikal, sebagai potret fanatisme agama yang tercerabut dari keseharian? Saya kira, pada usia saya saat ini, saya membutuhkan keseriusan yang lain. Dan Semakbelukar, dalam kesederhanaan mereka, menawarkan ‘keseriusan yang lain’ itu.

Nasyid, Sartre, Nirvana, Bach

Semakbelukar adalah band yang sudah matang ketika dia dikenal luas di luar Palembang. Jadi, band ini tidak punya debut yang bisa digunakan sebagai titik tolak untuk bercerita tentang sejarah dan perkembangannya. Kalo pun ada debut, si David ini sudah berevolusi menjadi seorang yang lain. Itu kali sebab tidak lama setelah album Berlayar di Daratan, Semakebelukar bubar. Ini patut disayangkan, tapi tidak bisa dihindari juga. Ketika EP Be(re)ncana dirilis di Internet dan Semakbelukar mulai eksis di skena musik Indonesia, David sudah menuliskan lagu-lagu serius yang saya maksud; lagu-lagu yang layak dijadikan bahan renung, lagu-lagu yang mengatakan kepada kita bahwa sang penulis sudah melewati semua tahapan hidup itu: masa ketika seseorang harus bergelut dengan krisis eksistensial, masa ketika seorang ingin memberontak melawan kemapanan, masa ketika seseorang ingin menulis lagu cinta paling manis untuk perempuan yang juga paling manis seantero negeri (coba dengar ‘Kemarin, Hari Ini dan Esok’—sekilas ada bau Nirvana dan Weezer di sana, tapi lagunya enak jadi bisa dimaafkan). Sejarah hidup David bisa kita baca pada album antologi Semakbelukar yang baru saja dirilis oleh Elevation Records. Bunga rampai ini berisi dua album terakhir Semakbelukar dan sepilihan lagu yang dituliskan pada, katakanlah, masa-masa ‘kegelapan’ dalam hidup David. Di situ kita bisa dengar lagu ‘Nausea’ dan ‘No Exit’ yang menyengat bau Sartre dan Camus-nya. Ada juga satu lagu yang judulnya ‘Get Out of My Face’ yang akan membuat anda bertanya-tanya apakah David bekepribadian ganda. Kalo saya agak-agak, David ini seperti banyak musisi mainstream yang lelah bermusik dan kemudian menemukan ketentraman pada agama. Bedanya, David terlalu berbakat untuk sekedar bikin lagu Ramadhan. Keislaman dia malah bikin dia lebih kreatif dan memberi kelebihan pada musik yang dia buat. Harus diakui, lagu-lagu seperti ‘No Exit’ itu memang bagus, tapi tidak terlalu unik, sudah banyak lagu setipe dari band indie Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Tapi lagu ‘Kalimat Satu’ atau ‘Mekar Mewangi’ itu lain dari yang lain.

Setiap seniman pasti lah eklektik: mengambil inspirasi dari sana sini, comot lirik dan melodi dari sana sini. Lagu Izzatul Islam itu yang adalah lagu nasyid saja misalnya, tidak bisa sepenuhnya dibilang Islam dan anti-Barat. Ketukan iramanya 100 persen barat, malah, bukan Islam. Itu lagu mars, yang juga biasa dinyanyikan tentara merah di zaman kejayaan Sovyet dulu. David pun eklektik. Sejarah hidupnya mengabari kita bahwa selera dan pengetahuan musiknya itu luas. Tetapi karya-karya David bukan tipikal karya musik jazz atau world music yang sekedar menyisipkan bebunyian tradisional di tengah dominasi musik modern (saya membayangkan Krakatau di sini). Sekilas memang lagu-lagu terakhir David bisa terdengar sebagai lagu nasyid semata (ada lagu jihad di sana, meski David tidak pernah menyebut jihad; pun ada banyak lagu tuhan di sana; meski tidak pernah sekalipun David menuliskan kata Allah dalam lirik lagunya). Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa ada yang tersisa dari eksistensialisme dan semangat indie David dalam karya-karyanya yang bernuansa Melayu itu, sesuatu yang membedakan si David dari lazimnya musisi jazz/indie/Melayu di skena musik lokal. Ada romantisisme Bach di situ, juga pemberontakan Camus, terselip dalam tradisionalisme atau katakanlah Islamisme a la David Hersya.

Semakbelukar jelas-jelas bukan tipikal band indie kelas menengah urban. Mereka tidak ingin ceramah tentang HAM atau pemanasan global. Mereka tidak bicara tentang isu-isu kelas menengah di perkotaan yang bangga jadi vegetarian. Karya-karya terakhir Semakbelukar adalah sebuah nasihat bagi diri; sebuah kritik atas tabiat anak manusia yang kian hari kian buruk, semakin beruk. Lagu-lagu seperti ‘Seloka Beruk’ atau ‘Hikmah’ itu bukan sekedar untuk gaya-gayaan. Ada pesan di sana. Dituliskan secara gamblang tanpa ada upaya menjadi kriptik dan sok nyeni. Tentu saja sekedar serius saja bukan berarti bagus. Tidak harus begitu, memang. Kelebihan Semakbelukar tidak hanya terletak pada kemampuan mereka untuk melampaui yang modern dan yang dianggap keren dengan berpijak pada kesenian dan kebudayaan yang tradisional dan katrok. Tapi pada sensibilitas pop David yang luar biasa. Pendek kata, lagunya enak didengar dengan lirik yang sama catchy-nya. Itu artinya David pun serius dalam upayanya menulis karya seni yang bagus, bukan karya seni yang asal jadi, asal terdengar seperti musik, biarpun datar dan tak menarik musik dan liriknya. Seperti Koil dan Izzatul Islam, Semakbelukar itu band serius yang menyanyikan lagu serius. Tetapi apa yang mereka hasilkan bukanlah komik, bukan karya yang terdengar amatir dan kekanak-kanakan. Karya mereka adalah betul-betul musik serius yang layak diseriusi. Coba dengar lagu ‘Lebah’. Ini jelas lagu inspirasinya dari surat al-Nahl, dari al-Qur’an. Siapa yang mau main-main dengan al-Qur’an? Kurang serius apalagi si David dengan karyanya?

Advertisements

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. lagu-lagu Melayu bukannya emang selalu berisi nasihat ya? kadang terlalu sederhana seperti menyuruh sembahyang 🙂

  2. hahaha iya. sajak melayu memang isinya nasehat. tapi untungnya puitis. jadi tidak menyebalkan. 😛

  3. Seharusny merujuk damai.

  4. syeit, gugel lirik koil malah saran pertama yang muncul link blog ini. wew


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: