Buatmu, Kawan

April 28, 2014 at 8:38 pm | Posted in katarsis | 4 Comments
Tags: , ,

Alex,  

Kau tidak keberatan, Lex, aku harap. Aku buat lagi surat terbuka buat kau, sobat. Tapi ini kali aku tak ingin berbagi gelisah, seperti waktu mau berkahwin dulu—haha, waktu itu aku betulan menulis hanya karena selisih sehari saja kita mengucap ijab-kabul. Kau di Aceh, aku di Jakarta. Padahal, hanya sekali kita bertemu-muka—waktu itu pun aku tak ingat betul seperti apa kau punya wajah dan rupa (aku hanya ingat kau berantakan). Tapi begitu, kau masih berbaik hati untuk menulis surat balasan—lebih panjang pula.

Aku lupa kapan aku kenal kau. Entah bagaimana pula aku merasa perlu untuk menulis lagi ini. Setelah sekian lama. Kali, itu karena aku sering kali melihat kau sebagai diriku yang lain. Bahwa kita dilahirkan pada tahun yang sama, pada bulan yang sama, juga menikah pada bulan yang sama, adalah sedikit saja dari banyak hal yang membuatku berpikir—bahwa mudah sekali bagiku, Lex, untuk melihat hidupmu dan bercermin; seolah kita diantarkan ke dunia yang serba galat ini oleh gerbong nasib yang sama: kebetulan saja kau turun di Aceh, dan aku turun di Jakarta. Sejarah, juga jarak, lalu buat kita jadi orang yang berlainan dalam banyak hal. Tapi selama kita kenal tak pernah perbedaan itu terasa runcing, sampai mungkin beberapa waktu belakangan ini. Aku pikir kita berdua sama-sama sudah jadi bapak, sama-sama sudah disibukkan dengan soal-soal domestik, sehingga tak ada lagi persoalan ideologi yang perlu jadi ganjalan di  hati juga kepala. Aku pikir kita biasa mengejek mereka yang sok paling liberal, sok paling Islam, sok paling kota—entah bagaimana, aku pikir kita berada di kotak yang sama, lagi, sampai beberapa waktu belakangan ini, ketika sejarah hidup kita mulai saling menikam, dan apa yang sebetulnya hanyalah sebuah opini, berubah jadi persilangan paham yang terasa begitu personal, begitu prinsipil.

Kau dilahirkan dan dibesarkan—secara teknis, paling tidak—dalam situasi perang. Sudah begitu ditambah pula dengan bencana alam yang lebih dahsyat dari bencana alam manapun selama kita hidup. Aku dilahirkan di Jakarta pada masa keemasan Orde Baru, ketika korupsi merajalela, ketika yang protes dibungkam, ketika otak publik terkubur dalam kebodohan politik masal. Di masa kanak, aku hidup damai dalam kebodohan masal itu, Lex. Sementara kau hidup dalam teror. Bahwa kini aku bekerja pada sebuah surat kabar yang doyan ceramah soal kebebasan sipil dan demokrasi, sementara kau bisa dibilang selebritas blog (kau jadi panutan beberapa bloger muda di Aceh, tak bisa dielakkan itu, Lex) yang percaya pada keharusan menegakkan syariah, adalah mungkin sebuah keharusan sejarah yang kita berdua tidak bisa elakkan. Bila kita berdua bertukar tempat, kali kau sudah jadi kelas menengah ngehe di Jakarta, dan aku mungkin sudah melamar kerja jadi polisi syariah. Siapa yang tahu. Kita adalah, aku kira kau setuju,  hasil tenun dari alam dan masyarakat kita, biarpun sering kali kita berpikir kalo yang namanya masyarakat itu guoblok setengah mati. Pada akhirnya kita mesti jadi bagian dari suatu masyarakat, dengan segala konsekuensinya, dan di sini kita berpisah jalan. Kau mungkin jengah dengan segala berita miring dan salah kaprah dari media Jakarta dan asing tentang syariat di Aceh. Dan aku pun jengah dengan perilaku politisi dan penegak hukum yang main-main dengan kuasa untuk merampas hak pribadi. Aku begitu mencintai kebebasan, yang dibatasi hanya oleh hilangnya kebebasan orang lain. Dan kau menginginkan kebebasan untuk berlaku seperti yang diperintahkan Islam, setidaknya Islam yang kau anut, Islam yang kau pelajari dan percayai. Kalo aku mau berkata jujur, Lex, melihat perbedaan ideologi  kita pada saat ini, aku senang kita tidak tinggal di negara yang sama (kekhususan Aceh, dalam hal syariah, membuat Aceh negara yang berbeda menurutku), bahwa aku tidak tinggal di Aceh dan kau tidak di Jakarta untuk jualan syariah, berjuang secara politik untuk menegakkan syariah. Karena kalo aku tinggal di Aceh pada saat ini; aku pasti memilih pergi, atau setidaknya berupaya pergi atas nama prinsip.

Nasib siapa yang tahu memang. Bahwa kita berkawan, dan punya cita yang berlawanan tentang hidup dan masyarakat yang ideal. Lex, aku selalu ingat empat penjara yang pernah disebutkan Ali Syariati dulu; dan bertanya, aku ini apakah sudah bisa membebaskan diri dari penjara-penjara itu: sejarah, alam, masyarakat, ego? Aku harap kau hidupi hidupmu secara otentik, Lex—bahwa syariah yang kau bela, dan keadilan yang kau anut, adalah hasil olah pikir dan renungmu yang betul-betul kau percayai dan kau pertanggungjawabkan; bahwa dalam keterikatan kita pada empat penjara itu, ada yang bebas dan otentik dari pilihan hidup kita. Dan aku pun berharap kau mengerti bahwa nilai-nilai liberal dan humanis yang aku anut bukan sekedar ideologi-ideologian, hasil renung asal-asalan, bukan untuk gaya-gayaan. Kita memang bukan pemikir besar, Lex. Tak bisa aku kutip Pramoedya atau Goenawan dalam surat ini; sama sekali tak paham aku juga dengan segala pemikiran politik kontemporer, meski di Internet kini segalanya ada: yang pintar filsafat, yang rajin baca buku kiri, yang sudah berbusa ngomongin kebudayaan dan politik dan pembantaian 1965. Aku hanya tau bahwa manusia harus dimanusiakan dan bahwa keadilan adalah produk olah pikir manusia yang senantiasa berubah. Aku lebih tak paham lagi soal syariah, Lex. Kalo aku baca sejarah syariah, yang kutemui hanya kekonyolan. Mungkin aku bias. Mungkin aku kurang berusaha dalam memahami Islam dan syariah. Dan aku harap kau tak serta-merta merendahkan humanisme sekuler hanya karena tidak ada wahyu tuhan di sana. Pijakan kita memang tak sama: Kau Tuhan-sentris, aku Manusia-sentris. Meski begitu, aku yakin dalam keyakinanmu kau menempatkan manusia pada posisi mulia, dan aku ingin kau pun percaya bahwa dalam kebingunganku pada agama Abrahamik, aku bukan anti-tuhan, anti-agama.

Kita berdua sudah punya keluarga. Kau ada Raza, aku ada Kala. Aku pikir tidak ada alasan kita berdua menginginkan dunia yang lebih buruk buat anak-anak kita. Kita memang bersilang jalan. Tapi aku harap itu tidak membuat yang satu menjadi lebih jahat atau lebih baik dari yang lain. Aku tahu kau masih dengar Julian Casablanca, Lex, dan aku pun masih simpan buku sirah nabawiyah dan beberapa kopi al-Qur’an yang mulia. Mudah-mudahan aku tak perlu dengar suatu hari kau haramkan musik dan tak lagi berbagi musik bajakan. :)) Tapi nasib siapa yang tahu. Kau sudah duga, aku kira, kalo aku ini bukan orang yang pandai berkawan; entah sudah berapa teman yang sudah tak lagi menjadi teman. Ada alasan kenapa aku lebih suka kelayapan di warkopolo ketimbang warung kopi betulan.

Senang berkawan denganmu, Lex.

Godspeed!

Advertisements

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Manusia-sentris, Tuhan-sentris.
    Percaya atau tidak, ane sekarang juga agak Tuhan-sentris. Sepertinya ini reaksi akibat melihat aksi Tuhan. Lebih berdasar takut daripada cinta. Entah bagaimana efeknya buat rata-rata manusia waras, tapi buat ane ini bikin ane lebih tidak menghargai nyawa manusia. Wabil khusus manusia dzolim. Jadi berasa lebih tegaan. Ane bukan nyamain diri sama Alex, itu tak tau diri namanya; apalagi toh aksi Tuhan yang dilihatnya lebih masif daripada yang ane lihat. Tingkat iman pada saat terpapar aksi juga beda. Mungkin ini sekedar trauma ketuhanan ringan, yang pada banyak orang berbuah ateis tapi pada sebagian lain malah berbuah hidayah.

    Ane termasuk pendukung hukuman kapital, untuk alasan yang kurang ada hubungannya dengan syariah : sistem penjara kita tidak beres, dan tidak mampu menyamakan hak-hak sipil orang terhukum. Pada saat status sosial masih berlaku di dalam bui, kaya di luar penjara tetap berarti kaya di dalam penjara, dan si kaya tetap dapat perlakuan khusus, maka penjara menjadi mubazir. Langkah logisnya tentu perbaikan sistem, tapi itu sudah terdengar lebih basi dan lebih hambar daripada kopi starbucks. Harus ada langkah drastis, karena yang kita butuhkan adalah perubahan drastis. Kita tidak punya waktu untuk berhenti sebentar dan menengok hakikat kemanusiaan kita. Tidak bisa, karena anak kelahiran 1998 sedang melihat betapa menjadi jahat itu ternyata tidak ada ruginya. Pendidikan sedang gagal, penanaman nilai-nilai sedang gagal, pemanusiaan manusia sedang diambang gagal. Kita harus bereskan hukum, karena di seluruh penjuru bumi sudah terbukti lebih sedikit manusia yang enggan menjadi jahat karena punya nilai-nilai, daripada yang enggan jahat karena takut hukuman; baik hukuman sesama manusia atau hukuman Tuhan.

  2. [blockquote]aku kira, kalo aku ini bukan orang yang pandai berkawan; entah sudah berapa teman yang sudah tak lagi menjadi teman. Ada alasan kenapa aku lebih suka kelayapan di warkopolo ketimbang warung kopi betulan.[/blockquote]
    Somehow I agree..

  3. @fritzter: buat sebagian orang, aku termasuk, yang terpenting dilakukan saat ini adalah reformasi hukum. memastikan sapu itu bersih. @Mrs. R: ya begitulah

  4. seperti dostoevski berseru, ‘manusia adalah budak dari ideologi yang mereka anut.’ tapi sebijak-bijaknya manusia adalah mereka yang merasa bahwa dirinya tidak tahu apa-apa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: